Melacak Jejak Islam di Barus

Oleh: Ahmad Zaki bin Husaini

(Mhs Prodi Sejarah & Kebudayaan Islam Fak. Adab & Humaniora UIN Ar-Raniry)

Barus dapat ditempuh melalui  pantai barat atau pantai utara Aceh. Jika menelusuri pantai barat akan melewati Kota Subulussalam sebagai kota terakhir yang berbatasan dengan Sumut. Dari Subulussalam ke Barus butuh waktu 7-8 jam perjalanan darat.

Pada penghujung Januari 2015, kami mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar- Raniry mengadakan kunjungan lapangan dalam rangka Praktikum Arkeologi. Tujuan kami kali ini adalah Barus, sebuah tempat di Asia Tenggara yang tergolong sangat awal masuk Islam. Dulu, Barus masuk dalam teroterial Kerajaan Aceh Darussalam. Namun kini ia masuk dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Barus dapat ditempuh melalui  pantai barat atau pantai utara Aceh. Jika menelusuri pantai barat akan melewati Kota Subulussalam sebagai kota terakhir yang berbatasan dengan Sumut. Dari Subulussalam ke Barus butuh waktu 7-8 jam perjalanan darat. Tidak jauh berbeda dengan jalur pantai barat, melalui jalur pantai utara akan menempuh waktu sekitar 8 jam perjalanan pula  melalui kota Medan.

Barus dahulu dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan dagang dengan hasil alamnya yang masyhur yaitu kapur barus, selain juga kemenyan dan rempah-rempah. Dalam prasasti Tamil disebutkan komoditi dari Barus ialah kasturi. Kasturi dimaksudkan adalah segala tumbuhan yang harum seperti pohon barus atau pohon kamfer.

Para pedagang asing singgah ke Barus mencari hasil alam untuk dibawa pulang ke negerinya. Maka terjadilah kontak budaya. Dari interaksi perdagangan ini, khususnya dengan pedagang muslim, maka disimpulkan agama Islam masuk ke Barus abad ke 7 Masehi. Disini terdapat beberapa jejak penyebaran Islam berupa makam-makam, seperti makam Papan Tinggi dan makam Mahligai. Warga setempat menyebutnya makam aulia empat puluh empat.

Di komplek makam papan tinggi terdapat makam Syeh Mahmud terletak tepat di salah satu bukit di Desa Pananggahan. Sebelum menaiki anak tangga menuju makam Syeh Mahmud terlebih dahulu kita mensucikan diri dengan berwudhuk di tempat yang telah disediakan.  Jumlah anak tangga menuju makam Syeh mahmud mencapai seribu anak tangga yang berada di puncak bukit, sehingga makam ini dikenal dengan sebutan makam seribu tangga. Dari puncak bukit kita dapat melihat panorama alam kota Barus yang sangat indah. Syeh Mahmud adalah penyiar Islam ke Barus yang ditinggikan derajatnya dari empat puluh empat aulia yang disebut di atas.

Mengingat waktu yang terbatas karena rombongan mau mengunjungi Istana Maimun dan Mesjid Raya Al-Mashun di Medan, kami langsung beranjak dari makam Syeh Mahmud menuju makam mahligai yang jaraknya berkisar 4 kilometer dari makam Syeh Mahmud yang terletak di areal seluas 3 hektare di perbukitan Desa Dakka. Di areal komplek pemakaman mahligai ini dimakamkan ulama penyebar Islam ke Barus seperti makam Tuan Syekh Rukunuddin.

Itulah tiga tempat bersejarah yang kami kunjungi  diantara sekian banyak tinggalan jejak di kota tua Barus. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan melalui Dolok Sanggul melewati Berastagi mengunjungi istana maimun. Anda ingin mengunjunginya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s