Menghubungkan Aceh dengan Australia

Banyak potensi yang dimiliki anak-anak Aceh. Tapi terkadang potensi itu pupus karena seseorang tidak mendapatkan informasi yang memadai untuk mengembangkan potensi diri. Seorang anak dari keluarga kurang mampu dan tinggal di pelosok desa sekalipun memiliki peluang untuk berkembang jika ia memperoleh informasi tentang tempat mengembangkan potensi diri. Informasi beasiswa pendidikan S2, S3 dan aneka pendidikan lainnya menjadi salah satu pijakan utama bagi seseorang dalam menuai sukses dalam kehidupan.

            Beranjak dari fakta itulah, Samsul Bahri Usman, S.Pd, M.Ed (40) membuat komitmen pribadi dalam membantu pembangunan melalui pelatihan dan penyebaran informasi pendidikan di luar negeri, khususnya Australia. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SMK-3 Banda Aceh dan Kepala Pusat Bahasa Universitas Muhammadiyah (Unmuha) ini mengabdikan diri untuk tujuan itu.

Ia tak pernah merasa lelah dalam mengampanyekan potensi anak-anak Aceh ke Australia. Sebaiknya ia tak pernah merasa jenuh dalam menyakinkan Pemerintah Autralia guna mengucurkan sebagian uangnya untuk membiayai pendidikan anak-anak Aceh. Pikiran, tenaga dan uang sudah tak terhitung nilainya demi misi mencerdaskan generasi muda Aceh.

“Alhamdulillah, Kedutaan Besar Autralia mempercayakan saya menjadi Duta Beasiswa Autralia untuk Aceh sejak 7 tahun lalu. Setiap tahun saya dibekali informasi tentang dunia pendidikan di Australia untuk saya sampaikan kepada anak-anak Aceh,” ujar Samsul Bahri saat ditemui Tabangun Aceh, Selasa petang (18/12/12), di tempat kursus miliknya Kangguru International Education Service (KIES) Aceh, di Jalan Tanjung Indah Utama No. 12, Komplek Dolog, Desa Tanjung, Pagar Air, Aceh Besar.

Alumnus FKIP Bahasa Inggris Unsyiah dengan prediket Cumlaude tahun 1995 itu menambahkan, dia menginginkan generasi muda Aceh agar memanfaatkan setiap peluang beasiswa yang ada. “Dulu terasa sulit mendapatkan informasi beasiswa di luar negeri. Tapi kini di KIES Aceh kami memandu setiap orang yang ingin mendapatkan informasi tentang beasiswa di Australia, dan itu gratis. Kami sediakan waktu pada hari kerja dari pukul 9.00-16.00 WIB untuk yang mau konsultasi atau mau baca brosur-brosur universitas di Australia,” tambah suami dari Nanda Fajri ini.

“Sejak 2009 kami sudah menjalin kerja sama dengan PT di Australia. Ada 10 PT di Australia yang sudah memiliki kerjasama dengan KIES termasuk Flinders University, Deakin University, Monash University dan tujuh PT ternama lainnya,” papar alumnus penerima beasiswa Australian Development Scholarships (ADS) di Flinders University tahun 2002-2004 ini.

Tidak hanya itu, pada tahun 2009 Samsul berhasil memfasilitasi kerjasama antara Pemerintah Aceh dengan beberapa PT di Australia. “Sejak 2009 sudah ada MoU antara Pemda Aceh dan beberapa PT di Autralia untuk penempatan penerima beasiswa Pemda Aceh,” kata ayah dari Nadia Barosa Bahri (9).

Sebagai duta beasiswa pemerintah Australia, Samsul mendirikan Autralian Corner di Banda Aceh sebagai Pusat Informasi Studi Australia dan Alumni Provinsi Aceh. “Alumni penerima beasiswa Pemerintah Australia mempunyai komitemen untuk menyebarkan informasi studi di Autralia. Kami akan menghubungkan alumni SMA, S1 dan S2 di Aceh dengan Perguruan Tinggi (PT) di Australia,” sambung pria yang mengecap pendidikan SD hingga SMA di Kota Lhokseumawe ini.

GambarTest IELTS dan ITP

Untuk mempermudah calon mahasiswa asal Aceh belajar di Autralia, Samsul sengaja membuka tempat kursus Bahasa Inggris. “Kami membuka kelas kursus mulai kelas untuk anak-anak SD hingga kelas mahasiswa dan eksekutif. Kelas eksekutif bisa untuk pejabat, karyawan swasta, pekerja profesional dan anggota dewan. Para pengajarnya rata-rata alumni ADS. Ada juga volunteer (relawan, red) dari Australia yang menjadi native speaker.” katanya.

Alhamdulillah, lebih 50 % penerima beasiswa ADS pernah mengecap pendidikan di tempat kami, dan hampir seluruh penerima beasiswa ADS pernah mendapatkan informasi beasiswa ADS dari sini,” urai Samsul dengan raut muka terharu.

Lebih dari itu, untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anak Aceh, Samsul telah berhasil menjalin kerjasama dengan penyelenggara test IELTS internasional dan KIES Aceh sejak 2010 dipercaya sebagai tempat test IELTS. Sementara untuk test TOEFL, KIES Aceh telah dipercaya oleh Kantor The Indonesian International Education Foundation (IIEF) Jakarta sebagai tempat test TOEFL ITP mulai Januari 2013.

“Untuk test IELTS dan TOEFL tak perlu lagi ke Medan atau Jakarta yang membutuhkan biaya ekstra. KIES Aceh sudah dipercaya sebagai tempat test IESLT dan TOEFL ITP dan diakui semua PT di dunia. Dalam setahun ada empat kali testing, bahkan dapat dilaksanakan per bulan jika jumlah pesertanya mencukupi. Biaya test IELTS sebesar 195 USD, dan TOEFL ITP sebesar Rp 350 ribu ,” papar Samsul sembari mempersilahkan pembaca membuka http://www.kiesaceh.com. [hasan basri m nur]

= = = = = =

Note: Tulisan ini telah pernah dimuat di Tabloid Tabangun Aceh milik Pemerintah Aceh, edisi Desember 2012.

Lintas Krueng Raya – Laweung mulai Ramai

Selain melalui rute Gunung Seulawah, akses ke Kota Banda Aceh dapat dicapai melalui lintasan Laweung (Pidie) – Krueng Raya (Aceh Besar). Jarak dari Pasar Laweung ke Pelabuhan Malahayati tepat 50 KM. Ini artinya jika kendaraan melaju dengan kecepatan rendah 50 KM/jam, ia dapat diraih dalam waktu 50 menit.

Kamis (15/11/2012) Tabangun Aceh sengaja melintasi rute Krueng Raya – Laweung. Kondisi jalan di sana mulai membaik, kecuali di beberapa bagian di wilayah Aceh Besar seperti di Beureunuet dan Lampanah kondisinya bolong di beberapa titik. Sementara menjelang memasuki Pidie kondisinya jauh lebih bagus. Ini mungkin karena usia aspal jalan yang masih baru.

Hanya saja, di dekat perbatasan Aceh Besar  dengan Pidie ditemukan 4 KM badan jalan yang sama sekali belum tersentuh aspal. Di ruas ini para pengendara harus memperlambat kendaraannya hingga 15/km. Warga yang sering melintasi jalan ini, baik yang bermukim di Laeung maupun Lampanah, berharap agar kondisi jalan itu dapat segera ditangani, sehingga memudahkan mereka dalam mengangkut hasil alam ke Kota Banda Aceh atau sebaliknya.

Gambar

“Mohon jalan sisa 4 KM lagi ini segera diaspal. Kami setiap hari melintasi jalan ini. Dengan membaiknya jalan ini kami dapat lebih mudah dalam melintas serta memasarkan hasil kebun,” ujar M. Ali Arsyad (57), Sekretaris Desa Blang Raya, Muara Tiga, Pidie, yang ditemui di lokasi jalan yang beraspal itu.

View menakjubkan

Meski terdapat 4 KM yang belum beraspal, tapi pengendara tampak lalu lalang. Sebagian pengendara tampak duduk sambil beristirahat di kaki bukit yang di hadapannya terbentang Selat Malaka. Mentari Hermawan, warga Lamlagang Banda Aceh, mengaku menikmati pemandangan di lintasan itu karena suasananya berbeda dibanding lintas Seulawah.

“View di lintasan Kr Raya – Laweung memang beda, terutama di dekat perbatasan. Di sisi kanan ada bukit, tapi hadapannya ada bentangan Selat Malaka. Saya nyetir sendiri, bisa melihat utuh Gunung Seulawah dan hamparan laut sekaligus. Menakjubkan, damai dan bersahabat. Saat pulang saya suka beli buah-buah dari kebun warga di sana,” ujar perempuan cantik yang akrab disapa Tari.

Tari berharap pemerintah menghidupkan lintasan ini. Selain dapat dijadikan sebagai objek wisata, saat lintasan ini ramai akan memberi dampak positif bagi kemajuan ekonomi masyarakat setempat. “Ia akan membantu mengurangi angka kemiskan kan?,” gugah Tari yang kerap melintasi jalan itu dengan mobil Toyota Innova keluaran 2012.

Sementara kondisi jalan Laweung – Batee via Guha Tujoh kondisinya sangat memprihatinkan. Jalannya masih tersusun dari batu gunung yang runcing. Di beberapa bagian tampak lubang menganga dan tumbuhan. Jalan itu sangat sulit dilalui oleh kendaraan pribadi, terutama mobil sedan.

“Pemilik kendaraan sebaiknya tidak melewati jalan itu. Kita dapat berbelok ke arah Simpang Beutong saat sampai di Pasar Laweung. Jangan ambil arah lurus ke Batee, karena kondisi jalannya terjal dan berbatu,” saran Tari. [hasan basri m nur]

== ==

Alquran bukan Skripsi

Oleh Hasan Basri M. Nur

PASCATSUNAMI, Aceh beruntun ditimpa isu dan aksi pendangkalan akidah, mulai aliran sesat hingga upaya pemurtadan. Jika sebelumnya aksi itu diduga lebih banyak dilakoni oknum aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing, maka baru-baru ini mencuat dalam bentuk baru yang lebih terdidik. Seorang dosen satu perguruan tinggi di Lhokseumawe, Mirza Alfath, ditengarai menghina Islam serta mendukung aksi kejam zionis Israel yang membantai umat Islam di Palestina (Serambi, 23/11/2012).

Aksi Mirza disebut-sebut sudah berlangsung lama. Hanya saja tidak mencuat ke permukaan karena dia menyampaikan penghinaan terhadap Islam melalui akun facebook. Celotehan-celotehan liar Mirza sempat diangkat ke permukaan oleh media cetak terbitan Medan pada Juni 2012, tapi tak mempan dalam menghentikan aksinya. Akhirnya, propaganda murahan dosen itu mencuat kembali ke permukaan melalui Surat Pembaca yang ditulis Teuku Zulkhairi di Rubrik Droe Keu Droe (Serambi, 20/11/2012).

Sebenarnya, perbedaan pendapat dalam Islam adalah hal biasa dan itu dapat mendorong lahirnya peradaban sebagaimana yang pernah berlangsung pada masa Dinasti Abbasiyah di Baghdad (750-1258 M) atau Dinasti Bani Umayyah II di Spanyol (711-1492 M) hingga abad modern yang berpusat di Mesir (1800-1900-an M). Saat itu para sarjana muslim mendalami Islam, mengkajinya dan kemudian menulisnya dalam bentuk buku yang sebagian besar masih dapat diperoleh hingga kini. Ilmuwan Barat mengakui, keberadaan Islam di Spanyol serta karya-karya ilmuwan muslim abad pertengahan menjadi modal bagi renaissance (kebangkitan kembali) bangsa Eropa.

Sementara Mirza hanya melontarkan “ocehan-ocehan liar” dan menghina agama melalui kalimat-kalimat singkat di dinding facebook. Di sini terlihat ada sikap kekanak-kanakan dan kebencian. Seandainya dia menulis gugatannya melalui karya ilmiah semacam buku, makalah atau minimal opini untuk disodorkan kepada publik patut diapresiasi untuk kemudian ditanggapi oleh pihak lain. Beginilah wujud pembelajaran yang dinantikan dalam merintis peradaban Aceh yang memang sedang terpuruk.

 Isyarat ilmiah dalam Quran
Salah satu fokus hujatan Mirza adalah tentang keberadaan Alquran. Sepertinya dia meragukan Alquran benar-benar bersumber dari Tuhan. Menurutnya, Alquran itu tidak ilmiah dan isinya berseberangan dengan temuan ilmiah. Wah, ini adalah pikiran paling sesat yang pernah terdengar. Ini menujukkan bahwa dia kekurangan referensi dalam memahami Islam. Sebab, jangankan ilmuwan muslim, ilmuwan sekular dan atheis di belahan dunia Barat pun banyak yang mengaku kagum terhadap isi dan substansi Alquran setelah mereka mempelajarinya. Itulah sebabnya, ada agama tertentu yang melarang keras penganutnya untuk membaca Alquran karena khawatir dapat “terjerumus”.

Alquran bukanlah karya ilmiah yang lahir dari sebuah penelitian dan lengkap dengan referensi di dalamnya. Nabi Muhammad (570-632 M) bukanlah peneliti dan ia tidak diwajibkan untuk melakukan penelitian sebagaimana mahasiswa S1 dalam menyusun skripsi. Alquran harus dilihat sebagai panduan hidup bagi manusia yang mesti diikuti. Mengikutinya akan mendapat ganjaran kebahagian di dunia dan akhirat sekaligus. Kebahagian dunia terlihat dari terwujudnya ketertiban dan kesejahteran publik. Sementara kebahagiaan akhirat diperoleh setelah terpisahnya jasad dan roh manusia. Ini masuk kavling kajian alam gaib yang Insya Allah akan saya rasionalkan pada kesempatan lain.

Muhammad menyampaikan apa adanya wahyu Tuhan, tidak bertanya mana referensinya atau memeriksanya terlebih dahulu melalui riset. Ini berbeda dengan seorang dosen saat menerima lembaran-lembaran skripsi dari mahasiswa yang mempertanyakan landasan teori, rujukan hingga data lapangan. Muhammad bukanlah peneliti bahkan dia tidak punya bacaan awal tentang kandungan wahyu yang diterimanya.

Setelah menerima wahyu, Muhammad meminta para sahabat untuk menghafal dan menulisnya agar tak ada yang luput. Keotentikannya pun tidak diragukan, karena Alquran kemudian dibukukan pada zaman Khalifah Utsman bin Affan (576-656 M). Dalam hal ini, tidak ada kitab suci manapun di bumi ini yang setara dengan Alquran. Alquran juga terlarang untuk diedarkan dalam bentuk terjemahan yang tidak disertai teks asli di dalamnya. Bandingkan dangan kitab suci agama lain! Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang akan memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).

Meski tidak lahir dari sebuah penelitian, tapi isi dan substansi Alquran dipersilahkan untuk diuji. Ini selaras dengan anjuran Islam yang meminta manusia untuk menggunakan akal dan menjanjikan derajat yang tinggi bagi ilmuwan. Meski bukan karya ilmiah, beberapa ayat Alquran berisi isyarat ilmiah. Isyarat ilmiah beda dengan karya ilmiah. Alquran tidak mencantumkan teori dan langkah-langkah detil untuk menguji isinya. Disinilah manusia didorong untuk menggunakan otaknya, bukan bruek teu-ot alias lutut.

Sangat banyak ayat Alquran yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, tapi baru di abad modern kebenarannya dapat dibuktikan. Isyarat-isyarat ilmiah yang terkadung dalam Alquran telah mendorong para sarjana dari berbagai negara untuk menelitinya. Alquran menjadi inspirasi bagi mereka untuk melakukan penelitian tentang isyarat-isyarat ilmiah yang terkandung di dalamnya.

Sebagaimana dilansir Quraish Shibab dalam buku Membumikan Al-Quran (1997) dan Mukjizat Al-Quran (2003), di antara isyarat ilmiah yang sudah terbukti adalah cahaya bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS. 10:5); pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi serta pergerakan gunung (QS. 27:88); perbedaan sidik jari manusia (QS. 75:4); pemisah dua laut yang berdampingan yang satu airnya tawar dan satunya lagi asin (QS. 25:53); dan banyak lagi.

Poin-poin di atas tidak diketahui manusia yang hidup pada zaman Muhammad, tapi baru dapat dibuktikan pada zaman modern. Dr Maurice Bucaille dari Perancis dalam bukunya Al-Quran, Bible dan Sains Modern menyimpulkan bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang berseberangan dengan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1975 dia bahkan masuk Islam setelah meneliti jasad Firaun yang ternyata tepat seperti prediksi Alquran. Belakangan disebut-sebut, seorang ilmuwan Yahudi masuk Islam setelah meneliti ayat Alquran tentang masa iddah perempuan (republika.co.id, 31/8/2012).

 Bersifat global
Sebagian besar ayat Alquran bersifat global sehingga selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Ayat-ayat ini butuh penafsiran mendalam dengan melihat berbagai aspek, termasuk asbabun nuzul dan kondisi sosial. Teks Alquran tidak boleh dilihat dengan menggunakan “kacamata kuda” dan mengabaikan rasionalisasi. Lahirnya penafsiran yang berbeda oleh para mufassir terhadap ayat yang sama mendapat penghargaan dalam Islam. Sebaliknya mendustakan ayat Alquran dianggap sudah keluar dari Islam.

Akhirnya, kita berharap agar upaya-upaya pendangkalan akidah dan penyesatan di Aceh dapat diakhiri dengan melacak kemungkinan adanya sponsor di balik fenomena itu. Selain itu, untuk mencegah kemuculan pemikiran prematur dari generasi baru seperti yang sempat menjangkiti Mirza Alfath (kini yang bersangkutan telah disyahadatkan kembali-red), satu caranya adalah agar para guru, pemuka agama dan orangtua diharapkan mampu memberi penjelasan yang berbasis naqli (dalil) serta aqli (rasionalitas) dalam menjelaskan agama. Jadi, hindari pengajaran yang semata-mata berbasis dogma dalam mendidik generasi baru. Semoga!

— — —

Tulisan ini dimuat di Rubrik Opini Harian Serambi Indonesia (http://aceh.tribunnews.com/2012/12/07/alquran-bukan-skripsi) Banda Aceh, Jumat (7/12/12).