Terima Kasih Relawan

Galeri

Oleh Hasan Basri M.Nur HARI ini tepat 7 tahun Aceh ditimpa musibah megagempa disusul gelombang tsunami raksasa. Anehnya, tidak terlihat tanda-tanda istimewa di Aceh dalam memperingati peristiwa bersejarah itu. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh hanya menggelar seremoni sederhana di … Baca lebih lanjut

Kian Membaik setelah 7 Tahun Tsunami

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

Sebuah mobil Toyota Rush dari arah Meulaboh berjalan perlahan dan kemudian berhenti di halaman Warung Nasi Khas Aceh Rayeuk di bibir jalan Nasional Banda Aceh–Meulaboh, tepatnya di Gampong Mesjid Leupueng, Aceh Besar. Dua perempuan paruh baya dan seorang gadis cilik … Baca lebih lanjut

7 Tahun Tsunami Aceh Dipusatkan di Lhoknga

Peringatan 7 tahun musibah gempa dan tsunami Aceh akan dipusatkan di Lapangan Golf Lhoknga, Kabupaten Aceh. Panitia berencana menghadirkan 5.000 peserta dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Sementara itu, delegasi dari Jepang dan Malaysia telah menawarkan diri agar dilibatkan pada acara renungan tahunan yang kali ini menghadirkan Ustaz Arifin Ilham dari Jakarta. Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Prof Dr Jasman J Ma’ruf, saat ditemui Tabloid Tabangun Aceh, Jumat (16/12/2011) sore di sebuah restoran di Banda Aceh.
“Peringatan tujuh tahun tsunami yang jatuh pada hari Senin 26 Desember 2011 nanti akan dibingkai dalam bentuk tausiah dan khanduri rayeuk yang akan dihadiri sekitar 5.000 peserta, termasuk delegasi dari Malaysia dan Jepang yang meminta dilibatkan dalam momen penting itu. Delegasi dari Jepang berjumlah 20 orang terdiri dari guru dan profesor,” kata Jasman.
Meski Jepang baru saja dilanda musibah gempa dan tsunami hebat pada Maret 2011, tapi mereka tetap menganggap musibah tsunami yang terjadi di Aceh adalah musibah dunia, dan karenanya mereka ingin dilibatkan. “Jauh sebelum peringatan tsunami digelar, delegasi dari Jepang sudah menyatakan diri akan ikut dalam peringatan ini. Sebagai rasa penghormatan kepada mereka, kita akan melakukan upacara penyambutan di Bandara Blang Bintang saat mereka tiba,” sambung Jasman.
Jasman yang juga dosen Fakultas Ekonomi itu menambahkan, peringatan tahunan ini diharapkan menjadi ajang introspeksi diri, mengenang para syuhada sekaligus menjadi even ungkapan rasa terima kasih kepada negara-negara/lembaga donor yang telah bahu-membahu membantu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Ia berharap agar momen musibah tsunami selalu diingat dan ia harus menjadi pemberi spirit bagi Aceh dalam meraih masa depan yang lebih baik.
Disbudpar, kata Jasman, akan berupaya mengaitkan even tahunan tsunami ini guna membantu menghidupkan industri pariwisata Aceh. Manusia dari berbagai penjuru dunia kita harap hadir ke Aceh pada peringatan musibah tsunami dan menyaksikan situs-situs tsunami. “Dalam hal ini, pengusaha perhotelan di Aceh didorong agar memberi dukungan, misalnya memberikan discount khusus kepada para tamu pada hari-hari peringatan tahunan tsunami,” kata Jasman.
Ditanya apakah masyarakat Aceh yang tidak mendapat undangan dapat menghadiri upacara peringatan 7 tahun tsunami yang dipusatkan di Lhoknga itu, Jasman mengatakan even itu terbuka untuk umum. “Masyarakat umum dapat menghadiri tausiah 7 tahun musibah tsunami yang akan diakhiri dengan khanduri raya,” katanya.
Selain digelar di Lhoknga, peringatan 7 tahun tsunami juga diselenggarakan di kabupaten/kota yang terkena dampak tsunami. “Peringatan di Lhoknga adalah untuk level provinsi, sementara di tingkat dua digelar masing-masing daerah,” kata Jasman. [hasan basri m.nur/aswar liam]

Said Akram, Mutiara Terpendam dari Aceh

Galeri

Galeri ini berisi 6 foto.

Sekilas pria itu tampak biasa, tak terlihat memiliki keunggulan tertentu, apalagi kiprah internasional. Penampilannya sederhana dengan pakaian biasa. Pria itu ramah, tidak pilih-pilih dalam bergaul. Gaya tuturnya santun dengan susunan-susunan kalimat yang teratur. Begitulah penampilan keseharian Said Akram. Saat ditemui … Baca lebih lanjut

Cendekia Bantu Cerdaskan Bangsa

Sejumlah anak usia sekolah dasar duduk berkelompok. Di lantai satu ada dua kelompok dan di lantai dua ada tiga kelompok. Jumlah anggota di setiap kelompok bervariasi. Ada yang dua orang, tiga orang dan paling banyak lima orang. Setiap kelompok didampingi oleh seorang guru.
Anak-anak itu tampak tekun dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sibuk menghafal kosa kata Bahasa Inggris, ada yang asik mengutak-atik komputer, dan di sudut lain terlihat beberapa orang anak sedang dipandu gurunya mengerjakan PR sekolah.
“Pemandangan seperti ini setiap sore dapat dilihat di sini. Di bawah bimbingan guru, anak-anak belajar dengan tekun sesuai mata pelajaran yang diambil,” ujar Yunita Ningsih, S.Pd, Direktur Pusat Belajar Cendekia, saat ditemui Tabangun Aceh di kantor pusat Cendekia Jalan HM. Taher Lueng Bata, Banda Aceh, Selasa (22/11/2011) sore.
Menurut sarjana FKIP Unsyiah itu, tujuan dia mendirikan Pusat Belajar Cendekia semata-mata untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. “Meningkatkan mutu pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah tapi juga tanggung jawab elemen sipil lainnya. Dalam hal ini fokus utama Cendekia adalah memberikan pendampingan belajar kepada anak-anak sesuai kurikulum sekolah. Semoga mereka dapat bersaing dengan masyarakat global di masa mendatang,” katanya.
Yunita yang pernah bekerja di beberapa lembaga internasioanl itu mengaku sudah lama ingin berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa. Namun ia tidak mempunyai biaya memadai untuk memulainya. Niat suci itu baru terwujud pada 27 Maret 2010, setelah dia mendapat pinjaman dari BPD Syariah sebesar Rp. 50 juta.
“Bermodalkan pinjaman bank, saya mendirikan lembaga ini. Gedung tempat belajar semuanya berstatus sewa dan sebagian meubelair terpaksa dibeli yang bekas. Kami sangat membutuhkan bantuan dari semua pihak untuk kelancaran proses belajar mengajar. Kami sangat berterima kasih jika ada pihak yang mau menyumbang buku-buku bacaan bekas atau meubelair bekas,” harap mantan pengajar di Bimafika itu.
“Pendirian PB Cendekia murni untuk membantu masyarakat. Biaya belajar di sini sangat murah. Sekali pertemuan untuk setiap siswa hanya Rp.10 ribu. Bayangkan jika satu kelompok hanya ada tiga siswa, maka berapa biaya yang terkumpul dan berapa sisanya setelah dibagi untuk jerih guru pendamping,” sambung Yunita didampingi Nurhawani, guru les Bahasa Inggris.
Meski biaya kursus tergolong murah, Nurhawani dan guru-guru lainnya mengaku senang dapat membantu mengajar anak-anak di Cendekia. “Saya merasa senang dapat membantu mengajar anak-anak di sini,” ujar Wani yang tercatat sebagai mahasiswa semester akhir Jurusan TBA IAIN Ar-Raniry.
Berawal dari Jl.HM Thaher, kini PB Cendekia membuka empat kantor cabang, yaitu di Jl.Soekarno Hatta Geuceu Garut, di Jalan Kebon Raja Lamgugob, di Jalan T.Hasan Dek Simpang Surabaya, hingga di Jalan Medan – Banda Aceh, Sp. Geulanggang Tengah Bireun.
Saat ini PB Cendikia memiliki lebih 600 siswa yang tersebar di lima kampus. Sementara jumlah guru mencapai 70 orang. Selain memberikan pendampingan belajar untuk anak-anak SD, SMP dan SMA, PB Cendekia juga menerima paket pelatihan Bahasa Inggris dari instansi pemerintah dan swasta. [hasan basri m.nur]