Lolos dari Sakratul Maut, Laila Ukir Prestasi

Gambar

Sikap mental positif adalah kekuatan dahsyat bagi setiap orang dalam menghadapi sekaligus keluar dari berbagai kesulitan hidup yang mereka alami. Inilah yang terjadi pada Laila Abdul Jalil (38). Sosok perempuan tangguh ini berhasil keluar dari situasi kritis dan mengancam jiwanya, untuk kemudian bangkit dengan semangat baru dan menghasilkan karya yang sudah sejak lama ingin diwujudkannya.

Cobaan yang dialami Laila cukup berat. Kisahnya bermula ketika pada tahun 2006, ia hamil di luar kandungan namun didiagnosa keguguran dan dikuret oleh dokter. Kesalahan diagnosa yang berlanjut pada kesalahan tindakan medis inilah yang kemudian menjadi awal dari penderitaan berkepanjangan yang dialami Laila.

Laila mengalami keluhan sakit di perutnya yang kemudian didiagnosa oleh dokter sebagai infeksi usus buntu dan harus dioperasi. Ketika operasi berlangsung, diketahui ada janin di luar kandungan dan terjadi pendarahan dalam akibat satu indung telurnya pecah, dan menyebabkan efek beruntun, ususnya lengket, berlipat dan pecah, menimbulkan infeksi di rongga perut, dan kemudian menyebabkan terjadinya fistula (saluran abnormal antara rongga perut bagian dalam dengan dinding perut bagian luar).

Akibat komplikasi ini membuat Laila harus sembilan kali operasi beruntun. Pada operasi yang ke enam, berat badannya turun drastis hingga 30 kg, dan harus berjalan dengan bantuan tongkat. Sementara yang paling kiritis sekaligus meninggalkan kesan yang akan selalu dikenangnya adalah pada waktu operasi yang kedua. Ia koma selama tiga minggu di ruangan ICU. Dalam situasi koma inilah Laila mengalami fenomena yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai Near Death Experience (NDE), pengalaman mendekati kematian.

Laila mengisahkan bagaimana ia melihat semacam view dimana ia berjalan di atas sebuah titian yang hanya muat untuk satu tapak kaki, didampingi oleh sosok putih bersih dan bersayap yang mengiringinya menuju sebuah objek yang bercahaya terang-benderang. Dalam perjalanan menunjukan objek bercahaya terang itu, ia membatin: “Ya Allah jika saya layak untuk anak saya, panjangkan umur saya. Tapi jika tidak, maka ambillah nyawa saya. Saya sudah tidak tahan, sakit sekali”.

Sesaat setelah berdoa, ia merasa diangkat tinggi-tinggi, kemudian terhempas dan mendapati dirinya berbaring di atas tempat tidur. Lalu antara sadar dan tidak sadar, ia merasa melihat sosok almarhum bapaknya yang mengelus-elus kepalanya. “Kamu sembuh nak, belum saatnya kamu ikut Bapak”, itulah pesan yang samar-samar ia dengar diucapkan oleh bapaknya yang sosoknya kemudian menghilang di balik pintu ruangan ICU.

Paska operasi ke delapan, Laila yang sehari-hari adalah staf di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh ini, baru berani memulai aktifitas bekerja di kantor, meski masih sering merasakan sakit dan nyeri di bagian perutnya. “Kadang-kadang saya frutasi dan putus asa juga. Rasa sakitnya betul-betul sakit dan menyiksa. Segala macam obat sudah saya minum tapi nggak sembuh-sembuh. Saya sempat dilanda depresi berat sampai pernah berniat bunuh diri. Terakhir saya ikhlaskan semuanya, saya pulangkan semuanya pada Yang Diatas”, cerita Laila pada Tabangun Aceh beberapa waktu lalu di sela-sela mengerjakan tugasnya di kantor.

Keikhlasan Laila membuat batinnya tenang. Ia juga beruntung, dalam ketersiksaannya, Laila mendapat perhatian dan dukungan penuh dari suami dan kedua buah hati mereka. Cinta dan dukungan suami dan kedua anak-anaknya, menjadi obat dan tonik paling mujarab yang memperkuat semangatnya untuk bertahan, merajut mimpi-mimpi, dan menyadarkannya untuk memberikan yang terbaik buat suami dan anak-anaknya.

Berkat dukungan keluarganya pula, Laila yang juga sarjana Arkeologi Universitas Gajah Mada ini, mantap untuk melanjutkan studinya di jurusan Sejarah Peradaban Islam, Program Magister IAIN Ar-Raniry. Selama menempuh pendidikan, Laila sempat ambruk lagi dan harus dirawat selama dua bulan di rumah sakit.

Namun kondisi ini tidak mengendurkan semangatnya. “Sakit dan penderitaan bukan berarti kiamat dan akhir segala-galanya, masih banyak mimpi yang bisa kita raih”, katanya mantap. Dengan tekad kuat inilah Laila berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,76). Laila berhasil lulus dengan tesis “Arsitektur Mesjid Kuno di Aceh, Kajian Terhadap Mesjid-Mesjid di Pesisir Aceh”.

Perjuangannya berbuah manis. Meski dengan kondisi yang belum begitu pulih dan sering menahan nyeri di perutnya, ia turun ke lapangan penelitian dengan didampingi oleh suami tercinta. Hasilnya, tugas akhirnya menjadi tesis terbaik 2012 di Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, dan kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul yang sama oleh IAIN Ar-Raniry berkerja-sama dengan Bandar Publishing. “Buku ini membahas tentang konsep arsitektur awal mesjid-mesjid di Aceh, serta fisolofi dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya”, Laila menerangkan isi bukunya.

“Saya excited banget berhasil menyelesaikan karya tulis ini, meski mungkin belum sempurna, tapi membuat saya semakin bersemangat untuk menulis lagi,” tambahnya dengan raut wajah berbinar-binar menyiratkan semangat yang bergelora.

Semangat seorang pemenang yang pantang menyerah menghadapi segala cobaan dan berhasil membangkitkan segenap potensi dirinya untuk menerima setiap berkah dan kemurahan tanpa batas dari Tuhan Yang Maha Kuasa mengantarkan Laila tetap mampu mengukir prestasi, walau sudah pernah mendekati sakratul maut. Perjuangan dan berkah yang kini dinikmati Laila adalah contoh sempurna dari janji Tuhan, “Aku tidak akan mengubah nasib seorang, jika ia sendiri tidak mau mengubahnya”. Bravo Laila, tetap semangat dan teruslah berkarya. [bulman satar, dimuat Tabloid Tabangun Aceh edisi Agustus 2013]

Iklan

12 thoughts on “Lolos dari Sakratul Maut, Laila Ukir Prestasi

  1. Subhanallah…maha agung dan maha adil Allah……
    ini sosok dosenku tercinta dan semangat,,,,,,,juga menginspirasi saya………..
    you best power…….
    ” (” jangan pernah putus asa ” )”,,,,,,,

    • Mungkin, sakit yg sdg dirasakan orang lain belum setara rasa sakit yg pernah dialami Laila. Dari sehat dan segar bugar menjadi sakit bahkan sempat berada di gerbang alam lain. Subhanallah. Adanya kehidupan setelah kematian memang tak terbantahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s