Rp 5 Juta Per KK di Brunei Darussalam

“Khusus kepada pegawai negara yang sudah bekerja 15 tahun akan mendapatkan tiket haji gratis dari kerajaan,” kata Irma.

BRUNEI Darussalam merupakan negara kecil berbentuk monarki di Pulau Borneo (Kalimantan). Negeri bependuduk 450 ribu jiwa ini merdeka dari Inggris tahun 1984 dan dipimpin oleh Sultan Hasanul Bolkiah (68). Brunei mengandalkan minyak dan gas (migas) sebagai pendapatan utama negaranya.

Sikap raja yang adil membuat penduduk negeri aman, tenang, sejahtera, dan semuanya mempunyai pendapatan tetap. Malah setiap warga negara yang berusia di atas 60 tahun diberikan “gaji tua” oleh negara sebesar $ 250 Brunei. Ini artinya, jika 1 kepala keluarga (KK) terdiri atas suami istri, maka mereka akan mendapatkan $ 500.

Nilai tukar dolar Brunei ke rupiah saat kami tukarkan di Bandara International Bandar Seri Begawai pada Sabtu (28/12) adalah 9.830. Ini bermakna, setiap KK akan memperoleh gaji bulanan sekitar Rp 5 juta. Subsidi bulanan untuk warga negara lansia ini disebut “gaji tua”.

Setiap pasangan suami istri yang sudah berusia 60 tahun secara otomatis akan mendapatkan 500 dolar gaji tua dari kerajaan. Gaji ini ditransfer langsung ke rekening atau disalurkan melalui kepala kampung di desa masing-masing. “Uang ini diterima utuh, tak ada pemotongan apa pun,” kata Irma Yusran Syafei (41), pegawai alat Kebesaran Diraja (sejenis Museum Kerajaan), Minggu (30/12). Pengakuan yang sama juga diungkapkan tokoh Aceh yang sudah 25 tahun menetap di Brunei, Drs Tgk H Ismuhadi (50).

Tidak hanya kepada “warga negara emas”, kerajaan juga memberikan biaya jaminan biaya hidup kepada masyarakat penyandang disabilitas (orang cacat). “Kepada orang cacat yang tak bisa bekerja secara normal juga diberikan tunjungan 250 dolar setiap bulannya,” ujar Irma yang mengaku hanya menamatkan SMA dan bergaji sekitar Rp 11 juta.

Total gaji sebesar itu berasal dari berbagai sumber, termasuk subsidi khusus dari Sultan Bolkiah sebesar $ 340 per bulan untuk setiap pegawai pemerintah. “Khusus kepada pegawai negara yang sudah bekerja 15 tahun akan mendapatkan tiket haji gratis dari kerajaan,” kata Irma.

Adapun biaya berobat, diberikan pelayanan cuma-cuma. “Untuk biaya berobat kami hanya perlu membayar biaya registrasi sebesar 1 dolar. Selebihnya ditanggung kerajaan dan kami akan mendapatkan semua layanan medis yang memuaskan. Sedangkan untuk biaya pendidikan anak-anak mulai SD sampai SMA cukup membayar 5 dolar per tahun,” sambung Irma yang mengaku sudah memiliki rumah dan mobil dari hasil kerjanya itu.

Pendapatan negara dari migas dan sikap pemimpin yang peduli rakyat membuat penduduk Brunei hidup sejahtera dan tidak muncul gejolak sosial. Jalan-jalan di Brunei dipenuhi mobil mewah, nyaris tidak terlihat sepeda motor dan pejalan kaki, apalagi pengemis dan juru parkir yang “prat-prit” di sana-sini. Jalanannya sangat tertib, tidak pernah terdengar bunyi klakson, dan aksi nekat penerobos lalu lintas.

Warga Brunei juga terbiasa bolak-balik ke Malaysia, Singapura, Jakarta, Inggris, dan Australia. Ini ditandai dengan jadwal penerbangan ke sana yang padat untuk negara mini berpenduduk setara Banda Aceh.

Karena merasa nyaman dan kenyang, warga pun tak pernah mempertanyakan bentuk negaranya yang monarki itu. Mereka enjoy dan tampak patuh pada pemimpin mereka. Duh, kapan ya Aceh yang juga sempat kaya migas dan kabarnya sudah menerapkan self-goverment (otonomi khusus?) bisa makmur seperti Brunei Darussalam dan setiap KK benar-benar mendapatkan santunan bulanan dari penguasa negeri? Wallahu’alam. 

Tulisan ini dimuat di Rubrik Citizen Reporter Harian Serambi Indonesia, edisi 31 Desember 2013.

http://aceh.tribunnews.com/2013/12/31/rp-5-jutakk-di-brunei-darussalam

Gambar