Menengok Kampung Industri di Tasik

Rumah-rumah di sana berukuran besar dan megah. Hampir di setiap halaman rumah terparkir kendaraan roda empat dari berbagai merek, mulai mobil pick up hingga mobil mewah sekelas Robicon dan CRV. “Mobil-mobil itu dibeli pakai uang usaha bordir,” seru Budiman Firmansyah, S.Sos.I, MA, anggota DPRD Kab.Tasikmalaya.

Bersama Budiman Firmansyah, di salah satu pabrik bordir di Tasikmalaya

Di sela-sela kunjungan ke Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, saya menyempatkan diri mengunjungi Tasikmalaya yang terletak 106 kilomter di belahan timur Kota Bandung. Meski hanya berjarak 106 km dari Kota Bandung, namun perjalanan darat ke Tasikmalaya menghabiskan waktu 3 – 4 jam. Bandingkan dengan perjalanan darat dari Banda Aceh ke Kota Sigli yang berjarak 112 km via Gunung Seulawah, yang hanya memakan waktu 1,5 – 2 jam.
Lamanya waktu tempuh Bandung – Tasik tak lain karena tingkat kepadatan lalu lintas disana yang sangat tinggi. Selain ruas jalan yang berliku di sela-sela perbukitan, lebar badan jalan juga sangat sempit, hanya muat dua unit mobil untuk dua arah yang berlawanan. Pengendara harus sabar antri di ruasnya masing-masing agar tidak terjadi kemacetan dan kecelakaan.
Dari aspek infrastruktur jalan, Aceh pascatsunami jauh lebih unggul dibanding jalan Bandung-Tasikmalaya. Jika di Jawa jalan-jalan sangat sempit dan kendaraan melimpah, maka di Aceh jalan-jalan sangat lebar dan jumlah kendaraan relatif sedikit. Kelebihan inilah yang terkadang jarang kita syukuri untuk meningkatkan produktivitas guna menekan pengangguran dan angka kemiskinan di Aceh.
Berangkat pukul 17.00 dari terminal Cicaheum Bandung, saya tiba di Kota Tasikmalaya pukul 20.30 WIB. Malam itu, Senin (25/2/2013), saya dijemput anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Budiman Firmansyah, S.Sos.I, M.A. Dia adalah anggota DPRD termuda dan terpilih dengan suara penuh dari PPP. “Tasikmalaya adalah basis PPP dan pemenang Pemilu sejak lama,” ujar Budiman.
Malam itu juga Budiman mengajak saya keliling Kota Tasikmalaya. Usai keliling kota dan sambil pulang menuju ke rumahnya di Singaparna (ibukota Kabupaten Tasikmalaya), Budiman sengaja memilih jalan yang melewati wilayah Sentra Produksi Kerajinan Bordir. Saat itu, jam di tangan menujukkan angka 23.45, cuaca mulai menggigil menusuk tulang.
Saya sempat menduga orang-orang pasti sudah terlelap dalam mimpu di peraduan. Namun, di luar dugaan, dari jauh tiba-tiba terdengar suara gemuruh bak hujan deras yang menerpa atap rumah. Makin lama suara itu makin kencang. “Bang, itu suara mesin bordir yang dimiliki hampir setiap rumah di sini. Mesin itu bekerja 24 jam agar dapat menutupi kredit pembelian ke bank yang rata-rata Rp 200 juta per unit,” ungkap Budiman.
Kampung yang kami lewati itu bernama Saguling. Di sepanjang jalan di desa itu terdengar gemuruh suara mesin bordir, walau pintu-pintu rumah warga sudah terkunci rapat. Rumah-rumah di sana berukuran besar dan megah. Hampir di setiap halaman rumah terparkir kendaraan roda empat dari berbagai merek, mulai mobil pick up hingga mobil mewah sekelas Robicon dan CRV. “Mobil-mobil itu dibeli pakai uang usaha bordir,” seru Budiman yang juga memiliki 2 mesin bordir besar.
Di Tasikmalaya terdapat empat Sentra Industri Bordir, yaitu di Desa Cibeti dan Desa Saguling (keduanya di Kota Tasik), serta di Desa Cimawate dan Bojongparang (keduanya di Kabupaten Tasik). “Keempat sentra industri ini letaknya berdekatan. Total ada sekitar 5.000 unit usaha rumah tangga. Mereka hidup makmur dan ikut membantu mengurangi jumlah pengangguran dan kemiskinan di Tasik,” ujar politisi muda yang komit membina massa pemilihnya.
“Mesin-mesin bordir itu dibeli dengan cara kredit. Pihak perbankan menawarkan pinjaman modal bagi mereka. Bahkan ada distributor mesin jahit dari Jepang dan Cina yang membuka kantor cabang di Tasik. Begitu juga pengusaha kain, banyak yang membuka cabangnya di Tasik untuk memasok bahan baku kepada pengrajin,” sambung Budiman yang juga dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Kabupaten Tasikmalaya.
Budiman menceritakan, ada seorang pengusaha bordir yang tidak tamat SD karena miskin, tapi kini sudah memiliki 30 unit mesin bordir dan 250 orang pekerja. “Mesin bordir itu berharga di kisaran Rp 200 juta – Rp 1 miliar, tergantung jumlah kepala dan kemampuan kerja. Pengusaha itu kini memiliki keuntungan hingga Rp 750 juta per bulan dan outletnya ada dimana-mana,” papar Budiman.
Seorang pekerja yang ditemui di Usaha Haekal di Saguling Panjang, Hendi Herdiana (20), dia mengaku bekerja 12 jam per shift. Dalam satu hari ada dua shift. Tugas saya mengontrol mesin, mengganti warna benang dan lain-lain. Saya dibayar Rp 28 ribu per lembar dan itu butuh waktu satu shift. Sementara desain model di komputer ditangani petugas lain,” ujar Hendi.
Industri bordir Tasik telah lama menembus pasar nasional. Jika Anda pergi ke Pusat Pakaian Tanah Abang, di sana dengan mudah dapat ditemui pakaian muslim dengan model-model kreatif yang lahir dari dapur-dapur rumah warga di Tasikmalaya. Bahkan seperti dilansir situs tasikmalayakota.go.id, produk bordir Tasikmalaya telah menembus negara-negara Timur Tengah, Singapura, Malaysia dan Afrika.
Melihat kesungguhan dan konsistensi warga Tasikmalaya dalam membangun industri rumah tangga dari usaha bordir, saya jadi teringat apakah mungkin hal serupa diterapkan di Aceh? Dulu di era rehab-rekon Aceh pascatsunami sempat ada bantuan mesin bordir modern yang sudah dilengkapi komputer untuk beberapa pengrajin di Aceh. Nah bagaimana nasib usaha rumah tangga itu kini? Pengrajin Tasikmalaya tidak pernah mendapat bantuan mesin secara mentah-mentah kecuali hanya berupa pembinaan dan bantuan promosi dari Pemkab setempat, tapi bisa maju dan menguasai pasar nasional, bagaimana dengan kita? [hasan basri m nur]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s