San Diego Hills, Kuburan Termahal di Indonesia

“Saya mau menjual apa saja harta benda untuk mendapat kavling makam disini andai ada jaminan akan bebas siksa kubur dan langsung masuk surga,” ujar Rina sambil bergurau.

Gambar

Seorang pengunjung tampak berdoa di salah satu sudut makam San Diego Hills

Dari jauh komplek makam yang dibangun oleh PT. Lippo Karawaci itu terlihat indah dan megah. Dua pintu gerbang keluar masuk kendaraan dijaga ketat petugas keamanan. Setiap pengunjung diwajibkan melapor dan mengambil kartu masuk, yang tentunya harus dikembalikan saat keluar usai berziarah. Itulah komplek pemakaman San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes.

Lahan pamakaman San Diego Hills berliku dan berbukit. Jalan-jalan di dalamnya sangat mulus dan sebagian dibelah dua; kiri dan kanan. Komplek pemakaman ini jauh dari kesan angker dan seram. Ia mirip tempat wisata yang mampu membuat pengunjung untuk betah berlama-lama disana. Selain terdapat beberapa gedung dan hamparan danau di tengahnya, taman-taman di San Diego tertata apik, bersih dan rindang, bahkan di beberapa bagian dihiasi semprotan air otomatis. Di beberapa tempat dipasang patung-patung manusia (lelaki, perempuan dan anak) yang terbuat dari beton bercat putih.

Komplek pemakaman ini diperuntukkan untuk manusia dari berbagai agama. Tidak ada kesan konflik antaragama disana. Meski begitu, pengelompokan makam berdasarkan agama tetap terlihat. Ada beberapa zona yang dikhususkan untuk penganut nasrani yang ditandai adanya patung-patung kristiani dan salib. Begitu juga untuk zona muslim.

Di beberapa tempat terlihat para pengunjung duduk di sisi makam yang diperkirakan adalah anggota keluarga mereka. Mulut mereka tampak komat-kamit sambil memperhatikan kitab suci di tangan masing-masing. Walau berasal dari keluarga yang sama dan mengunjungi keluarga yang sama, namun cara berpakaian mereka tampak berbeda. Ada yang mengenakan kerudung dan menutupi seluruh aurat, ada pula perempuan yang mengenakan celana jeans dan samar-samar tampak sebagian kulit pinggang ketika jongkok.

“Ya, begitulah cara orang-orang kota dalam berziarah dan berdoa sekarang ini. Tidak hanya seperti itu, bahkan dewasa ini ada anggota keluarga yang tidak bisa membaca Surah Yasin dan menyiasatinya dengan menghidupkan rekaman bacaan Yasin dari hand phone canggih milik mereka,” tutur Hajjah Rina (43), perempuan asal Pidie yang sudah lama menetap di Karawang. Begitulah, dan kita tidak mengetahui bagaimana respons malaikat dalam menyikapi fenomena ini.

Kuburan di San Diego Hills disebut-sebut sebagai kuburan termahal di Indonesia. “Itu makam yang terletak paling puncak pada tahun 2006 dibeli dengan harga 4,2 miliar rupiah,” kata seorang petugas keamanan yang ditemui di salah satu sudut Komplek San Diego Hills.

Sementara di sisi kiri tangga menuju ke makam yang terletak di paling puncak itu adalah makam seorang pengusaha kaya raya asal Kecamatan Delima, Pidie. Itulah makam H. Ibrahim Risyad dan keluarganya. Disini, selain terdapat makam H.Ibrahim Risyad yang meninggal pada tahun 2012, juga terdapat makam isterinya Dr. Zakiah Salim Risyad yang meninggal pada 2008, serta makam kakaknya H. Abdullah Risyad.

Khusus di kavling pemakaman keluarga Risyad terdapat sebuah balai yang diberi nama Balai Dr. Zakiah Risyad. Tidak diketahui pasti berapa harga untuk kavling pemakaman keluarga Risyad ini. “Saya tidak tahu harganya. Tapi yang pasti miliaran rupiah,” sambung petugas keamanan tadi.

Menurut informasi yang dilacak dari http://www.iwan82.com/sandiegohills-daftarharga, harga kavling kuburan di San Diego Hills bervariasi, sesuai letak dan ukurannya. Yang termurah ada pada kisaran Rp 27.000.000 (ukuran 1,5 x 2,6 meter). Berikutnya ada yang berharga Rp.2.019.912.000 (luas 76 meter untuk maksimal 4 makam) hingga  Rp 2,7 miliar  lahan kosong (92,8 meter).

Bayangkan bagi mereka yang membeli kavling makam dengan luas di atas 100 meter, harganya pasti berlipatganda. Tapi semua itu tetaplah makam. Sementara bagaimana kehidupan baru setelah kematian tentu sama sekali tidak bisa diukur berdasarkan harga makam seseorang. “Saya mau menjual apa saja harta benda untuk mendapat kavling makam disini andai ada jaminan akan bebas siksa kubur dan langsung masuk surga,” ujar Rina sambil bergurau.

Rasullah bersabda: Tatkala seseorang meninggal, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali (yang dibawaserta) hanya tiga hal; shadaqah jariyah, anak yang shalih yang senantiasa berdoa kepadanya, dan ilmu yang memberi bermanfaat bagi orang lain.

Maka, mari kita merenungi dan mempersiapkan tiga unsur yang akan setia menyertai kita di alam akhirat kelak sebagaimana pesan Rasulullah di atas, sebelum muncul rasa penyesalan dan terlontar kata-kata: Ya laitanii kuntu turaabaa (mengapa dulunya aku tidak menjadi tanah saja yang tidak dimintai pertanggungjawaban). [hasan basri m nur]

Gambar

Puncak San Diego Hills

 

Iklan

Lolos dari Sakratul Maut, Laila Ukir Prestasi

Gambar

Sikap mental positif adalah kekuatan dahsyat bagi setiap orang dalam menghadapi sekaligus keluar dari berbagai kesulitan hidup yang mereka alami. Inilah yang terjadi pada Laila Abdul Jalil (38). Sosok perempuan tangguh ini berhasil keluar dari situasi kritis dan mengancam jiwanya, untuk kemudian bangkit dengan semangat baru dan menghasilkan karya yang sudah sejak lama ingin diwujudkannya.

Cobaan yang dialami Laila cukup berat. Kisahnya bermula ketika pada tahun 2006, ia hamil di luar kandungan namun didiagnosa keguguran dan dikuret oleh dokter. Kesalahan diagnosa yang berlanjut pada kesalahan tindakan medis inilah yang kemudian menjadi awal dari penderitaan berkepanjangan yang dialami Laila.

Laila mengalami keluhan sakit di perutnya yang kemudian didiagnosa oleh dokter sebagai infeksi usus buntu dan harus dioperasi. Ketika operasi berlangsung, diketahui ada janin di luar kandungan dan terjadi pendarahan dalam akibat satu indung telurnya pecah, dan menyebabkan efek beruntun, ususnya lengket, berlipat dan pecah, menimbulkan infeksi di rongga perut, dan kemudian menyebabkan terjadinya fistula (saluran abnormal antara rongga perut bagian dalam dengan dinding perut bagian luar).

Akibat komplikasi ini membuat Laila harus sembilan kali operasi beruntun. Pada operasi yang ke enam, berat badannya turun drastis hingga 30 kg, dan harus berjalan dengan bantuan tongkat. Sementara yang paling kiritis sekaligus meninggalkan kesan yang akan selalu dikenangnya adalah pada waktu operasi yang kedua. Ia koma selama tiga minggu di ruangan ICU. Dalam situasi koma inilah Laila mengalami fenomena yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai Near Death Experience (NDE), pengalaman mendekati kematian.

Laila mengisahkan bagaimana ia melihat semacam view dimana ia berjalan di atas sebuah titian yang hanya muat untuk satu tapak kaki, didampingi oleh sosok putih bersih dan bersayap yang mengiringinya menuju sebuah objek yang bercahaya terang-benderang. Dalam perjalanan menunjukan objek bercahaya terang itu, ia membatin: “Ya Allah jika saya layak untuk anak saya, panjangkan umur saya. Tapi jika tidak, maka ambillah nyawa saya. Saya sudah tidak tahan, sakit sekali”.

Sesaat setelah berdoa, ia merasa diangkat tinggi-tinggi, kemudian terhempas dan mendapati dirinya berbaring di atas tempat tidur. Lalu antara sadar dan tidak sadar, ia merasa melihat sosok almarhum bapaknya yang mengelus-elus kepalanya. “Kamu sembuh nak, belum saatnya kamu ikut Bapak”, itulah pesan yang samar-samar ia dengar diucapkan oleh bapaknya yang sosoknya kemudian menghilang di balik pintu ruangan ICU.

Paska operasi ke delapan, Laila yang sehari-hari adalah staf di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh ini, baru berani memulai aktifitas bekerja di kantor, meski masih sering merasakan sakit dan nyeri di bagian perutnya. “Kadang-kadang saya frutasi dan putus asa juga. Rasa sakitnya betul-betul sakit dan menyiksa. Segala macam obat sudah saya minum tapi nggak sembuh-sembuh. Saya sempat dilanda depresi berat sampai pernah berniat bunuh diri. Terakhir saya ikhlaskan semuanya, saya pulangkan semuanya pada Yang Diatas”, cerita Laila pada Tabangun Aceh beberapa waktu lalu di sela-sela mengerjakan tugasnya di kantor.

Keikhlasan Laila membuat batinnya tenang. Ia juga beruntung, dalam ketersiksaannya, Laila mendapat perhatian dan dukungan penuh dari suami dan kedua buah hati mereka. Cinta dan dukungan suami dan kedua anak-anaknya, menjadi obat dan tonik paling mujarab yang memperkuat semangatnya untuk bertahan, merajut mimpi-mimpi, dan menyadarkannya untuk memberikan yang terbaik buat suami dan anak-anaknya.

Berkat dukungan keluarganya pula, Laila yang juga sarjana Arkeologi Universitas Gajah Mada ini, mantap untuk melanjutkan studinya di jurusan Sejarah Peradaban Islam, Program Magister IAIN Ar-Raniry. Selama menempuh pendidikan, Laila sempat ambruk lagi dan harus dirawat selama dua bulan di rumah sakit.

Namun kondisi ini tidak mengendurkan semangatnya. “Sakit dan penderitaan bukan berarti kiamat dan akhir segala-galanya, masih banyak mimpi yang bisa kita raih”, katanya mantap. Dengan tekad kuat inilah Laila berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,76). Laila berhasil lulus dengan tesis “Arsitektur Mesjid Kuno di Aceh, Kajian Terhadap Mesjid-Mesjid di Pesisir Aceh”.

Perjuangannya berbuah manis. Meski dengan kondisi yang belum begitu pulih dan sering menahan nyeri di perutnya, ia turun ke lapangan penelitian dengan didampingi oleh suami tercinta. Hasilnya, tugas akhirnya menjadi tesis terbaik 2012 di Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, dan kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul yang sama oleh IAIN Ar-Raniry berkerja-sama dengan Bandar Publishing. “Buku ini membahas tentang konsep arsitektur awal mesjid-mesjid di Aceh, serta fisolofi dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya”, Laila menerangkan isi bukunya.

“Saya excited banget berhasil menyelesaikan karya tulis ini, meski mungkin belum sempurna, tapi membuat saya semakin bersemangat untuk menulis lagi,” tambahnya dengan raut wajah berbinar-binar menyiratkan semangat yang bergelora.

Semangat seorang pemenang yang pantang menyerah menghadapi segala cobaan dan berhasil membangkitkan segenap potensi dirinya untuk menerima setiap berkah dan kemurahan tanpa batas dari Tuhan Yang Maha Kuasa mengantarkan Laila tetap mampu mengukir prestasi, walau sudah pernah mendekati sakratul maut. Perjuangan dan berkah yang kini dinikmati Laila adalah contoh sempurna dari janji Tuhan, “Aku tidak akan mengubah nasib seorang, jika ia sendiri tidak mau mengubahnya”. Bravo Laila, tetap semangat dan teruslah berkarya. [bulman satar, dimuat Tabloid Tabangun Aceh edisi Agustus 2013]