Cinta Ar-Raniry

Rabu, 20 Maret 2013 09:16 WIB
 
Oleh Hasan Basri M. Nur
TIGA tulisan di Halaman Opini Harian Serambi Indonesia edisi Kamis (14/3/2013) yang masing-masing ditulis oleh Muhibuddin Hanafiah, Safaruddin, dan Miswar, telah mendorong Saifullah untuk mencoba memberikan jawaban atas kegelisahan ketiga penulis itu melalui tulisannya berjudul “Ar-Raniry Penuh Warna dan Dinamika” (Serambi, 16/3/2013). 

Namun, Saifullah yang Mahasiswa S3 IAIN Ar-Raniry itu, tampak belum mampu menjawab permasalahan utama yang disorot para penulis, terutama tulisan Muhibuddin Hanafiah yang berjudul “Ar-Raniry, tanpa Warna dan Dinamika”, serta tulisan Safaruddin yang berjudul “Demokrasi Semu ala IAIN Ar-Raniry”.

Dalam amatan saya, ada dua persoalan pokok yang diutarakan kedua penulis itu. Pertama, pemilihan rektor oleh perwakilan dosen (senat) dinilai tidak demokratis dan bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dalam konstitusi RI. Kedua, penggabungan kekuasaan eksekutif (rektor/dekan) dan kekuasaan legislatif (ketua senat) di tangan orang yang sama dinilai berseberangan dengan semangat demokrasi dan good governance.

Saifullah tampak tidak memfokuskan ulasannya untuk menjawab dua persoalan substansial di atas. Dia cenderung mengarahkan ulasannya pada fenomena lain dengan kacamata berbeda dalam melihat proses pemilihan Rektor IAIN Ar-Raniry yang menurutnya adem ayem dan meujroh-jroh. Bahkan, ada kesan Saifullah cenderung menganggap IAIN Ar-Raniry itu adalah milik internal keluarga IAIN yang “terlarang” untuk dikritisi pihak luar.

 Milik bersama
Berbeda dengan Saifullah, saya menganggap IAIN bukan hanya milik akademisi dan alumni IAIN semata, melainkan milik seluruh rakyat Aceh sebagaimana laqab kampus jantong hate rakyat Aceh. Lebih dari itu, karena menggunakan anggaran negara, maka dengan sendirinya IAIN Ar-Raniry menjadi milik bersama yang dapat dikritisi oleh siapa pun termasuk Safaruddin dan Miswar yang tak pernah mengecap pendidikan langsung dari IAIN.

Dengan berpikir positif, saya menilai adanya perhatian dari personel dan instansi di luar IAIN adalah bagian dari rasa memiliki mereka terhadap IAIN. Nada kritik itu dapat diterjemahkan sebagai wujud cinta mereka terhadap Ar-Raniry. Cinta berbeda dengan benci. Cinta cenderung membuat seseorang memberi perhatian ekstra terhadap yang dicinta.

Cinta juga menumbuhkan perasaan rindu yang membuat seseorang terus ingin tahu, mengingat dan menyebutnya. Kata-kata dari pencinta adalah bagian dari rasa takjub dan impian demi terwujudnya kesempurnaan yang diidam-idamkan. Untuk itu, barangkali pengelola IAIN Ar-Raniry perlu berterimakasih, bahkan mungkin perlu mengundang para pencinta untuk menumpahkan perasaan cintanya bagi pengembangan IAIN.

Saifullah menilai proses pemilihan Rektor IAIN Ar-Raniry berlangsung demokratis, santun, adem ayem dan bebas riak protes seperti yang kerap terjadi dalam pemilihan kepala desa, bupati, gubernur dan presiden. Secara kasat mata, kesimpulan Saifullah ini terlihat benar adanya. Sebab, memang tidak terdengar gugatan apapun dari anggota senat terhadap tahapan itu hingga usai pencoblosan pada Kamis, 14 Maret 2013 lalu.

Sebaliknya anggota senat secara beramai-ramai memberikan dukungan penuh kepada Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim untuk memimpin IAIN periode kedua (2013-2017) dengan perolehan suara mutlak, 33 suara dari 36 anggota senat yang hadir. Sedangkan “lawannya” Dr Chairan M Nur MAg hanya memperoleh 1 suara, dan Dr Mujiburrahman MAg tidak kebagian satu suara pun. Sementara dua suara lagi abstain dan rusak. Tiga anggota senat lainnya tidak hadir.

 Bara dalam sekam
Sesungguhnya di luar yang terang itu ada sesuatu yang tersimpan dan itu dapat dinilai sebagai bara dalam sekam. Itulah satu suara abstain dan satu suara rusak. Abstain itu sebenarnya adalah bagian dari protes karena yang bersangkutan tidak tertarik pada satu pun dari calon yang ada. Sementara suara rusak adalah wujud protes yang lebih keras dari abstain. Sebab, mana mungkin kertas suara bisa rusak di tangan anggota senat kampus yang bergelar master, doktor bahkan profesor. Tidak ada logika yang bisa menjelaskan bahwa anggota senat itu terlalu bodoh dan tidak bisa menggunakan hak suaranya sehingga menjadi rusak setelah dia sentuh. Kalau di tangan anak TK bisa jadi kertas suara itu akan rusak.

Dua bentuk protes yang meski santun seperti dijelaskan di atas perlu diwaspadai karena dapat berpotensi menimbulkan protes yang lebih besar jika tidak disikapi dengan baik. Tatkala gelombang protes membesar –apalagi jika pintu bagi masuknya provokator terbuka– maka ia akan sulit dikendalikan. Menekan aroma protes tentu harus menggunakan tatakrama dan rasionalisasi sehingga ia akan memudar secara alami karena pemicunya telah terdeteksi dan diredam.

“Gugatan” Muhibuddin Hanafiah yang dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry dan Safaruddin yang “orang luar” perlu dijawab secara pasti, rasional dan berlandas yuridis yang jelas sehingga keduanya akan merasa puas dan tidak mencari kebenaran dari tempat lain. Misalnya, harus bisa dijelaskan bahwa pemilihan pimpinan melalui perwakilan adalah wujud demokrasi yang paling baik, sesuai dengan cita-cita negara demokrasi dan patut ditiru oleh lembaga lain dan seterusnya.

Demikian juga soal penggabungan jabatan eksekutif dan legislatif pada orang yang sama harus mampu dirasionalisasikan berdasar kaidah demokrasi dan good governance. Jika dua soal utama itu tak mampu dirasionalkan, maka Muhibuddin dan Safaruddin kemungkinan akan terus berteriak sembari mencari jawaban. Kita tentu tak berharap gelombang protes “kecil” itu akan membola salju yang berujung terkurasnya waktu dan energi insan kampus.

 Mekanisme pemilihan
Sementara kepada pihak yang melakukan kritikan mekanisme pemilihan Rektor IAIN Ar-Raniry perlu menyadari bahwa mekanisme pemilihan rektor itu agaknya seragam di seluruh Indonesia. Ini terjadi karena tata cara penyelenggaraan aktivitas kampus (statuta) adalah peraturan menteri. Maka, dalam hal ini kritikan mestinya tidak semata-mata ditujukan kepada petinggi IAIN Ar-Raniry, melainkan juga kepada seluruh kampus di Indonesia.

Selanjutnya, mengarahkan gugatan kepada Rektor IAIN Ar-Raniry adalah salah alamat. Gugatan sejatinya ditujukan kepada Menteri Agama selaku pengesah Statuta IAIN Ar-Raniry berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 40 Tahun 2008. 

Meski begitu, wacana-wacana yang telah mengemuka di ruang publik tetap menjadi masukan positif dalam pengembangan kampus IAIN ke depan. Makin sering muncul ide-ide kritis dan kreatif akan membuat aktivitas ilmiah di Aceh kian bergairah. Semoga!

* Hasan Basri M. Nur, Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: hb_noor@yahoo.com

Editor : bakri
Gambar