‘Boh Tektok’ Politik

Oleh Hasan Basri M Nur

Peucohcoh adalah sebuah kata unik dan khas dalam Bahasa Aceh yang sering diterjemahkan sebagai “dipanas-panasi sembari memberi pujian hampa”. Hanya orang-orang yang senang dipeu-ek u chong putek (gila sanjungan) dan tidak punya boh tektok yang mudah termakan rasukan peucohcoh.


PADA satu sisi, kebebasan setiap orang untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin sangat baik. Selain menjunjung tinggi nilai demokrasi, ia menjadi ruang bagi tampilnya calon-calon alternatif bagi rakyat. Namun, pada sisi lain, demokrasi yang terlalu bebas dapat menjerumuskan orang ke dalam jurang kerugian, terutama mereka yang tidak mempunyai kemampuan dalam mengukur kemampuan diri.

Kalkulasi dalam mengukur kemampuan diri dan ketajaman melihat peluang mutlak dibutuhkan oleh seseorang sebelum menentukan sebuah pilihan, apalagi terhadap profesi baru yang penuh risiko. Dalam tradisi masyarakat Aceh, kalkulasi semacam ini dikenal dengan istilah boh tektok.

Menurut Syamsuddin Jalil, budayawan Aceh asal Panton Labu, boh tektok adalah simbol dari sempoa, alat penghitung yang kerap digunakan masyarakat Cina dalam berbisnis. Orang Cina dikenal sangat jeli dalam kalkulasi untung rugi sebelum memulai sebuah bisnis.

Sebagaimana Cina, masyarakat Aceh masa lalu kerap menggunakan falasafah boh tektok sebelum memulai usaha baru atau ekspansi usaha. Tujuannya, agar seseorang memiliki peta dasar tentang potensi, peluang dan tantangan yang akan dihadapi saat memasuki dunia baru. Hasil dari hitung-hitungan (peutron boh tektok) itu akan menjadi landasan bagi seseorang dalam memulai usaha.

“Boh tektok itu kebalikan dari walanca walance awai peubuet dudoe pike. Kalau walanca walance itu mendahulukan tindakan dari pada berpikir. Sementara falsafah boh tektok mendahulukan kalkulasi sebelum bertindak. Jadi, pakailah falsafah boh tektok dan jauhkan prinsip walanca walance agar tidak muncul penyesalan di kemudian hari,” pesan Syamsuddin Jalil yang akrab disapa Ayah Panton beberapa waktu lalu.

Peucoh-coh
Meskipun falsafah peutron boh tektok awalnya ditujukan untuk urusan bisnis, tapi sesungguhnya pesan endatu ini patut diterapkan dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam urusan politik. Selama ini ada kesan sebagian orang memutuskan maju sebagai kandidat kepala daerah tanpa adanya maping awal tentang popularitas diri dan elektabilitas.

Fenomena kemunculan tokoh-tokoh dadakan yang tidak melandasi keputusannya atas azas peutron boh tektok sudah terjadi berulang-ulang dalam momen pesta demokrasi di Aceh. Tokoh-tokoh itu muncul lima tahun sekali, dan dengan sendirinya akan menghilang usai penghitungan suara. Mengutip Makmur Dimila, mereka seakan memandang momen pilkada ibarat ajang bermain lotre (Serambi, 12/11/2011).

Peucohcoh adalah sebuah kata unik dan khas dalam Bahasa Aceh. Tidak ditemukan kata sepadan untuknya dalam Bahasa Indonesia, meski ia sering diterjemahkan sebagai “dipanas-panasi sembari memberi pujian hampa”. Kata lain dalam Bahasa Aceh yang maknanya mendekati peucohcoh adalah peugrob. Tidak semua orang mempan terhadap upaya peucohcoh atau peugrob. Hanya orang-orang yang senang dipeu-ek u chong putek (gila sanjungan) dan tidak punya boh tektok yang mudah termakan rasukan peucohcoh.

Patut diduga, di ajang Pemilukada Aceh 2012 ada beberapa orang yang memutuskan untuk maju sebagai kandidat gubernur/wakil gubernur dan bupati/wakil bupati dengan tidak mengandalkan kalkulasi awal. Akibatnya, mereka tampak kelimpungan dalam memperkenalkan diri kepada publik, apalagi bagi yang tidak memiliki kendaraan politik serta tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai.

Fatamorgana kemilau kekuasaan telah membius sebagian orang untuk berusaha meraihnya. Jabatan-jabatan politis-strategis itu seakan memiliki kekuatan magis yang dahsyat, sehingga sebagian orang bagai kehilangan akal sehat dan hidup di luar alam sadar. Tragisnya, kilau kekuasaan itu mampu menggiring kaum terdidik dari kampus untuk ikut-ikutan mengadu peruntungan tanpa kalkulasi, padahal mereka seharusnya menjadi teladan.

Di ajang Pemilukada Aceh 2012, sekitar 130 pasang kandidat akan bertarung dalam perebutan 18 pasang kursi kekuasaan; satu pasang kursi gubernur dan 17 pasang kursi bupati/walikota. Semua kandidat bermimpi akan menempati rangking satu perolehan suara. Klaim-klaim politik pun bermunculan dan semuanya mengaku mendapat dukungan mayoritas dari rakyat.

Di sisi lain, para konstestan terlihat ragu akan popularitasnya sehingga –meski masa kampanye belum dimulai– mereka telah mulai memperkenalkan diri kepada publik melalui berbagai media, seperti menempel poster dan stiker di pepohonan dan tiang-tiang listrik. Warga pun tampak kebingungan melihat “pameran” wajah dadakan itu, terutama wajah orang-orang tak dikenal.

Meupuree Seungkee
Membutuhkan persiapan matang dan waktu yang panjang untuk mewujudkan cita-cita menjadi kepala daerah. Orang-orang yang menampakkan diri secara musiman lima tahun sekali agaknya akan mengalami kesulitan dalam merebut suara rakyat. Rakyat cenderung akan memilih orang yang telah mereka kenal. Dikenal bukan sekedar pernah melihat foto kandidat, tetapi mengenal track record/perilaku, ilmu pengetahuan, kejujuran, kepekaan sosial dan sifat-sifat positif lainnya. Hampir tidak ada pemilih yang akan melempar koin dalam menentukan figur yang akan dipilih pada hari “H” di bilik TPS.

Sejatinya para kandidat jauh-jauh hari membuat persiapan secara matang. Mereka perlu selalu berbuat untuk umat dan secara teratur mengukur popularitas dan elektabilitas melalui survey sehingga keputusan maju dalam ajang Pemilukada tidak atas dasar impian semu alias cet langet.

Itulah sebabnya beberapa partai besar tidak sembarangan dalam menentukan kandidat sebelum adanya survey. Dalam momen Pemilukada Aceh 2012 beberapa figur dari kampus ikut maju. Tapi sangat disayangkan, mereka mengabaikan survey, padahal di kampus terdapat lembaga-lembaga survey terpercaya. Kaum akademisi seakan telah menafikan norma-norma akademis yang diajarkan di depan kelas kepada mahasiswa.

Akhirnya, kita berharap agar Pemilukada 2012 dapat berlangsung demokratis, bebas dari intimidasi dan pemaksaan kehendak. Para kandidat diharapkan bersedia menerima dengan lapang dada apa pun pilihan rakyat pada hari “H” yang dijadwalkan 9 April 2012. Siapa pun yang terpilih, baik di level kabupaten/kota maupun provinsi, harus didukung dengan penuh keikhlasan karena itulah suara hati rakyat, yang tidak boleh dipaksa-paksa.

Kepada kandidat yang belum beruntung di ajang Pemilukada 2012 agar menjadikan momen ini sebagai pelajaran berharga dalam mematangkan persiapan untuk maju kembali pada ajang yang sama lima tahun mendatang. Segala bentuk “bantuan dan sumbangan” yang telah diberikan kepada masyarakat di masa kampanye agar diikhlaskan sebagai wujud sedekah dan jangan diungkit-ungkit apalagi hendak ditarik kembali. Mengungkit-ungkit pemberian apalagi memintanya kembali termasuk pekerjaan tidak terpuji yang dalam masyarakat Aceh dicap meupuree seungkee, yaitu tumbuhnya borok di setiap sudut tubuhnya yang tentunya sangat memalukan dan sulit disembuhkan. Semoga!

* Hasan Basri M. Nur, Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: hb_noor@yahoo.com

Artikel ini sudah pernah disiarkan di Rubrik opini Harian Serambi Indonesia, edisi 14 Maret 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s