Profesor dari SD Rikit Gaib

“Baju dan buku-buku dimasukkan ke dalam plastik, lalu berenang menyeberangi sungai hingga mencapai daratan di seberang,” ujar Ridwan, Warga Penoman Jaya Rikit Gaib

“Sejak kecil Abubakar dikenal gigih, gesit dan pantang menyerah. Dia selalu menjadi pemimpin atas rekan-rekan sebayanya,” kata Haji Idris, Pensiunan Puskesmas Rikit Gaib

Image

Sukses dapat menjadi milik siapa saja, bukan hanya milik golongan masyarakat tertentu dari kalangan kaya dan perkotaan. Orang-orang pinggiran dan berasal dari keluarga miskin dapat saja meraih sukses sejauh mereka dengan sungguh-sungguh mau berusaha ke arah itu. Oleh sebab itu, tak ada alasan bagi siapa pun untuk menyalahkan keadaan, dan enggan berusaha mengubahnya.

Ada orang yang dapat meraih kesuksesan melalui perjuangan panjang karena hidup di pelosok negeri dan berasal dari keluarga kurang mampu. Sebaliknya ada pula orang kota yang terlahir dari keluarga kaya, tapi gagal meraih sukses. Intinya, selama ada tekad dan kemauan serta dorongan dari orang-orang dekat, sukses itu tetap dapat diraih.

Menjadi orang sukses dalam bidang pendidikan tentu lebih sulit dibanding sukses dalam wujud materi. Secara teori, sekolah di pedalaman yang serba kekurangan sulit melahirkan alumni yang mampu berkompetisi di kota. Itu teori. Ternyata sukses di dunia pendidikan tidak mutlak milik sekolah-sekolah ternama yang didukung fasilitas serba modern dan SDM handal.

Tak jarang, dunia dikejutkan oleh tampilnya anak-anak pedalaman ke permukaan. Tampilnya sosok dari daerah terpencil dan dari keluarga kurang mampu tentu nilainya berbeda dengan tampilnya sosok dari keluarga mapan dari perkotaan. Dari sekian sosok sukses itu, tersebutlah nama Abubakar Karim (51) dari Rikit Gaib, Gayo Lues.

Pria yang kini tercatat sebagai guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala ini menghabiskan masa kecilnya di Desa Penoman Jaya, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues. Di era 1960-an hingga 1990-an, desa ini sangat terisolir, minim fasilitas dan sulit dijangkau.

Abubakar tidak terlahir dari keluarga berada. Ayahnya hanyalah seorang guru SD yang di era 1960-an bergaji di bawah cukup. Itulah sebabnya menjadi guru atau PNS pada saat itu tidak mempunyai daya tarik.

“Kami dari keluarga susah, untuk makan pun susah. Gaji ayah kami hanya cukup untuk sekali makan di warung. Orangtua kami hanya mewariskan ilmu kepada anak-anaknya, tidak mewariskan harta benda apa pun,” kata Ridwan, abang kandung Abubakar, saat ditemui Tabangun Aceh di rumahnya di Penoman Jaya, Kamis (14/11/2013).

Menurut Ridwan, ayahnya selalu berpesan akan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya yang berjumlah tujuh orang. “Itulah sebabnya, walau kami tinggal di daerah terpencil tapi diwajibkan untuk sekolah. Tinggal di kampung dan miskin tidak menjadi alasan untuk tidak bersekolah,” kata Ridwan menirukan ucapan ayahnya.

Berenang ke Sekolah

Lokasi Penoman Jaya sendiri sudah terpencil, tapi rumah tempat Abubakar dibesarkan lebih terpencil lagi. Rumahnya terletak di seberang sungai dan terpisah dari rumah-rumah penduduk. Abubakar bersaudara saban hari harus berenang menyeberang sungai. “Minimal sehari dua kali kami menyeberang sungai; saat pergi sekolah dan saat pulang,” kenang Ridwan.

Bagaimana kalau lagi musim hujan dan banjr? “Hujan dan banjir tidak menjadi halangan. Kami sudah terlatih dalam menyeberang sungai. Baju dan buku-buku dimasukkan ke dalam plastik, lalu berenang menyeberangi sungai hingga mencapai daratan di seberang. Sesekali basah buku, itu hal biasa,” kata Ridwan.

Dalam amatan Tabangun Aceh, sungai yang lazim diseberangi oleh Abubakar kecil sangat dalam, curam dan lebar. Airnya pun mengalir deras. Hanya orang-orang terlatih yang mampu menyeberanginya. Tapi Abubakar mampu melewati masa-masa pahit itu.

Jarak dari rumah Abubakar ke sekolah 6 km. Artinya, selain menyeberang sungai dua kali sehari, Abubakar juga berjalan kaki sejauh 12 kilometer setiap harinya. “Itu belum termasuk kerja membantu orangtua pergi ke kebun dan sawah. Sepulang sekolah, Abubakar pergi ke sawah, kebun, dan ke gunung untuk mencari kayu bakar. Begitulah masa kecilnya dihabiskan,” cerita Ridwan.

Jual Sirih

Tidak hanya itu, setiap hari Selasa yang kebetulan hari pasar di Rikit Gaib, Abubakar selalu membawa sirih, pisang atau apa saja hasil kebun yang bisa dijual ke pasar. “Pagi-pagi sekali dia ke pasar untuk menjual hasil kebun untuk uang jajan. Ini rutin dia lakukan. Begitulah cara dia mendapatkan uang jajan,” sambung Ridwan.

Ditemui terpisah di Masjid Rikit Gaib, Jumat (15/11), Haji Idris (59), mengaku mengenal betul Abubakar. “Sejak kecil Abubakar dikenal gigih, gesit dan pantang menyerah. Dia selalu menjadi pemimpin atas rekan-rekan sebayanya,” kata Idris yang mengaku pernah menjadi murid dari ayahnya Abubakar.

“Walau rumahnya di seberang sungai dan tak ada jembatan, itu tak menjadi halangan bagi Abubakar untuk bersekolah. Dia belajar renang dan tak pernah mengeluh karena harus berjalan kaki sejauh 6 km ke sekolahnya di Desa Rempelam,” sambung Idris.

Jadi Profesor

Setamat SD, Abubakar ikut abangnya, Husein Karim  (kini almarhum) ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan SMP dan SMA. Kebetulan abangnya adalah dosen di FKIP Unsyiah. Dalam perkembangan selanjutnya, Abubakar melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Unsyiah dan kemudian lulus seleksi dosen di almamaternya. Lalu melanjutkan S2 dan S3 di Institut Pertanian Bogor. Kegigihannya dalam menuntut ilmu akhirnya mengantarkannya ke gelar tertinggi di dunia akademik, Profesor.

Selain sebagai guru besar di kampus, banyak jabatan yang pernah diisi Abubakar. Dia pernah menjadi manager di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, konsultan di berbagai lembaga nasional/international, kepala Bappeda Gayo Lues, dan kini sebagai Kepala Bappeda Provinsi Aceh.

Abubakar adalah contoh sosok yang gigih dalam berjuang mendapatkan pendidikan. Tanpa listrik, tanpa buku cetak, tanpa fasilitas informasi seperti televisi, komputer dan jaringan internet, dia berhasil meraih sukses hingga ke puncak gelar akademik.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak kota yang terlahir dari keluarga mapan, terdaftar di sekolah unggul, diantarjemput dengan mobil ber-AC, dapat membeli semua fasilitas pendidikan hingga laptop dan jaringan internet pribadi di rumah? Sungguh tak pantas untuk gagal dalam meraih gelar akademik dan kemudian menyumbang ilmunya untuk kemajuan anak bangsa.

Begitu juga bagi anak-anak pedesaan yang terlahir dari keluarga miskin, tak ada alasan untuk gagal dalam dunia pendidikan. Pendidikan terbukti dapat mengangkat derajat manusia sebagaimana janji Allah dalam Alquran. Pendidikan sudah terbukti mampu menekan angka kemiskinan. Oleh sebab itu, pendidikan mesti menjadi priortitas semua pihak dalam membangun negeri. Semoga! [hasan basri m.nur, cek wat]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s