Muklimun pun Terbebas dari Derita Gizi Buruk

Muklimun adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara dari pasangan keluarga miskin di Desa Mangeu, Seulimeum. Di usia 2,5 bulan dia menderita gizi buruk dengan berat badan hanya 2,8 kg. Muklimun yang kini berusia 18 bulan dan adiknya yang berusia 2 bulan membutuhkan perhatian ekstra agar dapat berkembang dengan baik.

 

Nasib kurang baik sempat menimpa Muklimun Walidaini (18 bulan). Pada awal tahun 2013 putra ke depalan dari sembilan bersaudara ini ditemukan dalam kondisi kurus kering dan lemah tak berdaya di Desa Mangeu, Kemukiman Tanoh Abee, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar.

Saat itu, putra pasangan Tgk. M. Diah dan Huzaimah (38) ini ditemukan petugas puskesmas Seulimeum dalam kondisi nyaris tanpa daging. Kulitnya nyaris membungkus tulang sang bayi yang kala itu berusia 2,5 bulan. Beruntung Kepala Puskesmas Seulimeum, dr. Syamsyuddin, segera mendatangi rumah sang bayi dan memutuskan untuk membantunya.

“Saat kami temukan umur Muklimun masih berumur 2,5 bulan dan berat badannya hanya 2,8 kilogram,” kata dr. Syamsyuddin yang mendampingi Tabangun Aceh untuk melihat kondisi Muklimun di rumahnya di desa Mangeu, Senin (19/5//2014) petang.

Syamsyuddin menyebutkan, saat itu pihaknya memutuskan untuk merujuk bayi Muklimun ke Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh, dan tidak merawatnya di Puskesmas Seulimeum. Kasus gizi buruk yang menimpa Muklimun tergolong berat, apalagi di usianya 2,5 bulan yang merupakan usia emas pertumbuhan bayi.

            “Alhamdulillah, setelah mendapat perawatan inap selama 1 bulan lebih di RSUZA, kondisi Muklimun perlahan memperlihatkan kondisi yang positif. Berat badannya mulai bertambah. Akhirnya ia dibenarkan pulang dan hanya butuh rawat jalan ke puskesmas serta pemberian susu secara rutin,” ujar Syamsyuddin dibernarkan ibu Muklimun, Huzaimah.

            “Sekarang kondisi Muklimun sudah tidak lagi tergolong gizi buruk. Berat badannya sudah mencapai 7 kilogram dan sedang belajar berjalan. Meski begitu, Muklimun tetap membutuhkan makanan bergizi agar kondisinya terus membaik dan berat badannya tidak lagi menurun seperti tahun lalu,” pesan Syamsyuddin sambil memperlihatkan betis Muklimun yang mulai berisi.

Keluarga miskin

            Pasangan Tgk. M.Diah dan Huzaimah tergolong keluarga miskin. Pasangan ini menggantungkan hidup dari usaha tani padi. Kondisi rumah mereka sangat sederhana, terbuat dari papan setengah lapuk. Rumah itu hanya memiliki 1 kamar tidur, sementara penghuninya mencapai 11 orang; terdiri dari ayah, ibu, dan 9 orang anak yang semuanya laki-laki.

            Muklimun adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara. Anak pertama masih duduk di kelas 2 SMP, sementara adik dari Muklimun masih berusia 2 bulan. Muklimun yang berusia 18 bulan serta adiknya yang berusia 2 bulan tentu membutuhkan perhatian ekstra agar dapat berkembang dengan baik.

Selain berprofesi sabagai petani padi, Tgk. M. Diah juga membuka balai pengajian untuk anak-anak setempat. Kepala pihak yang memiliki kelebihan harta dan hendak menyalurkan bantuan, keluarga ini patut menjadi pertimbangan. Semoga! (hasan basri m nur)

 

Iklan

Kapal Ekspor Tersedia, Barangnya Mana?

Galeri

“Kalau barang ekspor mampu ditingkatkan, PT.Pelindo siap mendatangkan kapal lebih besar dengan kapasitas 500 ton. Begitu pula persediaan crane akan disesuaikan dengan jumlah barang yang diekspor,” Budi Setiadi, ST, MM Manager Teknik PT.Pelindo Wilayah I Perwakilan Krueng Geukueh   PT. … Baca lebih lanjut

12 Perantau dari Garut Naik Haji dari Tani Kentang

Galeri

Kalau di sinetron televisi ada cerita fiksi tukang bubur naik haji, di Bener Meriah terdapat 12 petani kentang asal Garut, Jawa Barat, yang benar-benar mendapatkan tiket naik haji setelah 3,5 tahun bertani kentang.   Belasan perempuan sambil jongkok bergerak ke … Baca lebih lanjut