Hidup Makmur dengan Ternak Lembu


Setiap orang mendambakan masa depannya yang lebih baik dan menjanjikan. Usia produktif di masa muda mesti dimanfaatkan dengan efektif dalam menyongsong masa tua yang stabil dan mapan. Begitulah keyakinan dan kerja nyata yang ditunjukkan oleh Rasyidi (46) dalam menapaki kehidupan ini. Dia cepat tersadar dari aktivitas hidup yang kurang menjanjikan masa depan dan segera mengubah haluan ke profesi baru yang dinilai lebih menjanjikan.
Ditemui di sebuah kandang sapi berukuran sekitar 20 x 30 meter, Rasyidi bercerita panjang lebar tentang lika liku sejarah hidupnya. Ayah tiga anak ini awalnya berprofesi sebagai sopir truck di Kota Banda Aceh. Setiap hari, sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam, dia menjalani aktivitas rutin mengangkut pesanan pasir dan material bangunan ke para pelanggan di seputaran Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Hampir seluruh waktu dia habiskan di jalan, nyaris tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga.
“Dulunya saya sopir truck di Banda Aceh. Tapi sejak tahun 1997 saya memutuskan pulang kampung dan mengalih profesi menjadi peternak sapi. Saya meilihat usaha ternak sapi ini sangat menjanjikan. Berbekal uang tabungan dari sopir truck saya membeli 6 ekor sapi dan memeliharanya hingga pada penghujung tahun 2004 jumlahnya menjadi 132 ekor,” ungkap Rasyidi di sela-sela kesibukannya membersihkan kandang sapi, Jumat (31/8/2012) sore.
Lelaki kekar dan gesit ini sangat yakin bahwa usaha peternakan sangat menjanjikan jika dikelola secara serius. Hanya dalam tempo 7 tahun, jumlah ternak sapi miliknya membengkak hingga berlipat-lipat ganda. Dari 6 ekor sapi menggurita ke angka 132 ekor sapi. Sebuah angka fantastis untuk seorang peternak yang berusaha secara otodidak.
Disapu tsunami
Dikala Rasyidi sedang bahagia-bahagianya melihat kerja kerasnya telah berbuah. Tiba-tiba, Minggu pagi 24 Desember 2004, sebanyak 128 ekor sapi miliknya hilang tersapu ombak laut yang datang usai megagempa 9,1 Skala Richter. Rasyidi hanya bisa menatap ternak-ternak peliharaannya itu hanyut terseret ombak raksasa. Dia tak kuasa menyelamatkan hewan-hewan itu, kecuali hanya 4 ekor yang mengikuti jejak langkahnya menuju bukit.
“Hanya 4 ekor sapi yang selamat dari musibah tsunami. Itu pun karena ikut lari bersama kami ke bukit yang tidak jauh dari tempat kediaman kami di Desa Babah Nipah Aceh Jaya. Sementara 128 ekor yang lain hilang dan mati. 4 ekor sapi yang selamat itu kemudian menjadi modal dalam memulai usaha baru,” ujar ayah yang tetap memandang penting pendidikan untuk anak-anaknya itu.
Meski mengalami keurgian besar dari musibah tsunami, Rasyidi mengaku bersyukur karena selain masih diberi kesempatan hidup, juga masih tersisa 4 ekor sapi sebagai modal untuk kembali bekerja. “Itu adalah cobaan dan kita harus bisa menerimanya. Selama kita masih mau berusaha, Tuhan pasti akan kembali membuka pintu rezeki kepada Hamba-Nya,” sambung Rasyidi yang kini juga memiliki bengkel mobil dan kebun dari usaha peternakan.
Berbekal 4 ekor ternak sapi sisa tsunami, Rasyidi dengan penuh kayakinan berusaha memulai hidup baru. Perlahan namun pasti, ternak-ternak itu terus bertambah. Kini, setelah 7 tahun musibah tsunami, Rasyidi kembali tersenyum. Hasil kerja kerasnya telah berbuah. Bahkan jumlahnya melebihi saat musibah tsunami terjadi. Saat ini, ia memiliki hampir 200 ekor ternak sapi dan kerbau. Begitu banyak jumlahnya hingga dia sendiri tidak lagi ingat lagi angka pastinya.
“Di kandang ini ada sekitar 70 ekor sapi, di kandang sebelahnya ada 14 ekor kerbau. Di kandang belakang rumah ada beberapa ekor sapi bali, serta ada sekitar 50 ekor yang saya titip pada orang lain dengan sistim mawah (bagi hasil, red),” ungkap Rasyidi sembari menuntun Tabangun Aceh ke beberapa kandang ternak miliknya di Desa Gampong Baro Patek, Kecamatan Darul Hikmah.
Beternak telah menjadi pekerjaan utama Rasyidi. Untuk menghidupi keluarga dia biasa menjual sebagian ternaknya yang telah memenuhi syarat dari segi usia, ukuran dan kesehatan. Harganya bervariasi, antara 16 juta sampai 26 juta rupiah. Setiap tahun dia menjual sekitar 8 ekor. Wow, sebuah angka yang menakjubkan! Selain dipakai untuk biaya hidup, sebagian uang itu dia pakai untuk membeli ternak baru dari masyarakat, termasuk ternak-ternak kurus yang tak terawat untuk dipulihkan.
Setiap tahun Rasyidi rutin mengeluarkan hak untuk fakir miskin melalui zakat dan qurban. Tidak hanya itu Rasyidi bahkan telah mendaftarkan haji untuk dirinya, isteri dan seorang putranya yang sedang menanjak pemuda dan kuliah di FKM Unmuha Banda Aceh. “Alhamdulillah kami telah menyetor ONH, dan Insya Allah tahun 2017 kami akan berangkat ke tanah suci,” katanya.
Ayah dari Wahyudi (17), Ahlul Karmi (11) dan Rahmat Maulidi (3,5) ini mengaku bangga menjadi peternak sapi, walau dirinya sendiri tidak pernah mendapatkan pendidikan formal tentang peternakan. Selain mendorong para peternak yang ada di Aceh untuk lebih serius dalam menggarap usaha ini, Rasyidi juga mengharapkan adanya perhatian pemerintah yang lebih besar untuk usaha ini. “Minimal harus ada pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan rutin”, harap dia. [hasan basri m nur]

Note: Tulisan ini sudah pernah dipublikasi Tabloid Tabangun Aceh, Edisi Septermber 2012, dengan judul: Pensiun dari Sopir, Sukses Jadi Peternak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s