Dakwah di Warkop, Ikrar Syahadah di Masjid Peunayong

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengucapkan dua kalimah syahadat?”, tanya saya kepada Rahmat. “Sangat bahagia. Saya bagai terlahir kembali dalam keadaan suci. Hidup baru telah dimulai,” jawab Rahmat mantap.

Jumat tanggal 3 Juli 2015 bertepatan 16 Ramadhan 1436 Hijriah menjadi awal hidup baru bagi Robin. Pemuda lajang keturunan Tionghoa dan kelahiran Banda Aceh 1981 ini mengubah keyakinannya dari agama Budha menjadi Islam. Usai Shalat Jumat, dia mengikrarkan dua kalimah syahadah disaksikan puluhan jamaah Masjid Baitul Muttaqien Peunayong, Kota Banda Aceh.

“Asyhadu an laa ilaaha illa Alaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulallah”, ucap Robin dengan mata berkaca-kaca. Imam Masjid Baitul Muttaqien, Teungku A. Basyir Jalal, menjadi pemandu prosesi pensyahadatan ini. Usai penyahadatan, dia pun mengubah namanya dari Robin menjadi Rahmat Ramadhan.

Warga Peunayong menyambut gembira Rahmat Ramadhan sebagai saudara baru yang seiman. Mereka tampak antusias mengikuti prosesi pensyadatan ini. Lalu, sesuai pensyahadatan, satu persatu warga menyalami dan memeluk Rahmat sambil memberikan santunan.

“Selamat datang dalam Islam saudara kami”, demikian suara terdengar dari kerumunan warga. Tidak hanya kaum lelaki, kaum ibu tampak terharu dan mengucapkan selamat kepada Rahmat.

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengucapkan dua kalimah syahadah?”, tanya saya kepada Rahmat. “Sangat bahagia. Saya bagai terlahir kembali dalam keadaan suci. Hidup baru telah dimulai,” jawab Rahmat mantap.

“Sebenarnya saya sudah tertarik pada Islam sejak 15 tahun lalu. Tapi sering pindah-pindah tempat kerja dari Banda Aceh ke Medan dan Jakarta jadi nggak sempat fokus memperlajarinya. Tiga bulan lalu saya memutuskan untuk menetap di Banda Aceh dan mulai mempelajari Islam,” katanya.

“Dan, Jumat hari ini saya mantap mengucapkan dua kalimah syahadah di masjid ini. Sebelumnya hidup saya seperti nggak punya tujuan. Saudara-saudara saya semua mengukur hidup ini dengan materi, sangat materialistis. Jika tak punya uang, kita seakan tak berguna,” ucapnya dengan raut muka sedih.

Dakwah melaui Warkop
Kepada Dusun Garuda Kelurahan Peunayong, T. Sabri, yang memfasilitasi proses pensyahdatan Robin mengatakan, sejak beberapa tahun lalu pihaknya gencar melaksanakan dakwah melalui warung kopi. “Beda dengan dakwah dalam masjid yang jamaahnya semuanya muslim dan orang baik-baik,” katanya.

“Di warung kopi kan bermacam orang berkumpul. Kami pun rutin mendiskusikan topik agama sembil menikmati secangkir kopi panas. Dan, ternyata ada saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa ikut menyimak diskusi ini. Jadi, bisa diumpamakan kami menjemput bola,” katanya.

Sabri yang juga penyuluh honorer di Kemenag Kota Banda Aceh menambahkan, setelah beberapa kali mengikuti diskusi biasanya mereka mulai tertarik kepada Islam dan sebagian dari mereka menyatakan mau masuk Islam. “Rahmat adalah salah satu dari sekian warga Tionghoa yang berhasil kami dakwahi. Kami berharap Dinas Syariat Islam dan Baitul Mal melakukan pembinaan lanjutan, jangan terputus,” pinta Sabri.

Rahmat Ramadhan selama ini bekerja pada toko permainan bilyar di Peunayong. Setelah menjadi muslim dia bertekad meninggalkan pekerjaan yang berbau judi itu. “Alhamdulillah, Bang Sabri mau menampung saya untuk bekerja di toko sembako miliknya untuk sementara waktu,” kata Rahmat dibenarkan Sabri.

Bagi warga Banda Aceh dan sekitarnya yang ingin memberikan zakat dan shadaqah kepada Muallaf Rahmat Ramadhan dapat menjumpai yang bersangkutan atau Kepala Dusun Garuda, T. Sabri, di Kampung Peunayong, Banda Aceh. [hasan basri m nur]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s