Socolatte, dari Paru menuju Nusantara

Sejak lama Kabupaten Pidie Jaya telah dikenal sebagai daerah penghasil kakao (cokelat). Sebanyak 14 ribu KK di kabupaten yang terbentuk pada tahun 2007 itu memiliki profesi tambahan, yakni petani kakao. Menyadari daerahnya sebagai sentra produksi kakao, Irwan Ibrahim bertekad membangun sebuah pabrik pengolah kakao di kawasan Pidie Jaya.Gambar

Perlahan namun pasti, impian Irwan yang telah sirintis sejak tahun 2003 akhirnya menjadi kenyataan. Kini, di jalan raya Banda Aceh Medan KM 138 Desa Baroh Musa, Kabupaten Pidie Jaya, sudah berdiri megah sebuah outlet cokelat dengan nama “Socolatte”. Beragam sajian makanan dan minuman dari bahan mentah kakao dapat ditemukan dan dicicipi di gedung bersih dilengkapi sofa dan AC itu.

Peusahaan cokelat itu berlindung di bawah koperasi “Rimbun Coop”. Irwan sendiri berperan sebagai managernya. Usaha ini ikut memberi dampak positif bagi warga sekitar. Selain mempekerjakan 10 orang karyawan tetap, Rimbun Coop juga memberi dampak ekonomi bagi petani kakao di kawasan Pidie Jaya.

“Kami menampung sekitar 400 kilogram biji kakao per bulan dari petani Pidie Jaya. Sebenarnya kami mau menampung dalam jumlah lebih banyak lagi, tapi karena kapasitas produksi mesin sangat terbatas, maka kami tak mampu menggenjot jumlah produksi. Kami juga bersedia membeli bahan baku berkualitas yang sudah difermentasi dari petani dengan harga lebih tinggi dari pasaran,” kata Irwan, Kamis (14/6/2012).

Sebenarnya, kata Irwan, Rimbun Coop sudah menerima pesanan cokelat siap saji dari beberapa daerah di Indonesia, terutama dari Jakarta, Surabaya dan Medan. “Prospeknya pasar sangat bagus. Tapi kami belum mampu memproduksi dalam jumlah banyak karena kapasitas mesin yang masih terbatas. Ke depan dijanjikan aka ada bantuan dari Kemenkop dan kami berharap kapasitas produskinya dapat ditingkatkan sehingga mampu memenuhi permintaan pasar dari luar Aceh,” katanya.

Bersih dan Higeinis

Beruntung, siang itu tim redaksi Tabangun Aceh diberi kesempatan melihat langsung proses pembuatan cokelat dari dapur Socolatte. “Tidak sembarang orang diperkenalkan masuk ke dapur produksi, karena kami harus memastikan ruangan ini tetap bersih dan higienis,” ujar Nuraini sambil menyodorkan pakaian serba putih lengkap dengan masker untuk kami kenakan sebelum memasuki ruang produksi yang terletak di bagian belakang outlet Socolatte.

Ruang produksi cokelat itu terbagi dalam dua ruangan, kedua ruangan itu tertutup rapat. Ruangan pertama sebagai tempat pengolah awal bahan baku biji kakao dan ruang kedua sebagai tempat pencetakan cokelat cair ke dalam talenan dalam beberapa bentuk dan ukuran.

“Ruangan produksi ini full AC untuk memastikan bahan mentah tetap meleleh dan dapat dicetak sesuai keinginan. Sementara mesin produksi dan bangunan ini dibantu oleh OSCA Jepang,” kata Nuraini yang akrab disapa Kak Teh itu.

Murah, tapi Lezat

Dari dapur produksi Rimbun Coop itu lahir aneka sajian cokelat dalam berbagai bentuk dan cita rasa. Ada yang berbentuk batangan, berbentuk bulat-bulat, dan ada pula dalam bentuk dodol. Ukuran cokelat itu dibuat dalam beragam ukuran dan dijual dengan harga yang berbeda-beda. Selain itu, pihak Rimbun Coop juga menyiapkan minuman cokelat panas dan dingin dengan berbagai cita rasa. Harganya pun bervariasi dan terjangkau, tapi ia tetap terasa lezat di lidah.

Untuk minuman cokelat panas dan dingin ditawarkan dalam berbagai pilihan harga, mulai Rp. 5.000 hingga Rp. 20.000. Sementara untuk cokelat batangan dan cokelat dalam bentuk padat lainnya juga disediakan dengan berbagai harga, mulai Rp 4.000 sampai dengan 30.000/batang atau pak.

“Selain kami pasarkan di sini, produk cokelat Rimbun Coop juga dapat diperoleh di toko-toko ternama di Banda Aceh, Bireun, Sigli, Meuredu, Lhokseumawe dan kota-kota lain di Aceh. Khusus di outlet di Baroh Musa ini ikut kami sediakan minuman cokelat,” ujar Kak Teh.

“Selain ikut menyejahterakan petani kakao, Rimbun Coop ikut membantu memajukan pariwisata Pidie Jaya. Banyak pengguna jalan raya Medan-Banda Aceh yang singgah dan menikmati cokelat di tempat kami ini. Biasanya pada sore hari banyak yang sengaja menyempatkan diri beristirahat sambil mencicipi cokelat di sini,” aku perempuan ramah yang setia menjaga outletnya itu. [hasan basri m nur/aswar liam]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s