Lintas Krueng Raya – Laweung mulai Ramai

Selain melalui rute Gunung Seulawah, akses ke Kota Banda Aceh dapat dicapai melalui lintasan Laweung (Pidie) – Krueng Raya (Aceh Besar). Jarak dari Pasar Laweung ke Pelabuhan Malahayati tepat 50 KM. Ini artinya jika kendaraan melaju dengan kecepatan rendah 50 KM/jam, ia dapat diraih dalam waktu 50 menit.

Kamis (15/11/2012) Tabangun Aceh sengaja melintasi rute Krueng Raya – Laweung. Kondisi jalan di sana mulai membaik, kecuali di beberapa bagian di wilayah Aceh Besar seperti di Beureunuet dan Lampanah kondisinya bolong di beberapa titik. Sementara menjelang memasuki Pidie kondisinya jauh lebih bagus. Ini mungkin karena usia aspal jalan yang masih baru.

Hanya saja, di dekat perbatasan Aceh Besar  dengan Pidie ditemukan 4 KM badan jalan yang sama sekali belum tersentuh aspal. Di ruas ini para pengendara harus memperlambat kendaraannya hingga 15/km. Warga yang sering melintasi jalan ini, baik yang bermukim di Laeung maupun Lampanah, berharap agar kondisi jalan itu dapat segera ditangani, sehingga memudahkan mereka dalam mengangkut hasil alam ke Kota Banda Aceh atau sebaliknya.

Gambar

“Mohon jalan sisa 4 KM lagi ini segera diaspal. Kami setiap hari melintasi jalan ini. Dengan membaiknya jalan ini kami dapat lebih mudah dalam melintas serta memasarkan hasil kebun,” ujar M. Ali Arsyad (57), Sekretaris Desa Blang Raya, Muara Tiga, Pidie, yang ditemui di lokasi jalan yang beraspal itu.

View menakjubkan

Meski terdapat 4 KM yang belum beraspal, tapi pengendara tampak lalu lalang. Sebagian pengendara tampak duduk sambil beristirahat di kaki bukit yang di hadapannya terbentang Selat Malaka. Mentari Hermawan, warga Lamlagang Banda Aceh, mengaku menikmati pemandangan di lintasan itu karena suasananya berbeda dibanding lintas Seulawah.

“View di lintasan Kr Raya – Laweung memang beda, terutama di dekat perbatasan. Di sisi kanan ada bukit, tapi hadapannya ada bentangan Selat Malaka. Saya nyetir sendiri, bisa melihat utuh Gunung Seulawah dan hamparan laut sekaligus. Menakjubkan, damai dan bersahabat. Saat pulang saya suka beli buah-buah dari kebun warga di sana,” ujar perempuan cantik yang akrab disapa Tari.

Tari berharap pemerintah menghidupkan lintasan ini. Selain dapat dijadikan sebagai objek wisata, saat lintasan ini ramai akan memberi dampak positif bagi kemajuan ekonomi masyarakat setempat. “Ia akan membantu mengurangi angka kemiskan kan?,” gugah Tari yang kerap melintasi jalan itu dengan mobil Toyota Innova keluaran 2012.

Sementara kondisi jalan Laweung – Batee via Guha Tujoh kondisinya sangat memprihatinkan. Jalannya masih tersusun dari batu gunung yang runcing. Di beberapa bagian tampak lubang menganga dan tumbuhan. Jalan itu sangat sulit dilalui oleh kendaraan pribadi, terutama mobil sedan.

“Pemilik kendaraan sebaiknya tidak melewati jalan itu. Kita dapat berbelok ke arah Simpang Beutong saat sampai di Pasar Laweung. Jangan ambil arah lurus ke Batee, karena kondisi jalannya terjal dan berbatu,” saran Tari. [hasan basri m nur]

== ==

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s