Dari Pase Islam Sinari Nusantara

Kerajaan Samudera Pasai (orang setempat menyebutnya Samudera Pase) adalah negara Islam tertua di Asia Tenggara. Bukti keagungan Islam di sana terpahat jelas dari batu nisan rajanya yang pertama, Sultan Al-Malik Ash-Shalih (Malikussaleh) yang berdiri kokoh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara. Persis di samping makam Malikussaleh terdapat makam anaknya, Sultan Malikuzzahir, yang menjadi raja kedua Kerajaan Samudera Pasai.

Sultan Malikussaleh wafat pada bulan Ramadhan 696 H/1297 M. Sementara anaknya Sultan Malikuzzahir wafat pada 726 H/1326 M. Tidak hanya dua makam raja agung ini, tak berapa jauh dari sana, tepatnya di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, ditemukan makam Islam terindah di Asia Tenggara. Itulah makam Sultanah Nahrisyah. Dialah ratu agung yang berhasil membawa negerinya ke puncak kemakmuran dan kestabilan, ditandai simbol-simbol bintang, pepohonan dan tetumbuhan di batu nisannya yang terbuat dari batu marmar.

Kerajaan Samudera Pasai memiliki hubungan yang baik dengan pusat-pusat peradaban Islam dunia, terutama dengan Gujarat (India) dan Isfahan (Iran). Samudera Pasai menjadi representasi Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Dari tanah Pase inilah kemudian agama Islam disebarluaskan ke seluruh penjuru Nusantara hingga Asia Tenggara. Lebih dari itu, dari tanah ini pula konsep dan aksi emansipasi wanita diperkenalkan dengan tampilnya Ratu Nahrisyah ke tampuk kekuasaan tatkala perempuan-perempuan lain di Nusantara masih hidup dalam pasungan.Gambar

Selaku tempat berdirinya kerajaaan Islam tertua di Asia Tenggara, Aceh Utara memiliki sangat banyak cagar budaya yang mesti dijaga, diselamatkan bahkan perlu terus diekplorasi. “Saat ini ada 52 situs cagar budaya di Kabupaten Aceh Utara, terdiri dari tiga kategori. Pertama, baru ditemukan. Kedua, sudah tercatat, dan ketiga tercatat dan sudah tersentuh pengelolaan,” kata Nurliana MA, Kabid Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, kepada Tabangun Aceh saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (3/8/2012).

“Kami yakin sangat banyak cagar buadaya  di tanah Aceh Utara yang belum ditemukan. Karenanya kami terus berusaha mencarinya melalui ekspedisi. Sebelum sebuah jalan baru dibangun atau diperlebar kami menyusuri kemungkinan adanya situs cagar budaya di sana sehingga ia dapat diselematkan. Dalam hal ini kami sudah melalukan ekspedisi Meugat Iskandar I, II dan III,” sambung perempuan gesit yang akrab disapa Bu Ana.

Untuk menyelamatkan cagar budaya itu, Bu Ana mengaku telah mengangkat dan membayar honor kepada juru pelihara untuk merawat situs-situs itu. “Total ada 29 juru pelihara cagar budaya di Aceh Utara. 13 orang dibayar melalui APBN, 15 orang dari APBK dan 1 orang dari APBA,” sambung Bu Ana.

Pase, bukan Pasai

Ditemani budayawan Aceh, Syamsuddin Djalil (Ayah Panton), Tabangun Aceh berkunjung untuk melihat langsung beberapa situs cagar budaya di Aceh Utara, terutama makam Malikussaleh, makam Malikuzzahir dan makam Ratu Nahrasyiah. Di komplek Makam Malikussaleh kami dipandu oleh juru peliharanya, Tgk M Yakob (70), yang telah 24 tahun menjaga makam ini. Ia berbicara panjang lebar tentang sepak terjang Malikussaleh dan MalikuzzahirGambar.

Sementara di Komplek Makam Ratu Nahrisyah saat itu tidak terlihat juru peliharanya. Seorang pemuda setempat, Saiful Akbar, tiba-tiba menghampiri dan bercerita panjang lebar tentang Ratu Nahrisyah. Baik Saiful Akbar maupun Syamsuddin Djalil yang akrab disapa Ayah Panton mengaku lebih senang menggunakan kata Pase untuk Kerajaan Samudera Pasai. “Ini adalah inti kawasan Samudera Pasai dan semua orang di sini menyebutnya Pase, bukan Pasai,” kata Ayah Panton dibenarkan Saiful Akbar. Keduanya mengaku heran mengapa di buku-buku ditulis Kerajaan Samudera Pasai, bukan Samudera Pase sebagaimana sebutan penduduk setempat. [hasan basri m nur]

Note: Tulisan sudah pernah disiarkan Tabloid Tabangun Aceh milik Bappeda Aceh Edisi Agustus 2012.

Iklan

One thought on “Dari Pase Islam Sinari Nusantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s