Menggeluti Bisnis Antar Jemput Siswa

Biasanya, seorang sarjana lebih senang menjadi pekerja dibandingkan menciptakan lapangan kerja melalui usaha sendiri. “Kamu bekerja dimana sekarang?”, begitu sapaan yang sering terdengar manakala seseorang bertemu teman lama. Hampir tak pernah kita mendengar sapaan: “Kamu buka usaha apa sekarang”. Padahal sapaan inilah yang didambakan lahir dari mulut generasi muda didikan PT.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi Dora Nafira (33). Alumnus Fakultas Ekonomi Unsyiah ini tidak tertarik untuk menjadi pekerja. Menjadi karyawan dinilai tidak menantang, tidak akan menimbulkan perjuangan yang membara. Wajar. Sebab, ketika seseorang bekerja pada sebuah instansi apalagi menjadi PNS, tantangan dan inovasi nyaris tidak ada. Bekerja sesuai job desk dan instruksi dan di awal bulan rekening tetap terisi, walau dengan angka yang tidak pernah berubah.
Bagi Dora yang kelahiran Sigli pada 17 Agustus 1979 itu cita-cita menjadi pengusaha sudah tertanam sejak kecil. “Makanya saya kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi agar mendapat pengetahuan bisnis dan dapat menerapkannya dalam kehidupan. Kebetulan orangtua dan suami sangat mendukung,” ujarnya suatu hari saat ditemui di kantornya di Perumnas Jeulingke, Banda Aceh.
Hingga kini telah banyak jenis usaha yang dia coba. “Mulai menyiapkan kue kotak secara kecil-kecilan hingga bisnis antar jemput anak sekolah. Kami memiliki dua armada minibus Suzuki APV keluaran terbaru untuk antar jemput siswa di seluruh Banda Aceh dan sekitarnya. Ide bisnis antar jemput ini berawal dari kenyataan banyaknya orangtua yang tidak sempat menjemput anak-anaknya di sekolah. Jadi kami ingin membantu tugas mereka, selain menciptakan lapangan kerja bagi sopir,” ungkap Dora.
“Tarif antar jemput bervariasi. Mulai Rp 200 ribu-700 ribu, tergantung jarak tempuhnya. Kami bertanggungjawab untuk keselamatan anak-anak. Para sopir sudah dilatih, memakai seragam dinas dan dilarang merokok selama bertugas. Siswa dijemput di teras rumah dan diantarkan kembali ke teras rumah. Mobil juga full AC dan memutar lagu-lagu islami selama perjalanan,” papar Dora dibenarkan dua sopirnya Ustaz Misbah (32) dan Tgk Bukhari (29).
“Alhamdulillah, sejak kami operasikan pada awal 2012, kepercayaan orangtua pada perusahaan kami semakin tinggi dan laris sesuai namanya Laris Jemputan School. Awalnya kami hanya memiliki satu armada, kini meningkat menjadi dua armada untuk melayani dua zona berbeda, yaitu zona barat Banda Aceh dan zona timur,” pungkas Dora Nafira, SE, sembari memberi nomor kontak jika pembaca membutuhkan armada antarjemput untuk putra-putrinya, HP. 081360023585. [hasan basri m nur]
= = = = =
Tulisan di atas sudah pernah dipublikasi Tabloid Tabangun Aceh milik Bappeda Aceh, Edisi September 2012

GAMNA Luncurkan Buku Suara Rakyat Aceh

Gema Aneuk Muda Nanggroe Aceh (GAMNA) membedah sekaligus meluncurkan buku berjudul Suara Rakyat Aceh, Senin (6/8/2012) di Asrama Haji Banda Aceh. Buku itu berasal dari tulisan-tulisan terbaik yang diseleksi melalui sayembara beberapa waktu lalu. Dari ratusan karya tulis yang masuk, sebanyak 91 tulisan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterbitkan menjadi buku.

GambarBuku itu dibedah oleh Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia) dan Prof Dr M Hasbi Amiruddin, MA (guru besar IAIN Ar-Raniry). Dalam bedah buku yang dipandu oleh Muhammad Syuib (Musyu) itu, kedua pembedah memberi apresiasi kepada para penulis dan GAMNA selaku penyelenggara.

“Kalahiran buku ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda di Aceh mempunyai kemampuan untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Semangat menulis ini harus dipertahankan. Walaupun terdapat kekurangan dan kesalahan di sana-sini pada saat memulai, tapi pada waktu yang akan datang setelah terbiasa menulis kekurangan itu akan hilang,” kata Prof Hasbi.

Sementara Yarmen Dinamika menganggap buku yang ditulis oleh 91 orang itu sebenarnya terlalu banyak. Tapi di sisi lain, dia mengakui buku yang ditulis secara keroyokan itu mempunyai kemudahan bagi pembaca. “Buku ini seperti swalayan. Kita cukup melihat daftar isi, dan dapat langsung menuju ke counter yang diinginkan untuk dibaca. Tidak mesti membaca bab per bab,” tutur Yarmen.

Menurut Yarmen, terdapat enam kata kunci atau “6-C” yang mesti diperhatikan dalam membedah sebuah, yaitu cover, contect, content (clean, correct), dan clarifikasi. Menurutnya, dari contect, buku ini sangat kontekstual karena diluncurkan di saat Aceh baru saja dipimpin oleh gubernur/wakil gubernur baru. Sementara dari sisi content terdapat beberapa bagian yang kurang serasi seperti ketidakseragaman penggunaan kata, istilah dan juga pemasangan foto di beberapa bab yang kurang serasi.

Buku yang dieditori oleh Teuku Zulkhairi dan diluncurkan oleh Asisten II Pemerintah Aceh Said Mustafa itu direncanakan akan disampaikan untuk menjadi masukan bagi pemerintahan baru di Aceh. Said Mustafa mewakili Wakil Gubernur Aceh menyatakan tertarik untuk membaca buku ini dan akan menyampaikan intisari kepada atasannya. “Tapi akan lebih bagus seandainya GAMNA selaku penyelenggara menyiapkan intisari masukan untuk disampaikan kepada pemerintah,”ungkap Said.

Dari 91 tulisan itu, panitia menetapkan 3 penulis terbaik dan 10 juara harapan. Kepada 13 penulis tersebut diberikan hadiah uang, buku dan sertifikat. Juara I diraih Hasan Basri M.Nur dengan judul tulisan Menanti Pemerintah Pelayan Rakyat, Juara II Sariyulis dengan tulisan Memperkuat Kewenangan Mahkamah Syariah di Aceh, dan Juara III diraih oleh Ibnu Hajar Ibrahim melalui tulisan Membangun Aceh dari Gampong. Sementara 10 juara harapan adalah Hermansyah, Makmur Dimila, Mirza Fanzikri, Muktasim Jailani, Bakhtiar, Zulkifli Hamid Paloh, As’adi Muhammad Ali, Junaidah Munawarah, Marthunis dan Fardelyn Hacky Irawati serta Ir Abdul Qaiyum. [hasan basri m nur]

= = = =

Note: Tulisan ini sudah pernah disiarkan di Tabloid Tabangun Aceh Edisi Agustus 2012.

Dari Pase Islam Sinari Nusantara

Kerajaan Samudera Pasai (orang setempat menyebutnya Samudera Pase) adalah negara Islam tertua di Asia Tenggara. Bukti keagungan Islam di sana terpahat jelas dari batu nisan rajanya yang pertama, Sultan Al-Malik Ash-Shalih (Malikussaleh) yang berdiri kokoh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara. Persis di samping makam Malikussaleh terdapat makam anaknya, Sultan Malikuzzahir, yang menjadi raja kedua Kerajaan Samudera Pasai.

Sultan Malikussaleh wafat pada bulan Ramadhan 696 H/1297 M. Sementara anaknya Sultan Malikuzzahir wafat pada 726 H/1326 M. Tidak hanya dua makam raja agung ini, tak berapa jauh dari sana, tepatnya di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, ditemukan makam Islam terindah di Asia Tenggara. Itulah makam Sultanah Nahrisyah. Dialah ratu agung yang berhasil membawa negerinya ke puncak kemakmuran dan kestabilan, ditandai simbol-simbol bintang, pepohonan dan tetumbuhan di batu nisannya yang terbuat dari batu marmar.

Kerajaan Samudera Pasai memiliki hubungan yang baik dengan pusat-pusat peradaban Islam dunia, terutama dengan Gujarat (India) dan Isfahan (Iran). Samudera Pasai menjadi representasi Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Dari tanah Pase inilah kemudian agama Islam disebarluaskan ke seluruh penjuru Nusantara hingga Asia Tenggara. Lebih dari itu, dari tanah ini pula konsep dan aksi emansipasi wanita diperkenalkan dengan tampilnya Ratu Nahrisyah ke tampuk kekuasaan tatkala perempuan-perempuan lain di Nusantara masih hidup dalam pasungan.Gambar

Selaku tempat berdirinya kerajaaan Islam tertua di Asia Tenggara, Aceh Utara memiliki sangat banyak cagar budaya yang mesti dijaga, diselamatkan bahkan perlu terus diekplorasi. “Saat ini ada 52 situs cagar budaya di Kabupaten Aceh Utara, terdiri dari tiga kategori. Pertama, baru ditemukan. Kedua, sudah tercatat, dan ketiga tercatat dan sudah tersentuh pengelolaan,” kata Nurliana MA, Kabid Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, kepada Tabangun Aceh saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (3/8/2012).

“Kami yakin sangat banyak cagar buadaya  di tanah Aceh Utara yang belum ditemukan. Karenanya kami terus berusaha mencarinya melalui ekspedisi. Sebelum sebuah jalan baru dibangun atau diperlebar kami menyusuri kemungkinan adanya situs cagar budaya di sana sehingga ia dapat diselematkan. Dalam hal ini kami sudah melalukan ekspedisi Meugat Iskandar I, II dan III,” sambung perempuan gesit yang akrab disapa Bu Ana.

Untuk menyelamatkan cagar budaya itu, Bu Ana mengaku telah mengangkat dan membayar honor kepada juru pelihara untuk merawat situs-situs itu. “Total ada 29 juru pelihara cagar budaya di Aceh Utara. 13 orang dibayar melalui APBN, 15 orang dari APBK dan 1 orang dari APBA,” sambung Bu Ana.

Pase, bukan Pasai

Ditemani budayawan Aceh, Syamsuddin Djalil (Ayah Panton), Tabangun Aceh berkunjung untuk melihat langsung beberapa situs cagar budaya di Aceh Utara, terutama makam Malikussaleh, makam Malikuzzahir dan makam Ratu Nahrasyiah. Di komplek Makam Malikussaleh kami dipandu oleh juru peliharanya, Tgk M Yakob (70), yang telah 24 tahun menjaga makam ini. Ia berbicara panjang lebar tentang sepak terjang Malikussaleh dan MalikuzzahirGambar.

Sementara di Komplek Makam Ratu Nahrisyah saat itu tidak terlihat juru peliharanya. Seorang pemuda setempat, Saiful Akbar, tiba-tiba menghampiri dan bercerita panjang lebar tentang Ratu Nahrisyah. Baik Saiful Akbar maupun Syamsuddin Djalil yang akrab disapa Ayah Panton mengaku lebih senang menggunakan kata Pase untuk Kerajaan Samudera Pasai. “Ini adalah inti kawasan Samudera Pasai dan semua orang di sini menyebutnya Pase, bukan Pasai,” kata Ayah Panton dibenarkan Saiful Akbar. Keduanya mengaku heran mengapa di buku-buku ditulis Kerajaan Samudera Pasai, bukan Samudera Pase sebagaimana sebutan penduduk setempat. [hasan basri m nur]

Note: Tulisan sudah pernah disiarkan Tabloid Tabangun Aceh milik Bappeda Aceh Edisi Agustus 2012.