Islam Adikuasa Dunia di Masa Umar bin Khattab

Oleh :  HASAN BASRI M NUR

Bizantium dan Persia adalah dua negara super power yang sudah ada sejak sebelum Islam datang. Sebagian wilayah jajahan Bizantium seperti Palestina dan Suriah ditaklukkan oleh Umar. Ini artinya adikuasa Bizantium telah dilemahkan oleh Umar. Sedangkan pusat Bizantium di Konstantinopel belum tersentuh dan baru pada abad ke-15 ditundukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih dari Imperium Turki Usmani, untuk selanjutnya diganti nama menjadi Istanbul.

Sementara Imperium Persia berhasil dikalahkan dan dikuasai oleh Umar. Dengan demikian, lenyaplah satu adikuasa dunia yang sudah ratusan tahun menguasai belahan timur dunia. Negara penghancur adikuasa Persia dengan sendirinya naik posisi menjadi adikuasa baru. Itulah Negara Madinah dengan Umar bin Khattab sebagai pemimpinnya. Maka, sejak saat itu, di dunia ini ada dua negara adikuasa; Bizantium dan Negara Madinah.

Serambi Indonesia Jumat 9/10/2015

Serambi Indonesia Jumat 9/10/2015

ADA dua negara adikuasa (super power) di dunia saat Islam lahir, yaitu Imperium Bizantium (Romawi Timur) di belahan Eropa dan Imperium Sasanid (Persia) di belahan Asia. Kedua adikuasa ini saling perang dalam memperebutkan pengaruh di kawasan Timur Tengah. Sebagian kisah peperangan antara dua adikuasa ini diabadikan dalam Alquran (Ar-Rum: 1-5). Dalam keadaan dunia seperti itulah agama Islam muncul, bisa dibaratkan seperti semut di antara pertarungan dua gajah.

Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (570-632 M) di Mekkah. Awalnya, pergerakan dakwah Nabi Muhammad tergolong sulit, banyak mendapat perlawanan dari bangsa Quraish. Umar bin Khattab (583-643 M) adalah seorang tokoh muda Quraish yang menentang keras ajaran Nabi. Tapi kemudian Umar terketuk hatinya dan memeluk Islam. Ini adalah awal kebangkitan Islam.

Masuk Islamnya Umar menjadi bagian penting kejayaan agama Allah. Nabi Muhammad yang sebelumnya sering dilecehkan oleh bangsa Quraish kini mendapat pembelaan dari tokoh paling disegani Quraish. Setelah tujuh tahun mendampingi dakwah Nabi di Mekkah, Umar ikut bersama Rasulullah hijrah ke Madinah. Di Madinah, Nabi Muhammad mendapat sambutan sangat baik dan berperan bukan hanya sebagai pemimpin agama (rasul) tetapi juga sebagai pemimpin politik, kepala Negara Madinah.

Ketika Nabi wafat, Negara Madinah (622-632 M) dilanjutkan oleh para sahabat yang dikenal dengan Khulafaurrasyidin (632-661 M). Sepeninggal Abu Bakar, Umar dinobatkan sebagai khalifah kedua. Tidak ada cek cok, demonstrasi, caci maki, pemaksaan kehendak, apalagi tipu muslihat atas nama agama, dalam proses naiknya Umar sebagai khalifah. Umar menjadi khalifah atas usulan dari Abu Bakar dan disetujui oleh ahlul halli wal ‘aqdi yang terdiri dari para sahabat terkemuka.

Casus Belly

Negara Madinah berkembang pesat di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab. Islam yang tadinya ibarat seekor semut diantara dua gajah tiba-tiba menjelma sebagai kekuatan baru yang diperhitungkan oleh Bizantium dan Persia. Negara Madinah dengan sendirinya tergiring dalam pertarungan ini; mempertahankan diri, ikut dalam pertarungan atau tergilas dua gajah yang sedang bertempur.

Awalnya, Nabi Muhammad mengedankan diplomasi dalam penyebaran agama ke negara-negara tetangga dengan cara mengirimkan surat melalui utusan. Tapi, kenyataannya ada beberapa pihak yang berlaku kasar terhadap utusan Nabi. Bahkan ada yang membunuhnya seperti yang dilakukan raja Ghassan (sekitar Suriah, daerah proteksi Bizantium). Ada pula penguasa yang merobek-robek surat Nabi serta menghardik dan mengusir pembawa surat seperti yang dilakukan Kisra Persia kepada Abdullah bin Hudhafah.

Peristiwa-peristiwa ini menjadi casus belli (insiden pemicu perang) yang selanjutnya secara beruntun melibatkan negara Islam dengan negara-negara lain, terutama dengan Bizantium dan Persia sebagai raksasa dunia. Yang jelas, rangkaian peperangan panjang itu tidak dipicu oleh Islam, melainkan oleh petinggi negara lain yang angkuh, ego dan kasar dalam menolak dakwah dan diplomasi.

Konsep Islam adalah tidak boleh melakukan pembunuhan (perang) tapi kalau sudah dibunuh harus menuntut balas. Sementara itu, perang yang dilakukan bukan untuk memaksa orang lain untuk masuk Islam, tapi murni perang politik. Buktinya, ketika sebuah wilayah dikuasai Islam, penduduk setempat tidak pernah dipaksa memeluk Islam. Mereka tetap diberi pilihan masuk Islam atau tetap menganut agama terdahulu dengan konsekuensi membayar jizyah (upeti) dan mereka akan dilindungi.

Sang Penakluk Persia

Di masa Kekhalifahan Umar bin Khattab ekspansi wilayah sangat gencar dilakukan ke berbagai penjuru. Sejumlah wilayah berhasil direbut dari tangan Bizantium dan Persia. Daerah kekuasaan Islam pada masanya meliputi semenanjung Arabia, Palestina, Suriah, Irak Mesir, dan seluruh wilayah Persia (Harun Nasution, 1978: 57-58).

Sebagaimana telah dijelaskan, Bizantium dan Persia adalah dua negara super power yang sudah ada sejak sebelum Islam datang. Sebagian wilayah jajahan Bizantium seperti Palestina dan Suriah ditaklukkan oleh Umar. Ini artinya adikuasa Bizantium telah dilemahkan oleh Umar. Sedangkan pusat Bizantium di Konstantinopel belum tersentuh dan baru pada abad ke-15 ditundukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih dari Imperium Turki Usmani, untuk selanjutnya diganti nama menjadi Istanbul.

Sementara Imperium Persia berhasil dikalahkan dan dikuasai oleh Umar. Dengan demikian, lenyaplah satu adikuasa dunia yang sudah ratusan tahun menguasai belahan timur dunia. Negara penghancur adikuasa Persia dengan sendirinya naik posisi menjadi adikuasa baru. Itulah Negara Madinah dengan Umar bin Khattab sebagai pemimpinnya. Maka, sejak saat itu, di dunia ini ada dua negara adikuasa; Bizantium dan Negara Madinah.

Hanya dalam tempo singkat, sekitar 10 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, Islam di bawah pimpinan Umar telah menjadi super power dunia. Ini adalah prestasi mencengankan, apalagi masa pemerintahan Umar tergolong singkat, hanya 10 tahun. Setara dua periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono di Indonesia.

Umar bin Khattab sangat menakjubkan dalam catatan sejarah dunia. Dia dikisahkan sebagai pemimpin sempuna; sederhana, tegas, berani, tak pernah ingkar janji dan penegak keadilan untuk semua makhluk. Kepemimpinannya yang gemilang diapresiasi oleh semua pihak,termasuk kalangan non-muslim. Michael H. Hart (1978) memasukkan namanya dalam daftar tokoh paling berpengaruh yang pernah ada di muka bumi. Umar ditempatkan di rangking 50 dari 100 tokoh dunia sepanjang sejarah. Fantastic!

Umar Akhir Zaman?

Kamis (1/10/2015) sebuah peristiwa besar terjadi di Aceh. Harian Serambi Indonesia (2/10) mengangkat berita berjudul Ini Dia ‘Umar bin Khattab’ Akhir Zaman di halaman 1.  Muzakir Manaf, Wagub Aceh yang sedang menjabat Plt. Gubernur diberi gelar ‘Umar bin Khattab’ oleh ulama pejuang Aswaja. Ini tentu merupakan kebanggaan luar biasa bagi Aceh.

Apakah Aceh ditakdirkan menjadi gerbang renaissance dan menjadi super power dunia laksana masa Umar bin Khattab? Apakah Aceh akan menjadi leader dunia Islam yang akan mengalahkan Mekkah, Madinah atau Turki di masa mendatang? Kita tunggu babakan cerita seru selanjutnya dari Aceh, dengan aktor ulama Aswaja atau aktor-aktor lainnya yang ingin menggoreskan cerita. Kita berharap gelar “Umar bin Khattab” yang diberikan kepada Muzakir Manaf bukan sekedar “gelar-gelaran” pemanis bibir tapi murni muncul dari kajian mendalam ulama Aswaja. Semoga!

Note: Tulisan ini telah dimuat di Harian Serambi Indonesia Banda Aceh, edisi Jumat 9/10/2015

Hasan Basri M Nur, Dosen Prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry. Email: hb_noor@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s