Kian Membaik setelah 7 Tahun Tsunami

Dina Alya Hasan di Kapal Cepat ke Sabang 2010

Sebuah mobil Toyota Rush dari arah Meulaboh berjalan perlahan dan kemudian berhenti di halaman Warung Nasi Khas Aceh Rayeuk di bibir jalan Nasional Banda Aceh–Meulaboh, tepatnya di Gampong Mesjid Leupueng, Aceh Besar. Dua perempuan paruh baya dan seorang gadis cilik turun dari mobil warna hitam itu dan perlahan masuk ke Warung Nasi Kak Naimah.
Hari itu, Minggu (18/12/2011), jarum jam masih menunjukkan angka 17.10 WIB yang bermakna belum jadwal makan malam, tidak pula waktu makan siang. Namun kedua perempuan itu langsung memesan nasi kepada pemiliknya yang sedang duduk di depan warung. Kedua perempuan itu agaknya sengaja memilih makan nasi di warung Kak Naimah karena menyediakan aneka masakan khas Aceh Rayeuk serta beragam ikan segar.
Menurut Kak Naimah (45), kondisi perekonomian di jalur Banda Aceh–Meulaboh semakin membaik seiring selesainya pembangunan jalan lintas barat yang didanai oleh USAID. “Selain penduduk kampung sini, banyak pengendara yang singgah untuk makan di warung kami, baik siang maupun malam,” tutur Kak Naimah diiyakan suaminya, Tarmizi M (48).
Pasangan suami-isteri ini adalah penduduk Gampong Mesjid Leupueng. Saat musibah tsunami meluluhlantakkan bumi Aceh, mereka sedang tidak berada di rumah sehingga terbebas dari terjangan tsunami. “Tapi seorang putra kami, Mahyudiansyah, yang saat itu masih berusia 15 tahun serta rumah dan harta benda kami hilang bersama gelombang raksasa tsunami,” kenang Naimah.
“Saya bersyukur, hanya kehilangan satu orang anak dan masih memiliki keluarga yang utuh, masih ada seorang putri, seorang putra dan masih memiliki suami. Sementara orang-orang lain di Leupueng ini ada yang kehilangan semuanya. Ada pula yang kehilangan seluruh anak, suami dan tinggal seorang diri. Musibah yang menimpa Leupueng 7 tahun silam sangat dahsyat, seluruh rumah hancur dan sekitar 90 persen penduduk hilang,”kenang perempuan gesit itu.
Kini, kerusakan akibat tsunami telah terbangun setelah pemerintah Indonesia bersama lembaga-lembaga dunia melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Rumah milik Naimah telah dibangun oleh UN Habitat. Begitu juga rumah-rumah milik warga lainnya. Masyarakat korban tsunami kembali dapat menempati rumah-rumah yang dibangun oleh BRR, NGO dan lembaga donor. Begitu juga pada fasilitas publik, seperti jalan, sekolah, rumah ibadah, perkantoran, pasar, pelabuhan dan sebagainya.
Diakui Naimah, saat ini kondisi Aceh sudah pulih dan masyarakat dapat kembali bekerja dalam mencari nafkah dengan leluasa. “Kondisi keamanan yang saat ini membaik harus dipertahankan agar masyarakat tidak lagi hidup dalam penderitaan. Semoga negeri ini tetap aman dan semua orang dapat mencari rezeki dengan leluasa, bahkan hingga larut malam seperti sekarang ini,” harap Naimah di sela-sela kesibukannya melayani tamu.
Naimah mengaku memiliki pengalaman hidup yang panjang dalam mencari nafkah. Dia juga mengaku tidak pernah berputus asa dalam mencari nafkah guna menghidupi keluarga. “Sebelum tsunami, saya sudah terbiasa bertani padi di sawah, mencari kayu ke gunung hingga bikin kue untuk ditempatkan di warung-warung kopi. Semua itu kami lakukan untuk menghidupi diri dan menyekolahkan anak-anak agar menjadi orang pintar dan berguna,” papar ibunda dari Mardiana yang baru menyelesaikan pendidikan di LP3I, dan Juliandi Saputra yang masih bersekolah di SMA 2 Peunayong Banda Aceh.
Usaha jualan baru dijalani Naimah dan suaminya sejak awal tahun 2006. “Membuka warung ini semata-mata agar kami mandiri dan tidak bekerja pada orang lain, walaupun tempatnya masih berstatus sewa. Alhamdulillah, lakunya lumayan, cukup untuk membayar harga sewa warung, memenuhi kebutuhan keluarga dan mampu membiayai sekolah anak-anak,” ujar Naimah.
Musibah gempa 8,9 SR disusul gelombang raksasa tsunami menimpa Aceh pada Minggu (26/12/2004) pagi. Sekitar 250 ribu jiwa meninggal dan hilang, 500 ribu warga menjadi pengungsi, ratusan ribu luka-luka, lebih 100 ribu unit rumah rusak, banyak jalan/jembatan terputus dan berbagai kerusakan lainnya termasuk sekolah dan fasilitas kesehatan. Masyarakat dari berbagai dunia datang ke Aceh dan bahu-membahu menata kembali Aceh di bawah koordinasi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah menjalankan tugasnya selama 4 tahun dan kondisi Aceh mulai membaik, maka BRR NAD-Nias yang dikepalai oleh Dr.Kuntoro Mangkusubroto menutup operasionalnya di Aceh dan Nias pada 16 April 2009. [hasan basri m.nur]

Tulisan ini telah disiarkan Tabloid Tabangun Aceh milik Pemerintah Aceh edisi Desember 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s