Jalan Panjang Menembus Buloh Seuma

“Alhamdulillah, setelah melalui berbagai rintangan dan jalan panjang berliku, akhirnya pada Maret 2013 jalan ke kampung kami dapat dilalui melalui jalur darat walau kondisinya masih amat sangat memprihatinkan,” kata Zainal, Sekdes Teungoh Buloh Seuma, Aceh Selatan.

Gambar

Luapan air di jalan menuju Buloh Seuma

Buloh Seuma, sebuah nama yang sangat populer di Aceh. Meski populer, tapi tak banyak orang yang tahu dimana dan bagaimana kondisi kehidupan di sana. Ia populer karena terlalu terisolair sekaligus terdapat sejumlah rintangan dan hambatan dalam upaya membuka isolasi itu. Hingga awal 2013 atau setelah 68 tahun Indonesia merdeka, Buloh Seuma masih belum dapat dilalui melalui jalur darat.

Buloh Seuma adalah sebuah kemukiman di Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan. Kemukiman ini terdiri dari tiga gampong; Gampong Kuta Padang, Gampong Rakit dan Gampong Teungoh. Jumlah penduduknya sekitar 800 jiwa berasal dari 300 Kepala Keluarga (KK).

Buloh Seuma berjarak sekitar 38 KM dari pusat Kecamatan Trumon. Namun selama puluhan tahun tidak tersedia sarana transportasi darat kesana. Satu-satunya sarana transportasi untuk menjangkau Buloh Seuma adalah melalui jalur laut, walau sesungguhnya ia tidak terletak di pulau yang terpisah dari daratan Sumatera.

Setelah menunggu selama 68 tahun, akhirnya pada 2012 Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dengan memanfaatkan dana otonomi khusus (otsus) melakukan aksi nyata dan membuka isolasi Buloh Seuma dengan membuka ruas jalan di celah-celah hutan rawa. Pembukaan jalan oleh Pemkab Aceh Selatan ini tidak terjadi tiba-tiba, melainkan buah dari perjuangan panjang yang dengan gigih diperjuangkan penduduk Buloh Seuma.

Alhamdulillah, setelah melalui berbagai rintangan dan jalan panjang berliku, akhirnya pada Maret 2013 jalan ke kampung kami dapat dilalui melalui jalur darat walau kondisinya masih amat sangat memprihatinkan,” kata Zainal, Sekretaris Gampong Teungoh, kapada Tabangun Aceh, Jumat (4/10/2013).

Menurut Zainal, masyarakat Buloh Seuma sangat mengidamkan jalan tembus agar memudahkan mereka dalam menjalin hubungan dagang dan persahabatan dengan Aceh “daratan”. Selain terus berjuang di tingkat kabupaten, sejak tahun 2007-2011 mereka gigih mendatangi para pejabat pemerintah Provinsi Aceh dan wakil rakyat di gedung DPRA di Banda Aceh.

“Karena buntu dan tak mendapat respon memuaskan, akhirnya kami bersepakat untuk meminta bergabung ke Kota Subulussalam, memisahkan diri dari Aceh Selatan. Pemko Subulussalam memberi harapan segera membuka jalan dari Rundeng ke Buloh Seuma, kalau Pemkab Aceh Selatan bersedia melepaskannya,” sambung Zainal. (Lihat 9 Langkah Membuka Buloh Seuma)

Merdeka 2013

Setelah menunggu lama dan berjuang dengan berbagai cara, akhirnya pada 2012 jalan dari pusat Kecamatan Trumon ke Buloh Seuma dibuka. Jalan berlebar 12 meter membelah lurus hutan rawa sepanjang 18 kilometer. Sebelumnya dari Trumon ke Tebing Tinggi, desa terakhir sebelum Buloh Seuma, sudah ada jalan. Walau jarak dari Trumon ke Buloh Seuma sejauh 38 km, tapi panjang jalan baru yang dibuka hanya 18 km, dan dapat dilalui pada Maret 2013.

Saat dikunjungi Tabangun Aceh pada awal Oktober 2013, kondisi jalan menuju Buloh Seuma masih sangat memprihatinkan, berlubang, bergelombang, bahkan berlumpur. Kalau sedang tidak hujan dan air rawa tidak meluap, jalan ini dapat dilalui kendaraan roda empat jenis jeep. Sementara kendaraan pribadi jenis sedan jangan bermimpi dapat melaluinya.

Mulai dari persimpangan pasar Trumon hingga 38 km ke Buloh Seuma kondisi jalan rusak. Kendaraan hanya dapat melaju dengan kecepatan 10-15 km/jam. Ini artinya butuh waktu 2,5 – 3 jam untuk mencapai Buloh Seuma. Selain kondisi jalan berlubang, terdapat 7 jembatan yang kondisinya masih darurat. Di beberapa jembatan, penumpang mobil harus turun dan memandu mobilnya agar tidak terperosok.

“Hari ini ada luapan air melewati lutut di Suak Reubo. Mobil minibus ini tidak akan lewat. Sebaiknya kita simpan mobil di Desa Tebing Tinggi, lalu kita naik sepeda motor,” saran Zainal, Sekdes Teungoh, yang mendampingi Tabangun Aceh sejak dari kantor camat Trumon.

Sesampai di Suak Reubo pengendara harus turun dan mendorong kendaraannya hingga melewati genangan air yang melewati lutut. Beberapa pengendara tampak membuka celana panjang dan menyisakan celana pendek. Sebuah mobil pick up yang nekat menerobos tampak terperosok dalam luapan air rawa, pemiliknya tampak sabar berusaha melepaskannya.

“Sebenarnya di Suak Reubo ini butuh sebuah jembatan karena air sering meluap dan tergenang. Genangan air hari ini tidak seberapa dibanding saat musim hujan atau saat kuala meluap,” kata Zainal dibenarkan Mansurdin, Kepala SDN Buloh Seuma yang ikut mendampingi Tabangun Aceh.

Komit Bangun Buloh Seuma

Ditemui terpisah, Bupati Aceh Selaman, T.Sama Indra, menyatakan Pemkab Aceh Selatan memiliki komitmen kuat untuk menuntaskan isolasi Buloh Seuma. Komitmen ini dibuktikan aksi nyata Sama Indra yang pada 7-8 September 2013 “mengangkut” semua SKPK Aceh Selatan untuk menyerap, menampung aspirasi serta potensi Buloh Seuma untuk dibuat program pembangunan secara terpadu.

“Saya bersama para Kepala SKPK dan jajarannya mengunjungi dan menginap di rumah-rumah warga Buloh Seuma agar dapat dibuat pilot project pembangunan terpadu antarinstansi pada 2014 mendatang. Masing-masing dinas dapat merancang program sesuai bidangnya di Buloh Seuma,” ujar Sama Indra yang ditemui di pendopo bupati, Kamis (3/10/2013) malam.

Sementara target penyelesaian jalan tembus ke Buloh Seuma akan dikerjakan secara bertahap dalam proyek multiyears mulai 2013 sampai 2015. Total dana yang dianggarkan dalam APBA sebesar Rp. 103 miliar rupiah. Pada tahun 2013 direncanakan pengerjaan pengerasan jalan, dan pada 2015 ditarget sudah beraspal seluruhnya.

Proyek jalan tembus yang menelan dana melebihi 100 miliar rupiah ini diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat di Buloh Seuma dan sekitarnya. Untuk jangka panjang akan diupayakan pembukaan jalan tembus dari Trumon, Aceh Selatan ke Rundeng, Kota Subulussalam, dan menjadi jalan alternatif penghubung antarkabupaten di Barat Selatan Aceh. [hasan basri m nur]

===

9 Langkah Membuka Buloh Seuma

  1. 2007-2011 delegasi dari Buloh Seuma yang terdiri dari 3 orang geusyik, 3 orang sekdes dan 1 orang imum mukim secara rutin mendatangi kantor PU Provinsi dan kantor DPRA di Banda Aceh untuk memperjuangkan pembukaan jalan dari Trumon ke Buloh Seuma.
  2. Karena tidak mendapat hasil memuaskan, maka pada 2011 warga Buloh Seuma meminta bergabung ke Kota Subulussalam yang memang bertetangga. Warga membentuk Panitia Pemisahan Buloh Seuma (PPBS) untuk mempercepat realiasasi pemisahan ini.
  3. Pemko Subulussalam menyambut baik keinginan warga Buloh Seuma dan menjajikan pembukaan ruas jalan dari Rundeng ke Buloh Seuma secepatnya. Pemko Subulussalam sangat berharap Buloh Seuma dapat bergabung dengan ke wilayah mereka. Sebab Subulussalam tidak memiliki wilayah pesisir pantai, dan Buloh Seuma menjadi harapan satu-satunya.
  4. Juli 2011 warga Buloh Seuma berbondong-bondong mendatangi Kantor DPRK Aceh Selatan untuk mengembalikan KTP dan geusyik mengembalikan stempel. Mereka sudah komit untuk bergabung dengan Subulussalam yang merupakan pecahan dari Aceh Selatan. Setiap warga membuat surat pernyataan “hijrah” ke Subulussalam di atas kertas bermaterai. Plang nama desa diganti dan mencantumkan nama Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam.
  5. Maret 2012 Bupati Aceh Selatan T.Husein Yusuf (sekarang mantan bupati) untuk pertama kalinya mengunjungi Buloh Seuma via jalur laut. Dia berjanji akan segera membangun jalan dari Trumon ke Buloh Seuma. Masyarakat pun mengambil kembali KTP dan geusyik mengambil stempel desa.
  6. Sesuai janji Bupati T.Husein Yusuf, pada pertengahan 2012 jalan dan jembatan ke Buloh Seuma yang membelah rawa Trumon mulai dikerjakan.
  7. Maret 2013 Buloh Seuma mulai dapat dijangkau via darat. Kondisi jalan masih darurat. Saat air pasang, luapan air menggenangi beberapa titik badan jalan. Pengendara sepeda motor harus turun, membuka sepatu dan mengangkat celana untuk kemudian mendorong sepeda motor.
  8. September 2013 Bupati T.Sama Indra membawa hampir seluruh kepala dinas Aceh Selatan dan berkonvoi dengan 40 mobil ke Buloh Seuma via jalan darurat. Bupati dan rombongan menginap satu malam di rumah-rumah warga. Para kepala dinas diminta membuat program secara terpadu sesuai job desk masing-masing di Buloh Seuma.
  9. 2013-2015 proyek multiyears pembangunan jalan ke Buloh Seuma dengan memanfaatkan dana Otsus sebesar Rp. 103 miliar akan dikerjakan sampai ruas jalan ke sana direncanakan selesai diaspal pada 2015. (hasan basri m nur)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s