Rasyidi, Hidup Makmur dengan 450 Ekor Lembu

Rasyidi memiliki 400 ekor lembu plus 50 ekor kerbau. Harga jualnya berkisar antara 15 – 25 juta untuk lembu lokal, sementara untuk bibit unggul bisa mencapai 25-45 juta per ekor.

Berita Rasyidi di Tabangun Aceh

Berita Rasyidi di Tabangun Aceh

PRIA paruh baya itu duduk di halaman teras rumah gubuk di pinggir jalan raya Banda Aceh – Meulaboh, tepatnya di Desa Jeumpheuk, Kecamatan Sampoinet, Kabupaten Aceh Jaya. Sementara seorang remaja terlihat sibuk membersihkan kotoran lembu di kandang yang menempeli sisi kiri “rumah” itu. Tak berapa lama kemudian keluar seorang perempuan paruh dan anak kecil dari “rumah” itu. Itulah keluarga Rasyidi (49).

Rasyidi adalah peternak sukses di Aceh Jaya, bahkan Aceh. Sebelum menggeluti bisnis peternakan, dia dikenal sebagai sopir dump truck milik seorang tauke di Banda Aceh. Suatu hari terlitas terlintas di pikirannya bahwa menjadi sopir yang bekerja pada orang lain adalah tanpa akhir, tidak terjamin masa tuanya.

Maka, tak berapa lama kemudian dia pun banting setir, pulang kampung dan memutuskan menjadi peternak. Namun, usaha yang digeluti sejak 1997 dan sudah berbuah hasil 128 ekor lembu disapu tsunami pada 26 Desember 2004. Dia pun harus merintis hidup baru dengan 4 ekor lembu selamat dari terjangan tsunami.

Saat pertama kali dikunjungi Tabangun Aceh pada 31 Agustus 2012, usaha Rasyidi sudah membuahkan hasil 200 ekor sapi dan kerbau. Namun, saat Tabangun Aceh, menyambanginya pada Senin siang (19/10/2015), usaha peternakan Rasyidi kini sudah berkembang pesat. Saking banyaknya jumlah ternak, dia pun tidak lagi ingat angka persisnya.

Alhamdulillah, sekarang Allah titipkan pada kami sekitar 400 ekor sapi dan 50 ekor lembu. 200 ekor saya pelihara sendiri dan 200 lagi saya titipkan pada masyarakat kurang mampu dengan sistem bagi hasil,” kata Rasyidi didampingi Usman, kepala Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Jeumpheuk, Sampoiniet.

Harga jual lembu berkisar antara Rp 15 – 45 juta per ekor. “Kalau lembu lokal berkisar antara 15 – 25 juta, sementara yang bibit unggul bisa mencapai 24-45 juta per ekor. Tahun lalu saya menjual dua ekor lembu jenis Simental dengan berat masing-masing 1,2 ton sehara 45 juta rupiah per ekor”, kata ayah empat orang anak ini.

Berapa kekayaan Rasyidi? Tinggal ambil kalkulator dan kalikan saja jumlah ternak yang dimilikinya. Melihat usaha Rasyidi yang awalnya hanya sebagai kerja sampingan kemudian berkembang dengan gemilang, maka tidak alasan mengeluh sulitnya lapangan kerja di Aceh.

Salah satu lembu milik Rasyidi pernah menjadi Juara II pada Expo Ternak di Takengon, Aceh Tengah, bulan September 2015. Bagi anda yang berminat merintis usaha peternakan atau pejabat terkait yang hendak mencari inspirasi program peternakan, tidak ada salahnya melakukan studi banding ke lokasi perternakan Rasyidi di Aceh Jaya. Rasyidi yang penyayang lembu ini bersedia berbagi pengetahuan dengan orang lain, apalagi pejabat dinas terkait. (hasan basri m nur)

=== ==== ====

Integrasikan Bisnis Lembu dan Perkebunan

“Rasyidi menempatkan ratusan sapinya di lahan kosong seluas 20 ha yang dipagari. Di dalamnya dia menanam karet dan rumput untuk kebutuhan makanan lembu.”

Rasyidi memang cerdas dan berwawasan luas. Ternak sapi yang biasanya menjadi masalah bagi lingkungan karena berkeliaran dan buang hajat sembarangan dapat dia tangani dengan cerdas. Dia menempatkan sapinya di sebuah lahan kosong yang juga dibeli dari hasil peternakan.  Luas lahan itu mencapai 20 ha. Dia memagarinya dan  menanam karet di dalamnya. Di sela-sela tanaman karet dia menaman rumput untuk kebutuhan makanan lembu.

“Dengan cara ini ternak lembu tidak berkeliaran di jalan raya dan kebutuhan makanannya cukup. Lembu-lembu dengan leluasa merumput dari pagi hingga sore. Menjelang maghrib mereka akan kembali ke kandang. Jadi, saya tak perlu bersusah payah memotong rumput untuk mereka,” kata Rasyidi.

“Selain itu, tanaman karet juga mendatangkan rezeki tersendiri. Kalau kata ada orang Aceh, sipat tak dua pat lhuet. Artinya dari ternak lembu mendapat untung dari kebun karet juga dapat,” sambungnya seraya menambahkan dari kebun karet sudah mulai panen sejak dua tahun lalu.

Dari usaha ternak ini Rasyidi telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya, bahkan  hingga Perguruan Tinggi di Banda Aceh, menyetor Ongkos Naik Haji untuk keluarganya, membangun bengkel mobil, menjadi muzakki (pembayar zakat) rutin, berqurban, membuka usaha kebun karet, kebun sawit, merekrut tenaga kerja lokal dan banyak lagi.

Melihat usaha Rasyidi yang gigih dan inovatif, kiranya instansi-instansi terkait perlu membantu Rasyidi untuk bekerja lebih profesional lagi, seperti penyediaan alat pembersih kotoran hewan, kesehatan keluarga, saluran air di lahan peternakan, penyediaan bibit-bibit lembu unggu seperti “Simental”, “Bhrahma” dan “Limousine”. Bahkan, dapat menjadikan Rasyidi sebagai penggerak masyarakat untuk gemar berternak lembu di Aceh. Semoga! (hasan basri m nur)

= = = = =

Butuh Bibit Lembu Unggul 

“Memelihara ternak bibit unggul lebih menguntungkan, karena menghabiskan waktu yang sama tapi hasilnya berbeda. Lembu bibit unggul beratnya bisa mencapai 1,2 ton dan laku 45 juta rupiah per ekor”, ujar Rasyidi.

Selama ini, Rasyidi hanya memelihara dan mengembangkan lembu lokal (leumo Aceh). Sementara untuk lembu bibit unggul nyaris tidak ada. Padahal memelihara lembu bibit unggul jauh lebih menguntungkan secara ekonomi.

“Dari 400 ekor lembu yang saya pelihara hampir tidak ada dari bibit unggul. Pada tahun 2013 sempat ada dua ekor lembu jantan jenis “Simental” tapi ukuran sudah mencapai target lalu keduanya saya jual dengan harga Rp 90 juta”, ungkap Rasyidi.

Sebelum dijual, Rasyidi sempat mengawinkan lembu jantan “Simental” itu dengan betina Aceh. “Perkawinan silang ini menghasilkan anak yang lumayan besar meskipun tidak sebesar ayahnya”, katanya sambil menunjuk anak lembu hasil perkawinan silang itu.

Rasyidi sangat membutuhkan bibit lembu unggul seperti Simental, Bhrahma atau Limousine. Bibit-bibit unggul ini lebih menguntungkan bagi peternak, karena menghabiskan waktu pemeliharaan yang sama tapi harga harga jual sangat jauh berbeda.

“Sebagai contoh, lembu jenis Simental usia 3-4 tahun bisa dijual dengan harga Rp 25-45 juta. Sementara kalau bibit lokal untuk masa yang sama hanya laku sekitar Rp 15-20 juta. Jadi, bibit unggul jelas lebih menguntungkan dari segi ekonomi,” katanya seraya mengharapkan bantuan pihak terkait untuk membantunya dalam mengembangkan bibit unggul. (hasan basri m nur)

= = = = = =

Bantu Masyarakat Miskin

“Alhamdulillah, ada 20 KK yang ikut saya bina melalui usaha ternak lembu dengan sistem mawah (bagi hasil, red). Saat ini, di tangan mereka ada sekitar 5-20 ekor lembu per KK,” kata Rasyidi.

Keberadaan Rasyidi dengan ratusan ternak lembu dan kerbau membawa hikmah bagi penduduk sekitar. Dia tidak hanya mengutamakan diri sendiri dalam bisnis ini, tapi ikut membantu masyarakat sekitar, terutama dari golongan miskin. Sekitar 200 ekor lembu miliknya dititip pada masyarakat untuk dipelihara.

Alhamdulillah, ada 20 KK yang ikut saya bina melalui usaha ternak lembu dengan sistem mawah (bagi hasil, red). Saat ini, di tangan mereka ada sekitar 5-20 ekor lembu per KK. Setelah lembunya besar akan saya beli kembali atau dijual ke pasar dan hasilnya dibagi dua,” ungkap Rasyidi.

Semua itu adalah bagian pekerjaan sosial yang bersifat pribadi yang digerakkan oleh Rasyidi. Ke depan dia punya obsesi dapat membantu masyarakat dalam jumlah lebih besar. Dia berharap agar pemerintah mewujudkannya dengan membentuk kelompok peternak dan menyediakan bibit lembu unggul. “Saya siap menggerakkan masyarakat,” katanya menyakinkan.

Usman, kepala Puskeswan Jeumpheuk, mengatakan, pihaknya pada tahun 2013 sudah  mengajukan proposal ke kementerian untuk pembinaan peternak lembu di kecamatan Sampoiniet. “Tapi hingga kini tak ada jawaban. Melalui proposal itu kami mencoba menghimpun 28 peternak lembu dalam kelompok bersama “Beumeuhase” dengan mengembangkan bibit lembu unggul,” kata Usman dibenarkan Rasyidi.

Usman menambahkan, pihaknya rutin mengadakan penyuluhan ke desa-desa di Kecamatan Sampoiniet dan Darul Hikmah. “Walau hanya tersedia satu sepmor untuk dua kecamatan, tapi kunjungan ke desa-desa tiap minggu kita lakukan. Khusus untuk Rasyidi karena letaknya bersebelahan dengan kantor Puskeswan, kami siap memberikan pelayanan setiap saat,” katanya. (hasan basri m nur)

Dimuat Tabloid Tabangun Aceh milik Bappeda Provinsi Aceh, edisi Oktober 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s