Asal Usul Buloh Seuma

“Penduduk Buloh Seuma berasal dari Banda Aceh yang merantau ke sana pada hari Kamis tanggal 5 Mei 1786,” kata Tgk. Abidin Jal, Imum Mukim Buloh Seuma

Gambar

Banyak orang bertanya-tanya, mengapa di pedalaman Trumon, tepatnya di Buloh Seuma, terdapat pemukiman penduduk? Bukankah di sana mereka hidup terkurung, tidak ada akses jalan, listrik dan telekomonunikasi? Mengapa pula mereka bertahan dan tak mau direlokasi walau pada era konflik seluruh penduduk Buloh Seuma pernah eksodus ke Ibukota Kecamatan Trumon selama 3 tahun (2003-2005) sampai kemudian berlangsung perdamaian antara pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005 di Helsinki?

Itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika membahas isu pemukiman paling terisolir di Aceh Selatan, Buloh Seuma yang terletak 38 km dari Ibukota Kecamatan Trumon. Walau letaknya menyatu dengan Kecamatan Trumon, namun kawasan ini tidak dapat dijangkau melalui jalur darat karena ketiadaan jalan.

Dari bincang-bincang dengan Tgk. Abidin Jal, Imum Mukim Buloh Seuma, pertanyaan-pertanyaan itu pun terjawab. “Penduduk Buloh Seuma berasal dari Banda Aceh yang merantau ke sana pada hari Kamis tanggal 5 Mei 1786. Awalnya, Tgk. Muhammad Yasin bersama 12 orang temannya dari Kutaraja mencari ikan di laut dengan sampan dan pukat,” kata Abidin.

“Dalam perjalanannya, Tgk Muhmmad Yasin dan timnya mendarat di Suak Arun (Buloh Seuma).  Lalu beliau melihat kondisi alamnya cocok untuk bermukim, maka mereka pulang ke Kutaraja untuk menjemput anggota keluarga guna dibawaserta bermukim di Buloh Seuma. Jadi, penduduk di sini mempunyai asal-usul dari Aceh Rayeuk,” cerita Abidin Jal saat ditemui Tabangun Aceh di Desa Raket, Buloh Seuma, Jumat (4/10/2013).

Mengenai nama Buloh Seuma sendiri, kata Abidin, ditabalkan dari nama “buluh” atau sejenis bambu kecil yang banyak terdapat di pinggiran sungai. Ketika mendarat, sampan nelayan diikat dengan buluh kecil. Sementara seuma bermakna kecil yang dinisbahkan ke butiran paling kecil pada ujung padi.

“Rombongan awal ini sering menyebut buloh ube seuma kepada “tali” pengikat sampan mereka. Maka, kemudian terkenallah kampung ini sebagai Buloh Seuma,” kiasah Abidin Jal disaksikan Guru Mansurdin dan Sekdes Raket, Zainal.

Dari rombongan kecil yang datang 1786 itu, kini di Buloh Seuma telah terbentuk perkampungan yang terdiri dari 3 desa (Raket, Teungoh dan Kuta Padang) dengan jumlah penduduk sekitar 800 jiwa dari 300 KK.

“Buloh Seuma telah menjadi tanah air kami. Nenek-nenek dan saudara kami dikuburkan di sini, sehingga tidak mungkin meninggalkan begitu saja pemukiman yang telah dirintis lebih 200 tahun itu. Yang perlu kami perjuangkan adalah adanya hak atas kue pembangunan,” sambung Zainal, Sekdes Teungoh.

Sementara Zainuddin, Geusyik Kuta Padang, menyebut kampungnya itu sangat membutuhkan tiga hal mendesak. “Jalan, listrik dan telekomunikasi. Dari tiga kebutuhan itu, jalan berada di rangking 1, karena dengan adanya jalan, maka yang lain pasti akan menyusul,” katanya. [hasan basri m nur]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s