Penyembahan “Berhala” di Aceh

Oleh : Hasan Basri M. Nur

MENDENGAR kata berhala akan memutar memori kita pada kisah tradisi beribadah orang Arab pra-Islam (jahiliah), yang memiliki ratusan berhala yang dipajang di dalam ka’bah dan di rumah-rumah. Latta, Uzza, Hubal dan Manah adalah sebagian dari 360 berhala yang mereka sembah. Dalam tradisi jahiliah, penyembahan terhadap berhala dibarengi pula oleh pemberian sesaji (sesajen). Orang-orang yang hidup pada periode Islam akan menampik jika dituduh sebagai penyembah berhala yang syirik itu. Masyarakat Aceh yang mungkin menganggap diri sebagai umat paling taat di Nusantara melalui kampanye syariat Islam kaffah hingga kota tasawwuf dipastikan akan membantah jika mereka dituding lebih mencintai benda lain dibanding Allah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagaimana dikutip dari wikipedia, kata berhala awalnya mempunyai arti patung dewa. Kemudian penggunaannya meluas menjadi makhluk/benda (matahari, bulan, malaikat, hewan) apa saja yang disembah selain Allah termasuk dalam kategori berhala. Sedangkan kata kerja dari ‘memberhalakan’ berarti memuja dan mendewakan. Memberhalakan sesuatu tidak berarti pemujanya harus mengatakan: “inilah tuhan yang harus disembah”. Selanjutnya kata ‘memberhalakan’ meluas maknanya, dapat diartikan kepada rasa cinta seseorang terhadap sesuatu melebihi rasa cintanya kepada Allah Sang Pencipta. Misalnya, lebih takut kepada seseorang/benda tertentu dibanding rasa takut kepada Allah, atau lebih mencintai seseorang/benda dibanding cintanya kepada Allah. Dengan demikian, pengagungan terhadap suatu jabatan secara berlebihan dan bersedia menempuh berbagai cara demi menggapai jabatan itu termasuk bagian dari penyembahan berhala. Sebagian umat manusia--termasuk di Aceh--tampak memerlihatkan sikap dan perilaku cinta berlebihan kepada sesuatu selain Allah. Jabatan dan kekuasaan termasuk bagian yang terlalu dibanggakan, diagungkan dan diincar dengan menempuh berbagai cara. Pemujaan terhadap jabatan ini terbaca jelas pada masa-masa suksesi dengan memercantik diri, mengobral janji palsu, menjilati atasan, hingga memerkosa aturan. Bahkan terkadang tanpa rasa berdosa menjual agama melalui simbol-simbol dan ucapan. Mereka yang memberhalakan jabatan rela mengorbankan apa saja demi terwujudnya impian menggenggam jabatan dambaan. Pemberian sesajen yang lazim dipersembahkan penganut paganisme kerap dilakukan pencinta kekuasaan. Bentuk sesajen itu telah dimodifikasi agar sesuai tuntutan zaman. Sesajen di era modern berupa penghamburan uang untuk menyuap orang tertentu demi ambisi dapat merangkul berhala jabatan. Tidak diketahui asal-usul uang sesajen itu apakah bersumber dari hasil keringatnya sendiri, harta bainah (warisan) atau mungkin uang panas pemberian ‘jin’? Sebagaimana tradisi penyembah berhala zaman jahiliah, pemberian sesajen menjadi sarana untuk memperdekat diri dengan berhala jabatan yang diincar. Sesajen yang telah dikeluarkan itu biasanya dapat ditarik kembali setelah yang bersangkutan menguasai berhala jabatan dambaan. Uang sesajen miliaran rupiah yang telah dikucurkan itu nantinya akan masuk kembali ke rekening pemilik berhala, melalui penyunatan uang negara, penggelapan pajak hingga pemerasan terhadap orang lemah. Mereka mengincar berbagai jabatan di lembaga eksekutif, legislatif atau perusahaan negara. Tanpa sadar, jabatan-jabatan itu bagai ditempatkan pada posisi suci yang harus digapai dengan berbagai cara, bak hamba sahaya yang rela memersembahkan segala-galanya bagi tuannya. Mereka rela mengorbankan harta benda, tenaga dan pikiran demi cita-cita merangkul berhala yang diidamkan sejak lama. Kecintaan berlebihan pada berhala kekuasaan itu terlihat dari wujud kegigihan dan pengorbanan yang ditunjukkan. Uang miliaran rupiah menjadi hal lumrah dikeluarkan oleh para politisi dan kandidat pejabat tertentu dalam masa suksesi. Penghamburan uang yang dapat diibaratkan sebagai bentuk lain dari sesajen itu dikucurkan dalam beragam bentuk; bagi-bagi amplop, distribusi sembako, menyuap panitia pemilihan agar melakukan kecurangan/rekayasa hingga memberikan fasilitas hotel mewah untuk para profesor. Kita patut bertanya, adakah di antara mereka yang dengan suka rela dan tanpa kepentingan politis untuk menafkahkan harta miliaran rupiah di jalan Allah, untuk panti asuhan, masjid, pesantren atau Baitul Mal? Adakah di antara mereka yang rela menyumbang untuk mengangkat derajat fakir miskin dengan angka fantastis sebagaimana anjuran Islam? Rasanya tidak, karena menyantuni fakir miskin mungkin dianggap tidak menjanjikan apa-apa sebagaimana janji yang diberikan oleh jabatan yang diincar. Hanya secuil insan yang mau mengorbankan harta dalam jumlah besar untuk berbagi dengan saudara seiman yang nasibnya tidak beruntung. Pemujaan terhadap berhala kekuasaan telah menjalar di mana-mana, menggiring hampir seluruh komponen masyarakat. Rasa cinta berlebihan terhadap jabatan dan kekuasaan kini bukan hanya menjangkiti birokrat dan politisi. Perguruan Tinggi yang sedianya diharapkan menjadi institusi netral dan bebas konspirasi kini telah tergiring dalam kubu-kubu yang terkesan memposisikan jabatan bagai berhala. Ternyata daya pikat berhala jabatan itu begitu mempesona sehingga permainan kotor dan penaburan sesajen terjadi dimana-dimana, termasuk di kampus yang seharusnya suci. Kita sedih mendengar adanya penggiringan para profesor dan petinggi kampus Unsyiah di hotel megah Hermes Palace menjelang hari ‘H’ pemilihan rektor. Kandidat rektor incumbent yang kemudian terpilih kembali, Prof Dr Darni Daud, berdalih hal itu dilakukan untuk mencegah intimidasi dan teror. Pernyataan Rektor Darni ini semakin memperkuat dugaan adanya ‘pemberhalaan’ terhadap jabatan rektor di lingkungan Perguruan Tinggi. Semoga saja para profesor itu tidak disisipi amplop sesajen ke kantong mereka saat keluar dari hotel termegah di Aceh itu. Di luar benar tidaknya alasan Darni, kita merasa sedih dengan kualitas iman para guru besar itu, yang hanya besar namanya tapi lemah imannya karena mempunyai rasa takut berlebihan sehingga mengikuti skenario rektor untuk ‘dikandangkan’ di hotel istana. Kalau profesor mempunyai rasa takut berlebihan pada fatamorgana intimidasi, maka bagaimana dengan nasib rakyat jelata saat pemilihan geusyik di pelosok desa, semisal di Desa Uteun Bayu atau Paya Pisang Klat di pedalaman Ulee Gle sana? Entahlah! Akhirnya, kita hanya berharap agar mereka yang telah telanjur mengidolakan jabatan secara berlebihan untuk bertaubat. Selain meminta ampun kepada Allah karena telah terlena oleh godaan jabatan, taubat itu dapat berupa kerja keras untuk memenuhi semua janji yang pernah diikrarkan, tidak berupaya mengembalikan uang sesajen yang telah dikeluarkan di masa suksesi dengan menggunting uang rakyat, apalagi memeras orang lemah untuk memenuhi pundi-pundi pribadi mereka. Semoga! * Penulis adalah mantan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Tulisan ini sudah pernah dimuat di Rubrik Opini Harian Serambi Indonesia 14 April 2010. http://www.serambin ews.com/news/ view/28497/ penyembahan- berhala-di- aceh
Iklan