Selamat Tinggal Gubuk Tua

Suryani (39) dikelilingi anak-anaknya berdiri di antara rumah gubuk dan rumah bantuan tipe 36 yang dibangun dari dana APBA 2010.

Dari jauh, tak ada yang mengira jika bangunan reot nan sempit itu sebagai tempat tinggal manusia, apalagi untuk menampung satu kepala keluarga (KK) dengan jumlah insan 10 orang. Jika Anda tak menghampiri dan berusaha untuk mengetahuinya, Anda pasti menduga bangunan lusuh berdinding seng bekas dan daun kelapa (bleut) serta beratap daun rumbia adalah kandang ayam.
Anda akan tersentak saat menghampiri bangunan lusuh beralaskan tanah itu. Ternyata selama bertahun-bertahun bangunan itu menjadi tempat berteduh bagi satu keluarga anak manusia. Di situlah Suryani (39) bersama suami dan 8 putra-putrinya menetap.
“Rumah” itu tak punya kamar, tak punya pintu, tak punya jendela, tak punya listrik, apalagi televisi atau AC yang lazim dimiliki warga kota. Mereka tidur di dalamnya dengan berdesak-desakan di atas tempat tidur yang terbuat dari papan bekas. Suryani memanfaatkan bagian bawah tempat tidurnya sebagai dapur tempat memasak.
Tinggal dalam gubuk tua ukuran 3×3 meter adalah derita paling pahit yang dirasakan Suryani dan keluarganya. Selama bertahun-tahun ia bersama suami dan 8 orang anaknya tinggal di gubuk reot itu. “Sebelumnya kami tinggal di Langsa, ikut suami yang jualan ikan di sana. Tapi sejak 4 tahun lalu kami pulang kampung dan menetap di rumah ini,” ujar Suryani kepada Tabangun Aceh di rumahnya di Desa Neulop, Kemukiman Reubee, Kabupaten Pidie, Sabtu (13/10/2012).
“Derita yang pedih adalah jika terjadi hujan pada malam hari. Air hujan akan masuk ke rumah dari semua sisi. Dari atas, dari bawah dan bahkan dari dinding. Tak ada pilihan lain saat hujan datang, saya membawa anak-anak ke meunasah dan tidur di sana sampai subuh,” sambung Suryani dibenarkan Jafar (30), pemuda setempat yang mendampingi Tabangun Aceh ke lokasi rumah Suryani.

Rumoh Batee
Itu dulu. Semuanya kini telah menjadi kenangan. Suryani dan anak-anaknya kini telah tersenyum. Keluarga fakir ini adalah salah satu penerima rumah dhuafa dari Pemerintah Aceh pada tahun 2010. Suryani kini tak perlu lagi mengungsi ke meunasah jika terjadi hujan pada malam hari. Sejak 2011 dia sudah menetap di rumoh batee (sebutan masyarakat setempat untuk rumah beton permanen).
“Sejak awal tahun 2011 kami menetap di rumah baru ini,” tutur Suryani di bawah kerumunan anak-anaknya yang masih kecil-kecil sembari mengajak Tabangun Aceh masuk ke rumah tipe 36 yang baru selesai dibangun oleh PT Nanggroe Aceh.
“Alhamdulillah, mendapat rumah bantuan dari Pemerintah Aceh adalah rahmat terbesar dalam hidup kami. Tidak ada kata lain, selain rasa syukur selalu panjatkan kepada Allah,” sambung Suryani yang tukang cuci pakaian ini dengan mata berkaca-kaca.
Tidak hanya Suryani. Cukup banyak penduduk miskin di Aceh yang sudah mendapatkan rumah dhuafa. Di desa yang sama, tak jauh dari rumah Suryani, terdapat pasangan Mahmud (65) dan Juwairiah (45) yang juga sudah menempati rumah bantuan dari Pemerintah Aceh. Pasangan yang memiliki 9 anak ini, kini dapat bernafas lega setelah rumah untuknya selesai dibangun pada tahun 2011 lalu.
Pembangunan rumah bantuan untuk fakir miskin termasuk salah satu program prioritas Pemerintah Aceh. Dalam naskah Rencana Pembanguan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2012-2017, Pemerintah Aceh menargetkan pembangunan 100.000 rumah layak huni bagi penduduk miskin di seluruh Aceh. [hasan basri m nur]
= = = =

A. KRITERIA KELUARGA MISKIN
1. Hidup dalam rumah dengan ukuran ± 8 m2 per orang
2. Hidup dalam rumah dengan lantai tanah/kayu berkualitas rendah/bambu.
3. Hidup dalam rumah dengan dinding terbuat dari kayu berkualitas rendah/bambu/rumbia.
4. Hidup dalam rumah yang tidak dilengkapi WC.
5. Hidup dalam rumah tanpa listrik.
6. Tidak mendapatkan fasilitas air bersih/sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.
7. Menggunakan kayu bakar, arang untuk memasak.
8. Tidak mengkonsumsi daging atau susu seminggu sekali.
9. Belanja satu set pakaian baru setahun sekali.
10. makan hanya sekali atau dua kali sehari.
11. Tidak mampu membayar biaya kesehatan pada puskesmas terdekat.
12. Pendapatan keluarga kurang dari Rp.600.000,- per bulan.
13. Pendidikan kepala keluarga hanya setingkat sekolah dasar.
14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengah nilai Rp.500.000,-.
15. Mempekerjakan anak di bawah umur 18 tahun.
16. Tidak mampu membiayai anak untuk sekolah.
è Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga dikategorikan sebagai rumah tangga miskin

B. Kriteria Rumah Tidak Layak Huni
1. Luas lantai perkapital kota <4m2, desa <10m2 .
2. Sumber air tidak sehat, akses memperoleh air bersih terbatas
3. Tidak mempunyai akses MCK
4. Bahan bangunan tidak permanen atau atap/dinding dari bambu/rumbia
5. Tidak memiliki pencahayaan matahari dan ventilasi udara
6. Tidak memiliki pembagian ruangan
7. Lantai dari tanah dan rumah lembab atau pengab
8. Letak rumah tdk teratur dan berdempetan
9. Kondisi rusak [sumber: Bappeda Aceh 2012]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s