Terbengkalai, “Kurok-kurok” Jepang di Sigli

Galeri

Desa Benteng terletak sekitar 1 km dari pendopo bupati Pidie. Desa ini menghadap Selat Malaka. Banyak benteng peninggalan Jepang di sini tergelak begitu saja, tak terurus. == “Masyarakat setempat menyebut benteng pertahanan Jepang ini sebagai kurok-kurok,” Dr. Husaini Ibrahim, MA, arkeolog … Baca lebih lanjut

Bener Meriah – Lhokseumawe Tembus 2 Jam

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

“Masih terdapat sekitar 12 km lagi yang belum teraspal. Di situ agak sulit dilalui, masih tergeletak bebatuan ukuran besar di badan jalan. Kami berharap agar ruas jalan ini dapat dirampungkan dan diresmikan akhir tahun ini,” Awaluddin , petani merangkap pedagang hasil … Baca lebih lanjut

Dakwah di Warkop, Ikrar Syahadah di Masjid Peunayong

Galeri

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengucapkan dua kalimah syahadah?”, tanya saya kepada Rahmat. “Sangat bahagia. Saya bagai terlahir kembali dalam keadaan suci. Hidup baru telah dimulai,” jawab Rahmat mantap.   Jumat tanggal 3 Juli 2015 bertepatan 16 Ramadhan 1436 Hijriah menjadi … Baca lebih lanjut

Dakwah di Warkop, Ikrar Syahadah di Masjid Peunayong

Galeri

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengucapkan dua kalimah syahadat?”, tanya saya kepada Rahmat. “Sangat bahagia. Saya bagai terlahir kembali dalam keadaan suci. Hidup baru telah dimulai,” jawab Rahmat mantap. Jumat tanggal 3 Juli 2015 bertepatan 16 Ramadhan 1436 Hijriah menjadi awal … Baca lebih lanjut

Saiful Arungi Empat Sungai untuk Cari Nafkah

Istimewa

“Kami terpaksa mengarungi empat sungai agar dapat sampai ke Pinding. Kalau sesampai disana lalu turun hujan, maka kami harus nginap berhari-hari di Pinding sampai air sungai turun dan jalan mengering,”

= Saiful =

Pedagang hasil alam di Pinding

 = = = = = =

“Semoga pemerintah memperhatikan kami yang mencari nafkah di pedalaman Aceh Timur hingga Gayo Lues. Apalagi, kami dengar Aceh punya banyak dana, terutama dana otsus untuk membangun infrastruktur,”

= Anwar =

Pedagang sandal di lintasan Atim – Galus

 

Sore itu, dua orang lelaki dewasa tampak berdiri dan bincang-bincang di sebuah pasar di pedalaman Aceh Timur, tepatnya di Gampong Lapangan Heli, Kecamatan Serbajadi. Tim Tabangun Aceh yang sejak siang menelusuri jalan tembus Aceh Timur ke Gayo Lues itu tertarik untuk mengetahui isi pembicaraan mereka.

Ketertarikan ini bukan tanpa sebab. Kedua pria itu berbincang serius sembari menjaga barang dagangan mereka yang dijejerkan di bahu jalan dan dalam mobil pick up. Keduanya diyakini mengetahui betul seluk beluk jalan mulai dari Gampong Besa (pinggir jalan raya Medan Banda Aceh di kawasan Peureulak) hingga Penarun dan Lokop (Aceh Timur) bahkan Pining (Gayo Lues).

Anwar (37) dan Saiful (40) adalah dua dari sekian warga yang hampir saban hari wara-wiri di lintasan jalan tembus Aceh Timur – Gayo Lues via Lokop. Keduanya adalah warga Peudawa Rayeuk (Aceh Timur) yang berprofesi sebagai pedagang yang berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain di sepanjang jalan itu.

Anwar berdagang sandal, sepatu, dan pakaian jadi. Dia menjajakan dagangannya mulai dari Krueng Tuan, Hapangan Heli, Peunarun hingga Lokop. Sementara Saiful menggeluti bisnis hasil alam dari dan ke Atim – Galus.

Sehari-hari Saiful mengantar kebutuhan warga Pinding seperti ikan, kelapa, dan lain-lain. Saat pulangnya dia mengangkut hasil alam dari Galus seperti pinang, cokelat, cabai hingga besi bekas. Semua itu dilakukannya dengan mobil pick up Panther keluaran tahun 1990-an yang telah diesangi velg dan roda ukuran besar.

“Untuk mobil biasa jangan coba-coba menuju Pinding, tak akan lewat. Begitu juga sepeda motor, harus yang ukuran besar,” kata Saiful dalam bincang-bincang dengan Tabangun Aceh, Senin (30/3/2015) di Lapangan Heli, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur.

“Sebenarnya perdagangan di jalur Aceh Timur – Gayo Lues ini sangat menjanjikan. Bisnis timbal dapat kita lakukan. Namun sayang, kondisi jalan menjadi hambatan utama bagi kami di sini,” kata Saiful.

“Lihatlah, sepanjang jalan mulai dari Gampong Besa hingga kemari (Lapangan Heli, red) rusak berat. Kalau ke depannya lagi hingga ke Pinding jauh lebih parah. Semoga pemerintah memperhatikan kami yang mencari nafkah di pedalaman Aceh Timur hingga Gayo Lues. Apalagi, kami dengar Aceh punya banyak dana, terutama dana otsus untuk membangun infrastruktur,” sambung Anwar.

Dikatakan Saiful, kondisi jalan dari Lokop ke Pinding sangat hancur, selain banyak bebatuan juga berlumpur kalau hujan. “Tidak hanya itu, disana terdapat empat sungai yang belum memiliki jembatan,” kata pria dua anak ini.

“Kami terpaksa mengarungi empat sungai agar dapat sampai ke Pinding. Kalau sesampai disana lalu turun hujan, maka kami harus nginap berhari-hari di Pinding sampai air sungai turun dan jalan mengering. Saat-saat seperti ini kami harus siap menanggung resiko. Cabe yang sudah kami beli akan busuk,” Saiful mencontohkan.

Bagi Saiful, Anwar dan pedagang lain yang lalu lalang di lintasan Aceh Timur – Galus pembangunan jalan dan jembatan di sana sama artinya pemerintah telah menciptakan lapangan kerja bagi mereka.

“Kalau pemerintah mau membangun jalan dan jembatan disini, maka kesejahteraan kami akan meningkatkan. Usaha dagang akan lancar, petani pun akan untung karena harga jual produknya ikut meningkat. Saat kami sejahtera, maka kami akan sanggup membiayai hidup keluarga, menyekolahkan anak-anak hingga membayar pajak kendaraan yang akan memberi umpan balik bagi pembangunan,” ujar Saiful.

Jarak dari Gampong Besa (Peureulak, Aceh Timur) ke Lokop sekitar 100 km, dari Lokop ke Pinding (Gayo Lues) sekitar 40 km. Jadi, jarak dari jalan raya negara di Peureulak ke Pinding sekitar 140. Saat ini, dengan kondisi jalan rusak, membutuhkan waktu tempuh antara 9-10 jam. Padahal, jika kondisi jalan bagus, ia dapat ditempuh dalam tempo 2 jam saja. (hasan basri m nur)

Dimuat Tabloid Tabangun Aceh, edisi 45/April 2015

Nurdin Juned, Petani Berdasi di Pegunungan Saree

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

“Pakan ternak kami mampu bersaing dengan produk manapun, baik dari segi kualitas maupun harga. Kalau ada produk lokal yang berkualitas mengapa mesti bersusah payah mencari produk dari luar?,” kata Nurdin   Harga jual jagung di pasaran yang rendah telah mengubah … Baca lebih lanjut

Rasyidi, Hidup Makmur dengan 450 Ekor Lembu

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

Rasyidi memiliki 400 ekor lembu plus 50 ekor kerbau. Harga jualnya berkisar antara 15 – 25 juta untuk lembu lokal, sementara untuk bibit unggul bisa mencapai 25-45 juta per ekor. PRIA paruh baya itu duduk di halaman teras rumah gubuk … Baca lebih lanjut

Islam Adikuasa Dunia di Masa Umar bin Khattab

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

Oleh :  HASAN BASRI M NUR Bizantium dan Persia adalah dua negara super power yang sudah ada sejak sebelum Islam datang. Sebagian wilayah jajahan Bizantium seperti Palestina dan Suriah ditaklukkan oleh Umar. Ini artinya adikuasa Bizantium telah dilemahkan oleh Umar. … Baca lebih lanjut

Dana Otsus Muluskan Hubungan Takengon – Nagan

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

“Dulu butuh waktu dua hari untuk pulang ke Nagan. Naik bis di Takengon pada pagi hari dan sampai di Banda Aceh malam hari. Menginap di Banda satu malam dan besoknya baru berangkat lagi via Meulaboh,” Ibnu Hasan (70), Warga Celala, Aceh Tengah … Baca lebih lanjut