Pengintegrasian Pendidikan Agama dan Umum di Dayah

“Pendirian sekolah dan perguruan tinggi di lingkungan dayah ini untuk mengantisipasi santri pintar lari dari dayah. Sebelumnya ada fenomena santri-santri cerdas keluar dari dayah untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi,”
Tgk. H. Hasanoel Bashry –
Pimpinan Dayah MUDI Mesra Samalanga
Waled MUDI

 

Islam tidak memisahkan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Kedua pendidikan itu terintegrasi, dan karenanya umat Islam mesti mempelajari keduanya secara berimbang. Khusus di Aceh, pemisahan pendidikan agama dan umum terjadi sejak invasi Belanda pada penghujung abad 19 Masehi.

Dayah yang sejak masa kolonialisme Belanda hanya fokus pada pendidikan Islam mesti mengembalikan posisinya ke jalur yang sebenarnya, yaitu memberikan pelayanan pendidikan yang seimbang antara pendidikan agama dan pendidikan umum kepada santri. Adalah tidak adil membiarkan santri yang menghabiskan waktu hingga belasan tahun di dayah, tapi kemudian mereka hanya menjadi imam meunasah di kampung.
Tgk. Hasanoel Bashri HG, pimpinan Dayah Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga, menuturkan, beranjak dari kenyataan itu, maka pihaknya melakukan revolusi di dayah, dengan mendirikan berbagai sekolah mulai dari yang terendah Taman Kanak-kanak (TK) hingga yang tertinggi Perguruan Tinggi (PT).
“Dengan adanya pendidikan umum, alumni dayah akan dapat berpartisipasi dalam pembangunan dengan mengisi posisi-posisi tertentu dalam pemerintahan. Selama ini kerusakan negara terjadi para pemimpin negara minim pendidikan agama, mereka hampir semuanya berasal dari sekolah umum” kata Tgk Hasanoel yang juga Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) saat ditemui Tabangun Aceh, di Dayah Cot Batee Geulungku, Bireun, Kamis (10/7/2014).
Hasanoel mengaku ingat betul kata-kata Almarhum Teungku Muhammad Basyah Hasbi, pimpinan Dayah Darul Istiqamah Biruen, yang menyebutkan bahwa pimpinan dayah berlaku zalim karena anak-anak dayah berada di dayah hingga 15 tahun, tapi kemudian hanya menjadi imam meunasah di kampung. Tidak hanya itu, Hasanoel mengaku pernah mendengar pernyataan Abon Abdul Aziz, pimpinan Dayah MUDI sebelum dirinya, yang mangatakan bahwa ke depan orang dayah harus duduk di KUA (maksudnya pemerintahan, red).
“Kalimat-kalimat ulama itu mendorong saya untuk membuat terobosan perlunya menyekolahkan santri. Orang dayah harus disekolahkan,” kata Hasanoel sembari menyebutkan bahwa Dayah MUDI selain mendidirikan sekolah umum, juga mendirikan sekolah kejuruan seperti SMK Teknik Informatika.
Dalam beberapa tahun terakhir, Dayah MUDI Samalanga di bawah kepemimpinan Tgk Hasnoel Bashry telah mendirikan TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga Institut Agama Islam (IAI). Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi ini berada dalam satu lingkungan terpadu. Mereka menjadi santri sekaligus siswa atau mahasiswa.
Saat ini Dayah MUDI memiliki santri sekitar 6.000 orang. Selain dayah MUDI, di sna juga terdapat dua dayah besar lain; Dayah Ummul Ayman dan Dayah Putri Muslimat dengan jumlah santri masing-masing sekitar 2.000 orang. Khusus di IAI, yang kuliah disana termasuk santri dari dua dayah tetangga dimaksud.
“Pendirian sekolah dan perguruan tinggi di lingkungan dayah ini untuk mengantisipasi santri pintar lari dari dayah. Sebelumnya ada fenomena santri-santri cerdas keluar dari dayah untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi,” papar Hasanoel.
Santri asing
Sebagai dayah besar di Aceh, santri di Dayah MUDI Mesra berasal dari berbagai daerah di Aceh dan Indonesia. Santri di dayah ini juga banyak yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Namun, santri dari luar negeri ini tampaknya mendapat kesulitan dalam mendapatkan visa pendidikan.
“Santri dari luar negeri tiap bulan harus melapor ke kantor imigrasi di Banda Aceh. Ini sangat merepotkan bagi mereka. Seharusnya santri dayah mendapat perlakuan yang sama sebagaimana visa pendidikan bagi mahasiswa asing yang kuliah di Banda Aceh,” kata Hasanoel Bashry. (hasan basri m nur, aswar liam)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s