12 Perantau dari Garut Naik Haji dari Tani Kentang

Kalau di sinetron televisi ada cerita fiksi tukang bubur naik haji, di Bener Meriah terdapat 12 petani kentang asal Garut, Jawa Barat, yang benar-benar mendapatkan tiket naik haji setelah 3,5 tahun bertani kentang.

 

Belasan perempuan sambil jongkok bergerak ke arah depan. Tangan mereka memegang sendok dan mencokel tanah untuk mengeluarkan kentang yang bersembunyi di bawah tanah. Secara serentak mereka bergerak perlahan. Kentang-kentang dicongkel dan dibiarkan tergeletak di sisi kanan mereka.

Pemandangan yang sama juga terlihat di kebun tak jauh dari kaum perempuan. 100 meter di seberang sana, kaum lelaki juga tampak bergerak dan melakukan aktivitas yang sama. Itulah aktivitas panen kentang di Desa Bener Pepani, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah.

Kamis (19/6/2014) siang itu para petani kentang di sana terlihat sangat gembira. Hasil panen kentang di kebun mereka melimpah dengan ukuran dan kualitas tinggi. Sementara di sisi kanan dan kiri kebun itu terdapat tanaman-tanaman kentang yang masih berumur 1 hingga 3 bulan sudah masuk dalam antrian untuk dipanen pada bulan berikutnya.

“Usia panen kentang di bawah 4 bulan. Ia dapat dipanen hampir setiap hari karena ditanam dengan waktu yang berbeda di lahan yang berbeda. Tanaman kentang tak membutuhkan lahan terlalu luas. Untuk bibit 1 ton dapat ditanami di lahan seluas 1.200 meter atau 0,12 hektar,” kata H.Karom (52), petani kentang asal Garut, Jawa Barat, dalam bincang-bincang dengan Tabangun Aceh di sela-sela aktivitasnya di kebun di Desa Bener Pepani.

“Haji Kentang”

Kalau di sinetron televisi ada cerita fiksi tukang bubur naik haji, di Bener Meriah terdapat 12 petani kentang yang benar-benar mendapatkan tiket naik haji setlah 3,5 tahun bertani kentang. Menariknya, para perantau dari Garut, Jawa Barat, ini berhasil mengumpulkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah dalam tempo 3 tahun dan sebagiannya didaftarkan ke bank untuk Ongkos Naik Haji (ONH).

Ke-12 petani itu terdiri dari 6 Kepala Keluarga (KK) yang merantau ke Bener Meriah sejak awal 2011. Di Desa Bener Pepani, mereka bekerja sebagai buruh tani kentang. Sebagian dari mereka memiliki keterampilan dalam bertani kentang sehingga menjadi konsultan bagi petani setempat. Sementara sebagian yang lain adalah murni bekerja sebagai buruh tani dan mendapat bayaran harian.

Rombongan petani kentang di Desa Bener Pepani ini dipimpin oleh Haji Karom. Awalnya Haji Karom hanya datang sendirian, tapi belakangan setelah mendapatkan “madu” di kaki Gunungapi Burni Telong, kawan-kawannya dari tanah Sunda pada berdatangan ke Bener Meriah.

Setelah bekerja selama sekitar 3,5 tahun, Haji Karom dan rekan-rekan sudah mengumpulkan uang puluhan bahkan ratusan juta. “Rata-rata saya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 30 juta untuk sekali panen dalam durasi empat bulan. Ini dari hasil kerjasama dengan Koperasi Gayo Land yang menjadi pemodal,” katanya.

Haji Karom dan 11 rekannya berencana pulang ke Garut usai lebaran nanti dengan tujuan untuk mendaftarkan ONH. “Hasil dari usaha harus disyukuri dan salah satu caranya adalah dengan mendaftar haji,” kata ayah tujuh anak yang sehari-sehari pergi ke kebun dengan mengendarai mobil jeep.

Sebenarnya Haji Karom pertama sekali datang ke Aceh pada tahun 1999. Saat itu dia berdagang lukisan dari rumah ke rumah. Namun konflik yang saat itu semakin hari semakin memuncak mendorong dirinya untuk pulang kembali ke tanah Sunda pada tahun 2000.

Seiring kabar membaiknya kondisi Aceh, pada penghujung tahun 2010, Haji Karom bersama 4 rekannya datang kembali ke Aceh, dan memutuskan menetap di Bener Meriah untuk bercocok tanam kentang.

“Saat di Garut saya adalah petani kentang. Makanya begitu melihat kondisi alam Bener Meriah yang cocok untuk kentang, saya fokuskan pada usaha ini,” ujar Karom sembari menambahkan saat ini terdapat sekitar 80 warga asal Garut yang menggarap kentang di Bener Pepani.

Kini, Haji Karom menjadi referensi bagi petani setempat dalam mengembangkan tanaman kentang. “Saya memperkenalkan cara tanam kentang secara modern. 90 persen ilmu sudah saya transfer ke petani di sini, terutama dalam merawat tanaman pascatanam,” katanya.

“Ke depan saya hendak mencoba mengembangkan bibit kentang agar Aceh tak perlu lagi mendatangkan bibit dari Pangalengan, Jawa Barat. Selama ini seluruh bibit kentang didatangkan dari luar yang kalau diuangkan bisa mencapai Rp 3 miliar per tahun. Nah, saya berharap dukung Pemda agar membantu rencana saya mewujudkan tempat pembibitan kentang di sini”, sambung Karom dibenarkan Yuswar, sang eksportir kentang dari Bener Meriah. (hasan basri m.nur)

Gambar

Iklan

3 thoughts on “12 Perantau dari Garut Naik Haji dari Tani Kentang

    • 1.Pak Diyanis dapat datang ke Koperasi Gayo Land di Pasar Simpang Tiga Redelong. Tanyakan tentang H Karom disana, karena ybs adalah anggota koperasi sekaligus konsultan Koperasi Gayo Landa. Dapat ditanyakan melalui Aswar (Ketua Koperasi), Aswar sering mangkal di Warung Kopi -kalau tak salah- Warung Sibolangit, hanya 30 meter dari koperasi 2).Dapat pula datang langsung ke lahan garapan H Karom di Desa Bener Pepani, Kec Permata …

  1. pak saya mau tanya tentang hama dan penyakit yang menyerang tanaman kentang khususnya kentang yang ditanam di wilayah garut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s