Spanduk Pak Rektor

“Memangnya seberapa besar dan seberapa banyak dosa Pak Darni kepada rakyat sehingga harus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui spanduk?,” ujar Ayah Panton Kamis (25/11/2010).

Oleh: Hasan Basri M Nur

MESKI pemilukada Aceh masih berbilang lama–jadwalnya saja belum ditetapkan–tapi beberapa kandidat sudah mulai memasang kuda-kuda untuk bertarung. Bagi politisi ini adalah hal lumrah, mengingat tujuan akhir dari politik adalah merebut kekuasaan dan menguasai anggaran. Tapi, akhir-akhir ini pemandangan ganjil terlihat di Aceh. Akademisi yang seharusnya mengurusi kampus ternyata ada yang lebih tertarik merebut kekuasaan politik. Tidak tanggung-tanggung, akademisi itu ternyata seorang rektor perguruan tinggi ternama di Aceh, Universitas Syiah Kuala. Itulah Prof Dr Darni Daud.

Dalam beberapa pariwara di media cetak, Darni Daud sudah menyatakan diri siap untuk maju dalam bursa gubernur Aceh 2011. Sebenarnya ini adalah hal lumrah karena jabatan politis itu dapat diisi oleh siapa saja, tetapi terkesan aneh manakala akademisi memperlihatkan sikap lebih ambisius dibanding politisi murni. Secara moral, akademisi yang berniat maju dalam kancah politik akan sangat santun bila rela meninggalkan jabatannya di kampus. Ini semata-mata untuk memberi teladan bagi pihak lain, selain untuk tidak menjadikan posisi rektor yang suci sebagai ban serap atau batu loncatan.

Seperti biasa, saya sering mengunjungi kerabat di berbagai daerah dalam momentum hari raya, termasuk Idul Adha 1431 H yang baru berlalu. Saat melintasi kawasan Ulee Gle, Pidie Jaya, pada Idul Adha kedua, terlihat sejumlah spanduk ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H atas nama Prof Dr Darni Daud MA dan keluarga dengan mencantumkan identitas diri sebagai Rektor Unsyiah. Di sisi kanan spanduk berstempel logo Unsyiah, di sisi kiri terpasang foto Prof Darni. Awalnya saya menganggap lumrah pemandangan ini, karena Pidie Jaya adalah daerah kelahiran Sang Rektor.

Spanduk yang sama juga terpajang di pagar Masjid Tanjung Selamat Darussalam. Ini juga dapat dianggap lumrah karena berada di kawasan tempat dia bertugas. Namun, tiba-tiba terlintas pertanyaan dalam benak saya, mengapa spanduk ucapan selamat Idul Adha atas nama Rektor IAIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi, yang bahkan putra asli Darussalam tidak ditemukan? Apakah Rektor IAIN Ar-Raniry tidak memahami makna hari raya kurban ataukah ada alasan lain sehingga hanya Rektor Darni yang memasang spanduk sembari memamerkan foto dirinya?

Beranjak atas kegusaran ini dan untuk memperkaya referensi, saya memutuskan untuk menambah wilayah amatan agar dapat dijadikan sampel dalam menganalisa. Pada akhir pekan ketiga bulan November 2010, saya mengunjungi Pulau Weh yang secara geografis terpisah dari Pulau Sumatera. Betapa mencengangkan, di sana juga dengan mudah didapati spanduk ucapan selamat Idul Adha atas Prof Darni Daud. Sama seperti spanduk di Aceh daratan, spanduk-spanduk yang bertebaran di sana juga memasang foto Darni beridentitas Rektor Unsyiah.

“Peu lom Pak Darni ka geupasang spanduk troh keunoe u Aneuk Laot?” (Ada apa lagi Pak Darni memasang spanduk hingga ke Kelurahan Aneuk Laot?), gerutu seorang warga setempat. Agaknya warga bingung atas kemunculan spanduk dadakan ini karena Darni tidak menulis pesan penting apapun di dalamnya. Misalnya berapa ekor sapi kurban yang ia sumbangkan kepada warga desa itu, ataupun apa saja prestasi/program unggulan Unsyiah yang perlu diketahui masyarakat agar berkuliah di sana. Pesan-pesan penting seperti ini tidak tercantum, sehingga warga pun mumang alias bingung. Karena nama Unsyiah telah terseret, maka pihak Unsyiah dirasa perlu menerangkan substansi spanduk itu agar masyarakat tidak larut dalam kebingungan berkepanjangan.

Dalam spanduk-spanduk itu, Prof Darni hanya menulis kalimat permohonan maaf dengan bunyi: meuah desya loen rakan sinaroe, tapeujroh nanggroe ngon meusyedara. Budayawan Aceh, Syamsuddin Jalil yang akrab disapa Ayah Panton, mengaku kaget melihat permintaan maaf Darni Daud dalam spanduk yang ia lihat di kawasan Aceh Utara. “Memangnya seberapa besar dan seberapa banyak dosa Pak Darni kepada rakyat sehingga harus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui spanduk?,” ujar Ayah Panton Kamis (25/11) lalu. Menurut Ayah Panton, biasanya permintaan maaf disampaikan oleh seseorang yang baru tersadar akan kesalahan-kesalahan masa lalu dan yang bersangkutan berada kondisi sakit parah.

Curi start kampanye?
Penebaran spanduk Rektor Darni di seluruh Aceh dengan memanfaatkan momen hari besar Islam dapat dianggap sebagai bagian curi start kampanye. Ini adalah bagian pengenalan diri kepada publik yang merupakan awal dari sosialisasi/kampanye, meski yang bersangkutan belum berani secara terbuka mencatumkan identitas diri sebagai kandidat gubernur 2011. Selain belum memiliki kendaraan politik, tidak dimunculkan kata “calon gubernur Aceh 2011” ini barangkali untuk mengelak komplain curi start kampanye, walau secara terselubung aroma kampanye tercium kental.

Tidak diketahui secara pasti berapa banyak jumlah spanduk Idul Adha yang dipasang Rektor Unsyiah itu. Dari sampel yang diamati di beberapa lokasi terpisah patut diduga sebaran spanduk itu merata di seluruh Aceh, dan ini tentunya memakan biaya dalam jumlah besar. Jika harga sehelai spanduk ukuran 1×4 meter plus ongkos pasang Rp 400 ribu dan diasumsikan dipasang di 50 persen dari total 6.411 desa, maka kebutuhan dana mencapai Rp 1.282.000.000,-. Wah, sebuah angka fantastis bagi seorang yang berprofesi pendidik. Kita berharap Pak Darni tak menghabiskan uang sebanyak itu untuk urusan spanduk Idul Adha, sebagaimana kita berharap agar dana pembangunan Unsyiah tidak terganggu oleh spanduk-spanduk liar itu.

Belakangan ini, sejumlah pihak menuding kampus Unsyiah mulai mengalami kemunduran. Indikator yang digunakan antara lain soal akreditasi Unsyiah yang melorot. Otto Syamsuddin Ishak, dosen Unsyiah yang dikenal kritis, bahkan secara blak-blak menuding adanya skandal politik di kampusnya, dan menyebut Rektor Darni sebagai rezim. Akreditasi Unsyiah untuk level rektorat hanya mendapat nilai C, padahal untuk level fakultas dan jurusan rata-rata bernilai A dan B (Otto Syamsuddin Ishak, Akreditasi tak Penting? Unsyiah Bernilai Santing!, Serambi,08/02/2010).

Melihat status Unsyiah yang mulai merosot, maka selayaknya pucuk pimpinan universitas jantong hate rakyat Aceh untuk lebih memperhatikan nasib kampus daripada berburu fatamorgana jabatan di luar. Tergiur pada jabatan dapat menyebabkan seseorang terlena dan akan melakukan apa saja untuk menggenggamnya. Kita tentu tak rela profesor melakukan hal-hal tidak sehat, apalagi sampai muncul image pemberhalaan jabatan sebagaimana pernah menjelma saat pemilihan rektor Unsyiah dengan “mengkandangkan” para guru besar di Hotel Hermes Palace sehari menjelang hari “H” pemilihan beberapa waktu lalu (Hasan Basri M.Nur, Penyembahan Berhala di Aceh, Serambi, 14/04/2010).

Patut diingatkan kembali bahwa Islam cenderung tidak menyukai orang yang terlalu ambisius akan jabatan karena dapat melahirkan rezim diktator. Sejarah Islam pasca-Nabi Muhammad mencatat, ke-empat sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Usman, Ali) sama sekali tidak memperlihatkan ambisi pribadi untuk menguasai pemerintahan warisan Rasul. Karena itulah pemerintahan periode ini disebut Khilafah Rasyidah/Khulafaurrasyidin (kepemimpinan yang mendapat petunjuk). Sementara Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang kemudian menggantikan Ali justru merampas kekuasaan dengan cara-cara licik dan kotor, bahkan dengan menjual nama Allah. Maka, sejak masa kepemimpinan Mu’awiyah pemerintahan berubah menjadi rezim diktator dan wujud khilafah hilang berganti monarki. Kita tentu tak berharap lahirnya rezim yang mengutamakan kepentingan pribadi/kelompok di Aceh usai pemilukada 2011. Semoga!

* Penulis adalah dosen IAIN Ar Raniry, Banda Aceh.

== == ==

Tulisan ini sudah pernah dimuat Rubrik Opini Harian Serambi Indonesia edisi 2 Desember 2010

Iklan

GAMNA Gelar Sayembara Menulis “Harapan Rakyat Aceh pada Parpol”

Selain menyediakan hadiah untuk 6 pemenang, kami merencanakan membukukan 30 karya terbaik. Buku ini akan diluncurkan pada akhir tahun, diedarkan kepada publik dan diserahkan kepada seluruh parpol yang ada di Aceh untuk menjadi referensi dalam membuat kebijakan,” kata ketua panitia, Tgk. Irsyadi.

Setelah sukses mengemas sayembara “Suara Rakyat Aceh” pada 2012 lalu, kini Gema Aneuk Muda Nanggroe Aceh (GAMNA) menggelar sayembara “Harapan Rakyat Aceh pada Partai Politik”. Sayembara ini bertujuan untuk menampung aspirasi rakyat Aceh guna disampaikan kepada pengurus partai politik selaku pihak yang akan mengirimkan kader ke lembaga legislatif dan pucuk eksekutif.

“Sayembara ini digelar dalam rangka menyongsong Pemilu Legislatif 2014 nanti. Kami hendak memfasilitasi masyarakat agar mempunyai wadah dalam menyampaikan aspirasi kepada parpol sehingga fungsi anggota legislatif berjalan sesuai dengan mandatnya terutama dalam aspek legislasi, penganggaran dan pengawasan,” kata Sekjen GAMNA Tgk Muhammad Nasir, Selasa (17/9/2013), di Banda Aceh.

Ditambahkannya, sayembara ini terbuka untuk umum, tidak dibatasi usia dan jenjang pendidikan. “Parpol itu kan akan mewakili rakyat ke kursi dewan. Jadi dalam hal ini kami menginginkan masyarakat dari semua kalangan untuk menyampaikan pesan dan harapannya dengan beranjak dari fenomena yang ada. Akademisi, guru, aktivis dan masyarakat biasa kami harapkan mengirimkan karyanya. Tulisan boleh atas nama individu, dan boleh juga atas nama lembaga. Setiap karya harus mempunyai tawaran solusi,” kata Nasir didampingi Ketua Panitia Sayembara, Tgk Irsyadi.

“Tulisan dalam sayembara ini harus dikemas dalam bentuk essay dengan panjang antara 1000-1500 kata. Selain menyediakan hadiah untuk 6 pemenang, kami merencanakan membukukan 30 karya terbaik. Buku ini akan diluncurkan pada akhir tahun, diedarkan kepada publik dan diserahkan kepada seluruh parpol yang ada di Aceh untuk menjadi referensi dalam membuat kebijakan,” kata ketua panitia, Tgk. Irsyadi. 

Penerimaan naskah dimulai Rabu tanggal 18 September 2013 dan ditutup Kamis tanggal 31 Oktober  2013. Naskah dikirim dalam bentuk soft copy menggunakan karakter time new roman ke alamat email  info@gamna.or.id dan pengurusgamna@gmail.com. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 18 November 2013 melalui situs www.gamna.or.id, dengan melampirkan identitas dan nomor kontak. Sementara jadwal penyerahan hadiah akan ditentukan kemudian hari pada hari peluncuran (launching) buku yang direncanakan akhir tahun 2013. Info lebih lanjut dapat menghubungi: 081360611121 [*/hbn]

== == == == == == ==

PERSYARATAN

A. LATAR BELAKANG

Bulan April 2014 di Indonesia akan digelar Pesta Demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif. Seluruh partai politik yang telah lulus verifikasi dan berjumlah 15 partai (12 partai nasional dan 3 partai lokal di Aceh) akan ambil bagian dalam pesta rakyat ini.

Pemilu Legislatif akan melahirkan anggota legislatif untuk semua tingkatan di Indonesia, mulai tingkatan paling rendah di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRD Tingkat II, di Aceh disebut DPRK), Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi (DPRD Tingkat I, di Aceh disebut DPRA).

Selanjutnya partai politik ini akan melahirkan pemimpin politik di setiap kabupaten/kota (bupati/walikota), provinsi (gubernur) hingga pemimpin negara (Presiden RI). Ini artinya arah kemajuan bangsa berada di tangan mereka dan rakyatlah yang memberikan mandat kepada mereka melalui ajang Pemilu yang digelar setiap 5 tahun.

Melihat pentingnya peran dan fungsi parpol tersebut, maka GAMNA mencoba mengambil bagian sebagai perantara dalam memfasilitasi suara dan harapan rakyat yang digantungkan kepada parpol, melalui sayembara bertema: “MENYONGSONG PEMILU 2014, HARAPAN RAKYAT ACEH PADA PARPOL”.

B. TUJUAN SAYEMBARA

Memfasilitasi komunikasi politik antara rakyat dengan pemimpin partai politik yang akan melahirkan anggota legislatif dan pemimpin politik melalui even sayembara menulis. Tulisan terbaik yang memiliki hrapan dan solusi nyata dan kongkrit yang dikirim melalui sayembara ini akan dicetak dalam sebuah buku, dan buku itu nantinya akan diedarkan kepada publik serta diserahkan kepada seluruh pengurus parpol di Aceh yang diharapkan menjadi referensi dalam membuat kebijakan partai.

C. TARGET KEGIATAN

Secara khusus, target sayembara ini adalah sebagai berikut:

1. Memberi solusi untuk partai politik, anggota legislatif dan pemimpin politik di semua jenjang dan setiap daerah.

2. Membangun tradisi menulis secara kritis di kalangan masyarakat

3. Membangun tradisi masyarakat memberi masukan melalui tulisan

D. TEMA SAYEMBARA

Sayembara ini bertema: “MENYONGSONG PEMILU 2014, HARAPAN RAKYAT ACEH PADA PARPOL”.

Tulisan yang dikirim harus fokus pada salah satu dari 5 (lima) sub-tema berikut:

1. Fungsi Parpol dalam menyiapkan kader politik yang ahli dan peka Fungsi Legislasi

2. Fungsi Parpol dalam menyiapkan kader politik yang ahli dan peka Fungsi Anggaran

3. Fungsi Parpol dalam menyiapkan kader politik yang ahli dan peka Fungsi Pengawasan

4. Fungsi Parpol dalam menyiapkan pemimpin (negarawan) yang visioner, adil dan pro-rakyat

5. Fungsi Parpol sebagai wadah pendidikan politik bagi rakyat

E. KRITERIA DAN SYARAT KARYA TULIS

1. Penulis memilih fokus pada salah satu dari 5 (lima) fokus di atas. Penulis harus memaparkan realitas permasalahan yang terjadi dan kemudian dikorelasikan dengan problem kekinian untuk selanjutnya diberikan tawaran solusi yang nyata dan konkrit.

2. Peserta adalah warga Aceh, baik yang berdomisili di Aceh atau di luar Aceh.

3. Sayembara terbuka untuk umum dan tidak dibatasi umur serta jenjang pendidikan (akademisi, mahasiswa, santri, pelajar, aktivis, dan masyarakat biasa).

4. Karya tulis yang dikirim berbentuk opini atau tulisan ilmiah popular.

5. Karya yang akan dilombakan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku dan

dipublikasikan lewat media cetak atau elektronik, serta tidak sedang diikutkan dalam

kompetisi atau kegiatan serupa lainnya.

6. Karya yang diikutsertakan bukan saduran, terjemahan dan plagiat dari naskah yang telah ada sebelumnya.

7. Tiap peserta dapat mengirimkan maksimal dua artikel terbaik ke panitia pelaksana.

8. Peserta melampirkan biodata singkat dan nomor handphone yang bisa dihubungi.

9. Karya dikirim dengan format kertas A4, margin normal, font time new roman 12 pt, spasi

1,5, minimal 1000 kata, dan maksimal 1500 kata (hanya isinya, tidak termasuk judul, nama penulis, dan referensi dalam bentuk catatan kali).

10. Pada bagian atas tulisan ditulis judul tulisan menggunakan font time new roman 16 pt, dan di bagian bawah judul dicantumkan nama penulis dan statusnya.

11. Tulisan yang mengutip sumber/rujukan harus menyebutkan sumbernya dalam bentuk catatan kaki dengan format: nama penulis, judul buku, tempat terbit, tahun terbit dan halaman. Untuk referensi online ditulis nama penulis (kalau ada), judul tulisan, nama dan alamat web, tanggal pemuatan, dan tanggal diakses.

12. Karya diterima panitia paling lambat 31 Oktober 2013

13.Naskah dikirim via email ke info@gamna.org, nasirjroh@gmail.com

14.Dewan juri menetapkan 6 orang pemenang dan kepada mereka diberikan hadiah uang, dan sertifikat.

– Juara I (Rp.1.500.000,-)

– Juara II (Rp.1000.000,-)

– Juara III (Rp. 700.000,-)

Harapan I (Rp. 500.000,-)

Harapan II (Rp. 300.000,-)

Harapan III (Rp. 200.000,-)

15.Panitia menyediakan sertifikat kepada semua peserta yang mengirimkan tulisan.

16. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 18 November 2013 melalui webdite http://www.gamna.or.id

17. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.

F. LAUNCHING BUKU

Selain memberikan hadiah kepada 6 pemenang, panitia melalui dewan juri menyeleksi 30 karya terbaik untuk diterbitkan dalam bentuk buku yang akan diedarkan kepada publik dan diserahkan kepada seluruh pengurus partai politik, anggota legislatif dan pemimpin politik di Aceh. Buku ini direncanakan diluncurkan (launching) pada akhir tahun 2013. Pemilik karya terpilih akan dihubungi untuk menghadiri acara launching.

Info lebih lanjut, silahkan hubungi: Sekretariat GAMNA, Jln. Teuku Nyak Arif No.234-B, Simpang Mesra, Banda Aceh 23115.