Islam Agama Kaya

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

Oleh: HASAN BASRI M.NUR MESKI sebagian besar penduduk muslim di dunia hidup dalam lilitan kemiskinan, tapi sesungguhnya agama Islam tidak menghendaki penganutnya menjadi orang-orang miskin. Islam adalah agama yang mendorong penganutnya agar menjadi orang-orang kaya dan cerdas. Selain mendorong umatnya … Baca lebih lanjut

Home Industry Mampu Tekan Angka Kemiskinan

Jika digarap dengan benar, industri rumah tangga mampu menurunkan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan sesuai visi Millenium Develompment Goals (MDGs). Kabupaten Pidie Jaya dengan home industry andalan kue ade terbukti mampu mengurangi jumlah penduduk miskin di kabupaten yang kini dipimpin M Gade Salam itu.
Pj. Kabid Perencanaan Pembangunan Ekonomi Bappeda Pidie Jaya, Muhammad Rabiul, ST, MT, menyebutkan, saat ini di Pidie Jaya tercatat 15 pengusaha kue ade, dengan tingkat produksi 2000 – 2500 kota per hari dan dipasarkan dengan harga Rp 15 ribu – 25 ribu per kotak.
Dengan demikian, perputaran uang dalam masyarakat Pidie Jaya, dari kue ade saja mencapai Rp. 60.000.000,-/hari. Sebuah angka fantastis untuk sebuah kabupaten baru yang berpenduduk hanya sekitar 100 ribu jiwa. Sementara serapan tenaga kerja dari sektor ini berkisar antara 5 – 16 orang per usaha, dengan pendapatan rata-rata Rp. 80 ribu/orang/hari.
Menurut Rabiul, ade telah dikenal lama di Pidie Jaya, dan baru digarap secara maksimal sejak tahun 2007. “Di bawah tahun 2007 orang telah mengenal Ade Kak Meutia, tapi tak diproduksi dalam jumlah besar. Pemkab kemudian membantu pengusaha ade untuk menggarap potensi ini secara maksimal dan kini menjadi ikon Pijay,” ujar Rabiul kepada Tabangun Aceh saat ditemui di Taufik Kupi Sigli, Minggu (16/10).
Diakui Rabiul, setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing untuk digarap dan menjadi lahan pengembangan ekonomi rakyat. “Tak ada salahnya sebuah daerah menggelar sayembara makanan khas yang inovatif dengan bahan baku tertentu dan kemudian dijadikan fokus pembinaan dan bahkan menjadi daya tarik wisata kuliner. Jika pergi ke Meureudu kita bawa oleh-oleh ade, maka pergi ke daerah lain akan ada oleh-oleh berbeda,” papar Rabiul serius. [hasan basri m nur]

Ade Meutia Hidupkan 12 KK

Hari itu, Minggu (16/10/2011) jam di tangan kami menunjukkan angka 16.05 WIB. Puluhan tungku api berjejer di pekarangan kiri rumah itu. Sabut kelapa (tapeh) dan tempurung (bruek) menumpuk di bagian depan halaman rumah. Seorang pemuda berkendara sepeda motor bebek siap meninggalkan rumah itu dengan boncengan puluhan kotak kue ade.
Beberapa perempuan setengah baya keluar dari rumah itu. Mereka hendak pulang ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari sana. Wajah mereka berseri-seri seakan menyimpan kebahagiaan dan rasa puas. Tak lama berselang, sebuah kendaraan pick up merek Chevrolet parkir di pinggir jalan depan rumah itu. Mata sang sopir tertuju ke arah tumpukan tempurung dan sabut kelapa.
Begitulah pemandangan setiap sore di rumah milik M Kasem dan Meutia. Pasangan suami-isteri ini meneruskan usaha keluarga dalam membuat kue ade. “Kami yang pertama memperkenalkan ade Meureudu sejak 20 tahun lalu. Di rumah inilah asal-usul kue ade yang kini menjadi ikon Pidie Jaya. Kami pula yang pertama memasarkan kue ade di simpang empat Meureudu,” ungkap M Kasem kepada Tabangun Aceh.
Kue ade produksi keluarga M.Kasem dan Meutia ini dimasak secara tradisional dengan bahan bakar tempurung dan sabut kelapa. Keduanya sepakat mempertahankan pola masak tradisional ini. “Selain untuk menjaga cita rasa agar tetap alami, kami juga ingin membuka peluang kerja bagi pemasok sabut kelapa. Hanya ade ubi yang kami masak dengan open, selebihnya pakai tungku tradisional,” ujar Kasem dibenarkan isterinya Meutia.
Ungkapan M Kasem agaknya tak mengada-ada. Lidah kami seakan ingin terus mencicipi kue ade merek Meutia Merdu itu. Cita rasanya khas. Sementara dampak ekonomi bagi pihak lain tampak jelas dengan datangnya pemasok yang setiap dua hari mengontrol persediaan sabut kelapa. “Sabut kelapa kami tebus dengan harga Rp 100 ribu per pick up,” ujar Meutia sembari menunjuk ke arah mobil Chevrolet yang terparkir di depan rumahnya.
Bukan hanya itu, usaha ade Meutia Merdu itu ikut menghidupi 12 kepala keluarga (KK) di desa sekitar. Usaha ini memiliki 12 karyawan. Pendapatan mereka diukur dari produktivitas. Khusus juru masak rata-rata mendapat sekitar Rp 80 ribu per hari yang jika dikalikan 30 hari berarti memperoleh Rp 2,4 juta per bulan. Sebuah angka yang mampu melalui UMR. Bahkan beberapa karyawan mampu memacu produksi bisa mendapat imbalan hingga Rp 150 ribu per hari.
Ade Meutia juga mengalirkan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Misalnya, petani ubi dan daun pandan ikut kejiprat rezeki. “Sekitar 500 kilo gram ubi kami pasok setiap hari. Sementara daun pandan setiap hari kami tebus dengan harga Rp 20 ribu. Pemasok daun pandan saja memperoleh Rp 600 ribu per bulan. Kami tak memonopolinya agar rezeki terbagi,” sambung Meutia.
Selain itu, kata Meutia, untuk keperluan mengangkut produksi kue ade ke toko-toko, pihaknya juga membayar jasa tukang ojek (RBT). “Tukang ojek juga mendapat imbalan sekitar Rp 80 ribu per hari,” katanya.
Adanya keterlibatan banyak orang dalam aktivitas Ade Meutia karena permintaan kue ini sangat tinggi. Walau tak terpromosi dengan baik –hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut– tingkat produksi kue ade ini tergolong tinggi. “Produksi kami berkisar antara 250-400 kota per hari, dengan harga jual 15 ribu – 25 ribu per kotak. Pukul 3 sore kami tak lagi memproduksi kue agar karyawan mempunyai waktu istirahat dan berkumpul dengan keluarga,” kata M Kasem.
Selain dapat diperoleh di Meureudu, Lueng Putu, Ulee Gle dan Samalanga, kini Ade Meutia juga dapat diperoleh di Banda Aceh, tepatnya di Swalayan Mahli Batoh dan UD Rahmat Seutui. Ade Meutia di kawasan Banda Aceh diproduksi di kawasan Lampaseh Kota, dan tetap mempertahankan pola tradisional dalam memasaknya.
Baik M Kasem maupun Meutia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah terutama Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang telah membina mereka dalam mengembangkan kue ade. “Sejak tahun 2008 Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Aceh telah beberapa kali memberi pelatihan kepada kami di Hotel Lading, Grand Nanggroe dan Hotel Diana. Materi dari pelatihan itu sangat berguna bagi kami dalam mengembangkan usaha ini,” kata Meutia yang mampu menyekolahkan ke lima putra putrinya hingga meraih gelar sarjana, bahkan salah seorang putrinya kini kuliah S2 di IPB Bogor.
Kemampuan M Kasem dan Meutia dalam mengolah kue ade telah teruji dan diakui. Maka mereka pernah diberi kesempatan untuk melatih calon pengusaha ade baru oleh Disperindag. Tahun 2010 lalu mereka melatih 30 orang untuk membuat kue ade. “Ada beberapa alumni yang kini telah sukses dan mandiri dan kami merasa bahagia. Apa yang bisa kami bantu tetap kami bantu,” ujar M Kasem yang mengaku berniat mempelajari pengolahan limbah kelapa (air kelapa) untuk dibuat menjadi Nata de Coco. [hasan basri m nur]