Reinkarnasi Jahiliyah

Oleh Hasan Basri M. Nur

 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

 

PENYERANGAN terhadap kantor Dinas Syariat Islam Kota Langsa oleh segerombolan anak muda mabuk untuk membebaskan teman-temannya yang terjaring razia minuman keras pada Selasa (3/12/2013) dini hari, mirip peristiwa yang kerap terjadi pada masa-masa awal Islam. Ia bagaikan reinkarnasi (kemunculan kembali) perilaku jahiliyah. Nabi Muhammad (570-632 M) dalam berdakwah selalu mendapat perlawanan dan perlakuan kasar dari penduduk Mekkah era jahiliyah. Puncaknya Nabi Muhammad harus pindah sementara (hijrah) ke Madinah setelah 13 tahun berdakwah di Mekkah.

Sebagaimana perlawanan terhadap dakwah Nabi Muhammad pada era Mekkah, perlawanan secara terbuka terhadap penegakan Syariat Islam di Langsa pada Selasa (3/12/2013) bukanlah kejadian pertama, melainkan sudah berulang kali. Perlawanan dari kelompok anti Syariat Islam ini akan terus terjadi karena mereka belum memahami substansi ajaran Islam serta mungkin merasa mendapat pembelaan dan perlindungan dari organisasi demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).

 Menjadi dilema
Tindakan penertiban kelompok pembangkang terhadap Syariat Islam di Langsa kerap mendapat pembelaan dari mereka yang mengatasnamakan demokrasi dan HAM. Fenomena ini menjadi dilema tersendiri dalam penegakan Syariat Islam di sana. Perlawanan terhadap Syariat Islam di Langsa bermula dari kasus “bunuh diri” gadis remaja PE pada 6 September 2012. Disebut-sebut, PE “bunuh diri” karena malu dituduh sebagai pelacur yang terjaring dalam razia pelacur dan pemabuk di Lapangan Merdeka pada Senin (3/9/2012) dini hari.

Beberapa pihak, termasuk salah satu komunitas wartawan yang mengatasnamakan demokrasi dan HAM, kemudian cenderung menganggap penerapan Syariat Islam di Aceh bertentangan dengan HAM dan demokrasi. Syariat Islam pun menjadi terdakwa di negeri yang dihuni oleh hampir 100 persen penduduk muslim ini. Orang beramai-ramai menunjuk ke wajah Syariat Islam sebagai biang kerok pelanggaran HAM dan bertentangan dengan kebebasan.

Itulah sebabnya kemudian beberapa wartawan lintas media berusaha meluruskan dan membela penegakan Syariat Islam yang sedang tersudut, dan membentuk Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI). Organisasi ini aktif melakukan kampanye dan pembelaan terhadap penegakan Syariat Islam terutama untuk poin-poin syariat yang sudah disahkan menjadi qanun, selain mengampanyekan Islam damai. KWPSI menganggap setiap qanun yang sudah disahkan mesti dibumikan. Tindakan melawan penegakan Syariat Islam bertentangan dengan konstitusi Indonesia yang memberi hak istimewa bersyariat kepada Aceh. Artinya, kalau hendak menggagalkan penerapan Syariat Islam di Aceh, maka batalkanlah segala perundang-undangan tentang kekhususan Aceh yang ada.

 Gaya hidup setan
Selain melawan konstitusi negara, perilaku mabuk-mabukan dan berjudi adalah pekerjaan setan dan karenanya harus dilawan agar Aceh bebas dari generasi berperilaku setan, sebagaimana ditegaskan Allah Swt dengan firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

Ayat di atas jelas menyebutkan bahwa minuman keras dan judi adalah bentuk pekerjaan setan yang tentu saja tidak pantas dilakukan oleh manusia. Membiarkan anak-anak Aceh dengan pola hidup mabuk-mabukan dan berjudi sama artinya mempersiapkan generasi setan yang akan memimpin Aceh ke depan. Oleh sebab itu, tak ada kata lain selain semua pihak, terutama institusi penegak hukum, harus tetap tegas dalam menertibkan perilaku manusia yang meniru gaya hidup setan.

Sebagaimana kafir Quraish pada masa Jahiliyah, kelompok penentang terhadap penegakan Syariat Islam di Langsa pasti memiliki pemimpinnya. Dulu di masa jahiyah terkenal beberapa pemimpin anti Islam seperti Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sufyan yang memimpin kelompoknya untuk melawan syiar Islam yang diserukan oleh Nabi Muhammad. Dalam kaitan ini, perlu digali untuk diketahui siapa pemimpin kelompok anti Syariat Islam di Langsa untuk kemudian diajak kepada kebenaran, sebelum dilakukan penindakan tegas.

Dengan bahasa lain, perlu investigasi untuk mengetahui sosok Abu Labab, Abu Jahal dan Abu Sufyan yang menjadi sentral perlawanan terhadap Syariat Islam di Langsa untuk ditertibkan. Tatkala pemimpin kelompok ini sudah ditaklukkan, maka biasanya para anak buah akan tunduk dan patuh. Dalam sejarah awal penyebaran Islam, ketika Abu Lahab dan Abu Jahal sudah mati dalam perlawanan melawan Islam, maka bentuk perlawanan Abu Sufyan pun mulai melemah. Karena sudah tak berdaya, akhirnya Abu Sufyan menyatakan diri sebagai muslim dalam peristiwa pembebasan Kota Mekkah 8 tahun setelah peristiwa hijrah. Nabi Muhammad yang sangat bijak memaafkan semua kesalahan masa lalu Abu Sufyan, bahkan memperlakukannya dengan istimewa.

 Bahan renungan
Selain mengidentifikasi sosok Abu Lahab Cs, kepada aktivis HAM dan demokrasi perlu dibahani materi keislaman termasuk memperkenalkan ciri-ciri pekerjaan setan sehingga mereka tidak lagi secara membabibuta menyerang Islam dan secara utuh berkiblat ke Barat. Pengajaran dan pembinaan ini akan menjadi bahan renungan bagi mereka dalam melakukan advokasi terhadap pemabuk yang keluyuran dan tertangkap razia di Aceh. Kepada mereka juga perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa setiap daerah mempunyai kearifan lokal yang tidak mesti diganti dengan mengikuti tradisi barat dan tanpa filter. Pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” kiranya menjadi pepatah yang perlu dihayati dan diamalkan.

Selanjutnya pendidikan dan informasi tentang bahaya narkoba, minuman keras, pergaulan bebas perlu secara terencana dan terjadwal disampaikan kepada generasi muda terutama melalui sekolah, media massa dan fasilitas publik seperti meunasah dan organisasi kepemudaan. Pembinaan perlu dikedepankan sebelum dilakukan tindakan hukum. Patut diduga, selama ini sebagian generasi muda Aceh terjerumus dalam hidup bebas yang melebihi Barat karena mereka tidak memahami ajaran agama dan dampak negatif dari tindakan mereka. Itu sebabnya pembinaan serta pangaturan terhadap gaya hidup anak muda ini perlu diatur, dan ini bukanlah tindakan pelanggaran HAM, melainkan upaya pembentukan generasi muda bermoral dan berkarakter islami. Semoga!

* Hasan Basri M. Nur, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Tulisan ini disiarkan Harian Serambi Indonesia, edisi Jumat (13/12/2013). http://aceh.tribunnews.com/2013/12/13/reinkarnasi-jahiliyah

Gambar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s