Islam Agama Kaya

Oleh: HASAN BASRI M.NUR

MESKI sebagian besar penduduk muslim di dunia hidup dalam lilitan kemiskinan, tapi sesungguhnya agama Islam tidak menghendaki penganutnya menjadi orang-orang miskin. Islam adalah agama yang mendorong penganutnya agar menjadi orang-orang kaya dan cerdas. Selain mendorong umatnya agar menjadi orang kaya, Islam juga mengatur agar mereka tidak sombong, angkuh, tetapi memiliki kepekaan sosial yang ditandai kerelaan berbagi dengan mereka yang belum beruntung.

Walau banyak orang Islam yang menjadi peminta-minta, tapi sesungguhnya Islam adalah agama yang bervisi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Menjadi orang yang mampu memberi tentunya harus memiliki kekayaan yang memadai. Pada sisi lain, Islam menilai kemiskinan berpotensi menjerumuskan seseorang pada kekafiran. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya agar terus berusaha dalam memperbaiki nasib dan tidak pernah menyerah sebelum berhasil meraih kesuksesan.

Sangat banyak dalil agama yang menganjurkan umat Islam untuk menjadi kaya. Perintah menunaikan zakat, infaq, shadaqah, waqaf, hibah, menyantuni yatim piatu/fakir-miskin, naik haji serta penyembelihan hewan qurban dan aqiqah adalah bagian dari visi Islam kaya. Logikanya, mana mungkin seseorang mampu menunaikan zakat, waqaf, naik haji atau berqurban jika dia tidak memiliki harta yang memadai.

Perintah zakat dan berhaji bahkan menjadi bagian dari rukun Islam. Ini secara tidak langsung bermakna berusaha menjadi orang berada hukumnya wajib. Khusus kewajiban menunaikan zakat bahkan menempati rangking pertama setelah ibadah shalat yang bermakna kewajibannya mutlak. Ini sejalan dengan dalil-dalil Alquran tentang kewajiban membayar zakat yang sebagian besar disebut beriringan dengan kewajiban mendirikan shalat.

Islam adalah agama yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan lingkungan (hablum minannas). Keseimbangan hubungan vertikal dan horizontal ini perlu mendapat perhatian serius agar manusia memperoleh kedamaian lahir dan batin, dunia akhirat. Jika shalat, puasa, dan haji untuk mempererat hubungan dengan Allah, maka ibadah sosial seperti zakat, infaq, sedekah, hibah, qurban dan aqiqah adalah untuk menjalin hubungan harmonis dengan sesama manusia. Hal ini dengan tegas dikemukakan Alquran: Maka shalatlah karena Tuhanmu dan berqurbanlah (QS. Al-Kautsar: 2).

Ayat di atas mengandung makna bahwa ibadah shalat adalah sebagai sarana mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, dan setelah itu diminta menjalin hubungan yang baik dengan sesama insan. Selain itu, perintah shalat dan berqurban dalam satu ayat yang sama dapat bermakna ibadah qurban itu adalah bagian dari aktivitas yang tidak boleh ditinggalkan. Menganggap hukum qurban itu sunnah dapat menurunkan semangat berqurban di kalangan masyarakat. Selama ini, ada beberapa daerah di Aceh yang nyaris tidak pernah menyaksikan eksekusi hewan qurban di desanya. Sementara di kawasan yang masyarakatnya sudah memiliki pemahaman yang lurus tentang urgensi qurban volume penyembelihan ternak di hari Idul Adha sangat tinggi.

Dina Alya Hasan di sebuah Mall di Jakarta


Dari modal hingga gizi
Ibadah-ibadah sosial berupa berbagi harta diatur sedemikian rupa oleh Islam. Jenis pemberian itu dipilah dalam beragam bentuk, mulai pemberian insidentil, subsidi modal, aset hingga perbaikan gizi. Jika sadaqah adalah pemberian insidentil yang tidak terikat kadar tertentu, maka zakat adalah jenis pemberian wajib dalam durasi dan jumlah tertentu dan ditekankan untuk pemberdayaan ekonomi umat. Tujuan utama pemberian zakat adalah untuk memberantas kemiskinan dan karenanya ia harus dikemas dalam bentuk modal produktif sehingga tidak menimbulkan ketergantungan kaum fakir. Selanjutnya, penerima zakat tahun ini diharapkan berubah status menjadi pemberi zakat dalam beberapa tahun kemudian.

Sementara waqaf adalah pemberian dari seseorang yang menjadi aset bagi kepentingan agama. Harta waqaf menjadi sumber dana abadi dalam menjamin kesinambungan syiar Islam. Oleh karenanya aset agama yang bersumber dari waqaf dilarang keras untuk dihilangkan.

Sedangkan ibadah qurban–juga aqiqah–adalah bagian perhatian agama yang memandang penting berbagi makanan bergizi dengan orang-orang miskin dan tetangga. Ibadah qurban adalah jenis ibadah sosial paling khas yang rutin dilakukan setiap tahun dengan menyembelih hewan kualitas terbaik dan dagingnya dibagi kepada masyarakat dan fakir miskin. Pemilik hewan qurban diizinkan untuk ikut makan daging sebagai isyarat kesetaraan serta perlunya memperbaiki gizi bagi tubuh.

Ubah pola pikir
Ada anggapan bahwa Islam itu agama sederhana yang tidak mementingkan kehidupan dunia, tetapi terfokus pada kehidupan akhirat yang kekal. Pada satu sisi, anggapan ini dapat diterima dalam konteks untuk mengendalikan diri agar tidak larut dalam kesibukan mencari kesenangan duniawi. Pada sisi lain, jika anggapan ini dipahami secara kaku, maka ia dapat merugikan perkembangan agama Islam itu sendiri. Untuk itu, keduanya harus ditempatkan pada posisi yang saling mendukung, kehidupan di dunia adalah bagian dalam mencari kebahagiaan akhirat dan keduanya harus berjalan seiring.

Pola pikir (mindset) Islam sebagai agama sederhana yang tidak memetingkan kebahagiaan dunia harus dihilangkan dalam rangka menumbuhkan motivasi dan semangat berusaha umat yang lebih tinggi. Selain mengupas dalil-dalil agama tentang isyarat menjadi orang kaya secara mendalam, perlu kiranya ditunjukkan kembali bukti-bukti kegemilangan Islam masa lalu yang mencapai puncak di era Abbasiyah (750-1258 M) dan Umayyah II di Spanyol (711-1492 M) sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam yang ideal sehingga saat itu umat Islam tampil sebagai umat paling maju dan berpengaruh di dunia.

Dengan tumbuhnya mindset Islam sebagai agama kaya dan melarang umatnya menjadi pengemis dan berpangku tangan, maka secara perlahan diyakini akan mampu mengubah derajat umat Islam. Mereka yang saat ini belum beruntung dalam mencari nafkah akan terus berupaya sehingga dapat meraih predikat orang kaya sebagaimana diisyaratkan Islam. Meski demikian, Islam tetap melarang keras umatnya meraih predikat kaya dengan cara-cara licik dan curang seperti menggelapkan uang negara, mengelabui konsumen dan sebagainya.

Keyakinan bahwa rezeki telah ditentukan sejak sebelum lahir kiranya perlu dihilangkan demi mencegah lahirnya generasi pesimis yang akan meng-kambinghitam-kan takdir manakala gagal. Dengan memahami Islam sebagai agama bervisi kaya dan peka sosial, maka pada hakikatnya umat Islam telah menang dalam pergumulan ideologi dengan agama-agama lain dan dengan sendirinya Islam akan menjadi agama panutan, karena selain bervisi kaya, Islam juga sebagai agama orang pintar yang mengangkat derajat orang-orang berilmu. Semoga!

* Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Tulisan ini telah disiarkan Harian Serambi Indonesia edisi 18 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s