Mengendalikan Primordialisme dalam Ranah Politik

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

Akhirnya, selaku anggota DPD-RI yang mewakili rakyat Aceh pada periode 2014-2019, saya mengucapkan selamat atas penerbitan buku Nepotisme dalam Sejarah Politik Islam karya Hasan Basri M. Nur. Buku ini patut menjadi bacaan bagi politisi Aceh dan Indonesia untuk memperluas wawasan … Baca lebih lanjut

Dampak Pembukaan Jalan ke Pedalaman Aceh, Kampus di Langsa “Kebanjiran” Mahasiswa asal Galus

Galeri

Galeri ini berisi 1 foto.

“Dengan adanya jalan tembus itu sebagian putra-putri Gayo Lues memilih melanjutkan studi di Kota Langsa. Inilah diantara dampak positif jalan itu bagi kemajuan pendidikan Aceh, khususnya Langsa,” = Drs. H. Ibnu Sakdan, M.Pd = Kepala Biro AUAK IAIN Langsa = … Baca lebih lanjut

Saiful Arungi Empat Sungai untuk Cari Nafkah

Istimewa

“Kami terpaksa mengarungi empat sungai agar dapat sampai ke Pinding. Kalau sesampai disana lalu turun hujan, maka kami harus nginap berhari-hari di Pinding sampai air sungai turun dan jalan mengering,”

= Saiful =

Pedagang hasil alam di Pinding

 = = = = = =

“Semoga pemerintah memperhatikan kami yang mencari nafkah di pedalaman Aceh Timur hingga Gayo Lues. Apalagi, kami dengar Aceh punya banyak dana, terutama dana otsus untuk membangun infrastruktur,”

= Anwar =

Pedagang sandal di lintasan Atim – Galus

 

Sore itu, dua orang lelaki dewasa tampak berdiri dan bincang-bincang di sebuah pasar di pedalaman Aceh Timur, tepatnya di Gampong Lapangan Heli, Kecamatan Serbajadi. Tim Tabangun Aceh yang sejak siang menelusuri jalan tembus Aceh Timur ke Gayo Lues itu tertarik untuk mengetahui isi pembicaraan mereka.

Ketertarikan ini bukan tanpa sebab. Kedua pria itu berbincang serius sembari menjaga barang dagangan mereka yang dijejerkan di bahu jalan dan dalam mobil pick up. Keduanya diyakini mengetahui betul seluk beluk jalan mulai dari Gampong Besa (pinggir jalan raya Medan Banda Aceh di kawasan Peureulak) hingga Penarun dan Lokop (Aceh Timur) bahkan Pining (Gayo Lues).

Anwar (37) dan Saiful (40) adalah dua dari sekian warga yang hampir saban hari wara-wiri di lintasan jalan tembus Aceh Timur – Gayo Lues via Lokop. Keduanya adalah warga Peudawa Rayeuk (Aceh Timur) yang berprofesi sebagai pedagang yang berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain di sepanjang jalan itu.

Anwar berdagang sandal, sepatu, dan pakaian jadi. Dia menjajakan dagangannya mulai dari Krueng Tuan, Hapangan Heli, Peunarun hingga Lokop. Sementara Saiful menggeluti bisnis hasil alam dari dan ke Atim – Galus.

Sehari-hari Saiful mengantar kebutuhan warga Pinding seperti ikan, kelapa, dan lain-lain. Saat pulangnya dia mengangkut hasil alam dari Galus seperti pinang, cokelat, cabai hingga besi bekas. Semua itu dilakukannya dengan mobil pick up Panther keluaran tahun 1990-an yang telah diesangi velg dan roda ukuran besar.

“Untuk mobil biasa jangan coba-coba menuju Pinding, tak akan lewat. Begitu juga sepeda motor, harus yang ukuran besar,” kata Saiful dalam bincang-bincang dengan Tabangun Aceh, Senin (30/3/2015) di Lapangan Heli, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur.

“Sebenarnya perdagangan di jalur Aceh Timur – Gayo Lues ini sangat menjanjikan. Bisnis timbal dapat kita lakukan. Namun sayang, kondisi jalan menjadi hambatan utama bagi kami di sini,” kata Saiful.

“Lihatlah, sepanjang jalan mulai dari Gampong Besa hingga kemari (Lapangan Heli, red) rusak berat. Kalau ke depannya lagi hingga ke Pinding jauh lebih parah. Semoga pemerintah memperhatikan kami yang mencari nafkah di pedalaman Aceh Timur hingga Gayo Lues. Apalagi, kami dengar Aceh punya banyak dana, terutama dana otsus untuk membangun infrastruktur,” sambung Anwar.

Dikatakan Saiful, kondisi jalan dari Lokop ke Pinding sangat hancur, selain banyak bebatuan juga berlumpur kalau hujan. “Tidak hanya itu, disana terdapat empat sungai yang belum memiliki jembatan,” kata pria dua anak ini.

“Kami terpaksa mengarungi empat sungai agar dapat sampai ke Pinding. Kalau sesampai disana lalu turun hujan, maka kami harus nginap berhari-hari di Pinding sampai air sungai turun dan jalan mengering. Saat-saat seperti ini kami harus siap menanggung resiko. Cabe yang sudah kami beli akan busuk,” Saiful mencontohkan.

Bagi Saiful, Anwar dan pedagang lain yang lalu lalang di lintasan Aceh Timur – Galus pembangunan jalan dan jembatan di sana sama artinya pemerintah telah menciptakan lapangan kerja bagi mereka.

“Kalau pemerintah mau membangun jalan dan jembatan disini, maka kesejahteraan kami akan meningkatkan. Usaha dagang akan lancar, petani pun akan untung karena harga jual produknya ikut meningkat. Saat kami sejahtera, maka kami akan sanggup membiayai hidup keluarga, menyekolahkan anak-anak hingga membayar pajak kendaraan yang akan memberi umpan balik bagi pembangunan,” ujar Saiful.

Jarak dari Gampong Besa (Peureulak, Aceh Timur) ke Lokop sekitar 100 km, dari Lokop ke Pinding (Gayo Lues) sekitar 40 km. Jadi, jarak dari jalan raya negara di Peureulak ke Pinding sekitar 140. Saat ini, dengan kondisi jalan rusak, membutuhkan waktu tempuh antara 9-10 jam. Padahal, jika kondisi jalan bagus, ia dapat ditempuh dalam tempo 2 jam saja. (hasan basri m nur)

Dimuat Tabloid Tabangun Aceh, edisi 45/April 2015