Menanti Rumah Layak Huni

Lain Suryani, lain pula Rasyidah dan Saifuddin. Jika Suryani dan anak-anaknya kini telah tersenyum karena sudah mendapatkan rumah bantuan, tapi dada Rasyidah dan Saifuddin masih berdebar-debar menanti datangnya rahmat berupa rumah layak huni dari Pemerintah Aceh.

Rasyidah (40) bermukim di Desa Tuha Biheu, Kemukiman Kale, Kabupaten Pidie. Desa ini termasuk wilayah terkena dampak tsunami  pada 26 Desember 2004 lalu. Sebagian warga sudah mendapatkan rumah bantuan dari pelaku rehab-rekon saat itu. Tapi Rasyidah tidak beruntung dan luput dari bantuan itu.

Rasyidah bersama suami dan 5 putra-putrinya yang masih kecil menetap di rumah gubuk yang bocor di sana-sini. Tragisnya lagi, pada tahun 2011 lalu rumahnya yang terbuat dari kayu sempat terbakar. Suaminya, Abdul Dahlan, yang berprofesi sebagai nelayan tak kuasa membangun rumah layak huni bagi Rasyidah dan anak-anaknya. Dahlan hanya mampu membuat “istana” dari bahan-bahan bekas.

“Saat hujan datang, anak-anak selalu mengeluh. Mereka menangis. Saya tak dapat berbuat apa-apa selain meminta bersabar sembari memindahkan mereka ke tempat yang tidak bocor,” tutur Rasyidah didampingi pemuda setempat, Faslun (25), kepada Tabangun Aceh, Sabtu (13/10/2012).

Saifuddin (warga Desa Beureunuet Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar) bersama isteri dan dua puteranya bertahun-tahun tinggal di rumah gubuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

Minum Air Sungai

Sama seperti Rasyidah, Saifuddin (42) dan keluarganya tinggal di rumah gubuk yang dibangunnya pada tahun 2003 di Desa Beureunuet, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar. Tidak ada listrik, tidak ada sekat kamar, dan atapnya bolong-bolong di sana-sini. Tidak hanya itu, tempat tinggal Saifuddin bahkan tidak memiliki sumber air bersih seperti sumur.

“Rumah ini saya bangun dengan menggunakan kayu-kayu bekas pada tahun 2003 lalu. Jika datang hujan di malam hari, kami harus rela tidur di bawah tetesan air di malam yang gelap,” ujar Saifuddin didampingi isterinya Muharni dan dua putranya yang masing-masing duduk di kelas 1 dan kelas 3 SD.

Selain tinggai di rumah tidak layak huni, Saifuddin dan keluarganya sudah terbiasa menggunakan air sungai untuk dikonsumsi. “Untuk keperluan memasak, kami selalu mengambil air sungai. Kebanyakan warga desa di sini sudah terbiasa seperti itu,” katanya.

Saifuddin tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehari-hari dia menunggu panggilan dari orang-orang yang membutuhkan tenaganya untuk membersihkan kebun, membuat pagar dan sebagainya. “Selain itu, setahun sekali saya bertani cabai,” katanya.

Rasyidah dan Saifuddin adalah dua dari sekian KK di Aceh yang hidup dalam rumah gubuk. Masih terdapat puluhan ribu KK miskin lainnya yang bernasib sama bahkan lebih pilu dari mereka. Karena itulah Pemerintah Aceh dalam RPJMA 2012-2017 bertekad untuk menanggulangi kemiskinan yang salah satu caranya adalah dengan membangun rumah layak huni bagi kaum dhuafa. [hasan basri m nur]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s