Alquran bukan Skripsi

Oleh Hasan Basri M. Nur

PASCATSUNAMI, Aceh beruntun ditimpa isu dan aksi pendangkalan akidah, mulai aliran sesat hingga upaya pemurtadan. Jika sebelumnya aksi itu diduga lebih banyak dilakoni oknum aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing, maka baru-baru ini mencuat dalam bentuk baru yang lebih terdidik. Seorang dosen satu perguruan tinggi di Lhokseumawe, Mirza Alfath, ditengarai menghina Islam serta mendukung aksi kejam zionis Israel yang membantai umat Islam di Palestina (Serambi, 23/11/2012).

Aksi Mirza disebut-sebut sudah berlangsung lama. Hanya saja tidak mencuat ke permukaan karena dia menyampaikan penghinaan terhadap Islam melalui akun facebook. Celotehan-celotehan liar Mirza sempat diangkat ke permukaan oleh media cetak terbitan Medan pada Juni 2012, tapi tak mempan dalam menghentikan aksinya. Akhirnya, propaganda murahan dosen itu mencuat kembali ke permukaan melalui Surat Pembaca yang ditulis Teuku Zulkhairi di Rubrik Droe Keu Droe (Serambi, 20/11/2012).

Sebenarnya, perbedaan pendapat dalam Islam adalah hal biasa dan itu dapat mendorong lahirnya peradaban sebagaimana yang pernah berlangsung pada masa Dinasti Abbasiyah di Baghdad (750-1258 M) atau Dinasti Bani Umayyah II di Spanyol (711-1492 M) hingga abad modern yang berpusat di Mesir (1800-1900-an M). Saat itu para sarjana muslim mendalami Islam, mengkajinya dan kemudian menulisnya dalam bentuk buku yang sebagian besar masih dapat diperoleh hingga kini. Ilmuwan Barat mengakui, keberadaan Islam di Spanyol serta karya-karya ilmuwan muslim abad pertengahan menjadi modal bagi renaissance (kebangkitan kembali) bangsa Eropa.

Sementara Mirza hanya melontarkan “ocehan-ocehan liar” dan menghina agama melalui kalimat-kalimat singkat di dinding facebook. Di sini terlihat ada sikap kekanak-kanakan dan kebencian. Seandainya dia menulis gugatannya melalui karya ilmiah semacam buku, makalah atau minimal opini untuk disodorkan kepada publik patut diapresiasi untuk kemudian ditanggapi oleh pihak lain. Beginilah wujud pembelajaran yang dinantikan dalam merintis peradaban Aceh yang memang sedang terpuruk.

 Isyarat ilmiah dalam Quran
Salah satu fokus hujatan Mirza adalah tentang keberadaan Alquran. Sepertinya dia meragukan Alquran benar-benar bersumber dari Tuhan. Menurutnya, Alquran itu tidak ilmiah dan isinya berseberangan dengan temuan ilmiah. Wah, ini adalah pikiran paling sesat yang pernah terdengar. Ini menujukkan bahwa dia kekurangan referensi dalam memahami Islam. Sebab, jangankan ilmuwan muslim, ilmuwan sekular dan atheis di belahan dunia Barat pun banyak yang mengaku kagum terhadap isi dan substansi Alquran setelah mereka mempelajarinya. Itulah sebabnya, ada agama tertentu yang melarang keras penganutnya untuk membaca Alquran karena khawatir dapat “terjerumus”.

Alquran bukanlah karya ilmiah yang lahir dari sebuah penelitian dan lengkap dengan referensi di dalamnya. Nabi Muhammad (570-632 M) bukanlah peneliti dan ia tidak diwajibkan untuk melakukan penelitian sebagaimana mahasiswa S1 dalam menyusun skripsi. Alquran harus dilihat sebagai panduan hidup bagi manusia yang mesti diikuti. Mengikutinya akan mendapat ganjaran kebahagian di dunia dan akhirat sekaligus. Kebahagian dunia terlihat dari terwujudnya ketertiban dan kesejahteran publik. Sementara kebahagiaan akhirat diperoleh setelah terpisahnya jasad dan roh manusia. Ini masuk kavling kajian alam gaib yang Insya Allah akan saya rasionalkan pada kesempatan lain.

Muhammad menyampaikan apa adanya wahyu Tuhan, tidak bertanya mana referensinya atau memeriksanya terlebih dahulu melalui riset. Ini berbeda dengan seorang dosen saat menerima lembaran-lembaran skripsi dari mahasiswa yang mempertanyakan landasan teori, rujukan hingga data lapangan. Muhammad bukanlah peneliti bahkan dia tidak punya bacaan awal tentang kandungan wahyu yang diterimanya.

Setelah menerima wahyu, Muhammad meminta para sahabat untuk menghafal dan menulisnya agar tak ada yang luput. Keotentikannya pun tidak diragukan, karena Alquran kemudian dibukukan pada zaman Khalifah Utsman bin Affan (576-656 M). Dalam hal ini, tidak ada kitab suci manapun di bumi ini yang setara dengan Alquran. Alquran juga terlarang untuk diedarkan dalam bentuk terjemahan yang tidak disertai teks asli di dalamnya. Bandingkan dangan kitab suci agama lain! Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang akan memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).

Meski tidak lahir dari sebuah penelitian, tapi isi dan substansi Alquran dipersilahkan untuk diuji. Ini selaras dengan anjuran Islam yang meminta manusia untuk menggunakan akal dan menjanjikan derajat yang tinggi bagi ilmuwan. Meski bukan karya ilmiah, beberapa ayat Alquran berisi isyarat ilmiah. Isyarat ilmiah beda dengan karya ilmiah. Alquran tidak mencantumkan teori dan langkah-langkah detil untuk menguji isinya. Disinilah manusia didorong untuk menggunakan otaknya, bukan bruek teu-ot alias lutut.

Sangat banyak ayat Alquran yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, tapi baru di abad modern kebenarannya dapat dibuktikan. Isyarat-isyarat ilmiah yang terkadung dalam Alquran telah mendorong para sarjana dari berbagai negara untuk menelitinya. Alquran menjadi inspirasi bagi mereka untuk melakukan penelitian tentang isyarat-isyarat ilmiah yang terkandung di dalamnya.

Sebagaimana dilansir Quraish Shibab dalam buku Membumikan Al-Quran (1997) dan Mukjizat Al-Quran (2003), di antara isyarat ilmiah yang sudah terbukti adalah cahaya bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS. 10:5); pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi serta pergerakan gunung (QS. 27:88); perbedaan sidik jari manusia (QS. 75:4); pemisah dua laut yang berdampingan yang satu airnya tawar dan satunya lagi asin (QS. 25:53); dan banyak lagi.

Poin-poin di atas tidak diketahui manusia yang hidup pada zaman Muhammad, tapi baru dapat dibuktikan pada zaman modern. Dr Maurice Bucaille dari Perancis dalam bukunya Al-Quran, Bible dan Sains Modern menyimpulkan bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang berseberangan dengan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1975 dia bahkan masuk Islam setelah meneliti jasad Firaun yang ternyata tepat seperti prediksi Alquran. Belakangan disebut-sebut, seorang ilmuwan Yahudi masuk Islam setelah meneliti ayat Alquran tentang masa iddah perempuan (republika.co.id, 31/8/2012).

 Bersifat global
Sebagian besar ayat Alquran bersifat global sehingga selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Ayat-ayat ini butuh penafsiran mendalam dengan melihat berbagai aspek, termasuk asbabun nuzul dan kondisi sosial. Teks Alquran tidak boleh dilihat dengan menggunakan “kacamata kuda” dan mengabaikan rasionalisasi. Lahirnya penafsiran yang berbeda oleh para mufassir terhadap ayat yang sama mendapat penghargaan dalam Islam. Sebaliknya mendustakan ayat Alquran dianggap sudah keluar dari Islam.

Akhirnya, kita berharap agar upaya-upaya pendangkalan akidah dan penyesatan di Aceh dapat diakhiri dengan melacak kemungkinan adanya sponsor di balik fenomena itu. Selain itu, untuk mencegah kemuculan pemikiran prematur dari generasi baru seperti yang sempat menjangkiti Mirza Alfath (kini yang bersangkutan telah disyahadatkan kembali-red), satu caranya adalah agar para guru, pemuka agama dan orangtua diharapkan mampu memberi penjelasan yang berbasis naqli (dalil) serta aqli (rasionalitas) dalam menjelaskan agama. Jadi, hindari pengajaran yang semata-mata berbasis dogma dalam mendidik generasi baru. Semoga!

— — —

Tulisan ini dimuat di Rubrik Opini Harian Serambi Indonesia (http://aceh.tribunnews.com/2012/12/07/alquran-bukan-skripsi) Banda Aceh, Jumat (7/12/12).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s