Dakwah di Warkop, Ikrar Syahadah di Masjid Peunayong

Galeri

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengucapkan dua kalimah syahadat?”, tanya saya kepada Rahmat. “Sangat bahagia. Saya bagai terlahir kembali dalam keadaan suci. Hidup baru telah dimulai,” jawab Rahmat mantap. Jumat tanggal 3 Juli 2015 bertepatan 16 Ramadhan 1436 Hijriah menjadi awal … Baca lebih lanjut

Muklimun pun Terbebas dari Derita Gizi Buruk

Muklimun adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara dari pasangan keluarga miskin di Desa Mangeu, Seulimeum. Di usia 2,5 bulan dia menderita gizi buruk dengan berat badan hanya 2,8 kg. Muklimun yang kini berusia 18 bulan dan adiknya yang berusia 2 bulan membutuhkan perhatian ekstra agar dapat berkembang dengan baik.

 

Nasib kurang baik sempat menimpa Muklimun Walidaini (18 bulan). Pada awal tahun 2013 putra ke depalan dari sembilan bersaudara ini ditemukan dalam kondisi kurus kering dan lemah tak berdaya di Desa Mangeu, Kemukiman Tanoh Abee, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar.

Saat itu, putra pasangan Tgk. M. Diah dan Huzaimah (38) ini ditemukan petugas puskesmas Seulimeum dalam kondisi nyaris tanpa daging. Kulitnya nyaris membungkus tulang sang bayi yang kala itu berusia 2,5 bulan. Beruntung Kepala Puskesmas Seulimeum, dr. Syamsyuddin, segera mendatangi rumah sang bayi dan memutuskan untuk membantunya.

“Saat kami temukan umur Muklimun masih berumur 2,5 bulan dan berat badannya hanya 2,8 kilogram,” kata dr. Syamsyuddin yang mendampingi Tabangun Aceh untuk melihat kondisi Muklimun di rumahnya di desa Mangeu, Senin (19/5//2014) petang.

Syamsyuddin menyebutkan, saat itu pihaknya memutuskan untuk merujuk bayi Muklimun ke Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh, dan tidak merawatnya di Puskesmas Seulimeum. Kasus gizi buruk yang menimpa Muklimun tergolong berat, apalagi di usianya 2,5 bulan yang merupakan usia emas pertumbuhan bayi.

            “Alhamdulillah, setelah mendapat perawatan inap selama 1 bulan lebih di RSUZA, kondisi Muklimun perlahan memperlihatkan kondisi yang positif. Berat badannya mulai bertambah. Akhirnya ia dibenarkan pulang dan hanya butuh rawat jalan ke puskesmas serta pemberian susu secara rutin,” ujar Syamsyuddin dibernarkan ibu Muklimun, Huzaimah.

            “Sekarang kondisi Muklimun sudah tidak lagi tergolong gizi buruk. Berat badannya sudah mencapai 7 kilogram dan sedang belajar berjalan. Meski begitu, Muklimun tetap membutuhkan makanan bergizi agar kondisinya terus membaik dan berat badannya tidak lagi menurun seperti tahun lalu,” pesan Syamsyuddin sambil memperlihatkan betis Muklimun yang mulai berisi.

Keluarga miskin

            Pasangan Tgk. M.Diah dan Huzaimah tergolong keluarga miskin. Pasangan ini menggantungkan hidup dari usaha tani padi. Kondisi rumah mereka sangat sederhana, terbuat dari papan setengah lapuk. Rumah itu hanya memiliki 1 kamar tidur, sementara penghuninya mencapai 11 orang; terdiri dari ayah, ibu, dan 9 orang anak yang semuanya laki-laki.

            Muklimun adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara. Anak pertama masih duduk di kelas 2 SMP, sementara adik dari Muklimun masih berusia 2 bulan. Muklimun yang berusia 18 bulan serta adiknya yang berusia 2 bulan tentu membutuhkan perhatian ekstra agar dapat berkembang dengan baik.

Selain berprofesi sabagai petani padi, Tgk. M. Diah juga membuka balai pengajian untuk anak-anak setempat. Kepala pihak yang memiliki kelebihan harta dan hendak menyalurkan bantuan, keluarga ini patut menjadi pertimbangan. Semoga! (hasan basri m nur)

 

Rp 5 Juta Per KK di Brunei Darussalam

“Khusus kepada pegawai negara yang sudah bekerja 15 tahun akan mendapatkan tiket haji gratis dari kerajaan,” kata Irma.

BRUNEI Darussalam merupakan negara kecil berbentuk monarki di Pulau Borneo (Kalimantan). Negeri bependuduk 450 ribu jiwa ini merdeka dari Inggris tahun 1984 dan dipimpin oleh Sultan Hasanul Bolkiah (68). Brunei mengandalkan minyak dan gas (migas) sebagai pendapatan utama negaranya.

Sikap raja yang adil membuat penduduk negeri aman, tenang, sejahtera, dan semuanya mempunyai pendapatan tetap. Malah setiap warga negara yang berusia di atas 60 tahun diberikan “gaji tua” oleh negara sebesar $ 250 Brunei. Ini artinya, jika 1 kepala keluarga (KK) terdiri atas suami istri, maka mereka akan mendapatkan $ 500.

Nilai tukar dolar Brunei ke rupiah saat kami tukarkan di Bandara International Bandar Seri Begawai pada Sabtu (28/12) adalah 9.830. Ini bermakna, setiap KK akan memperoleh gaji bulanan sekitar Rp 5 juta. Subsidi bulanan untuk warga negara lansia ini disebut “gaji tua”.

Setiap pasangan suami istri yang sudah berusia 60 tahun secara otomatis akan mendapatkan 500 dolar gaji tua dari kerajaan. Gaji ini ditransfer langsung ke rekening atau disalurkan melalui kepala kampung di desa masing-masing. “Uang ini diterima utuh, tak ada pemotongan apa pun,” kata Irma Yusran Syafei (41), pegawai alat Kebesaran Diraja (sejenis Museum Kerajaan), Minggu (30/12). Pengakuan yang sama juga diungkapkan tokoh Aceh yang sudah 25 tahun menetap di Brunei, Drs Tgk H Ismuhadi (50).

Tidak hanya kepada “warga negara emas”, kerajaan juga memberikan biaya jaminan biaya hidup kepada masyarakat penyandang disabilitas (orang cacat). “Kepada orang cacat yang tak bisa bekerja secara normal juga diberikan tunjungan 250 dolar setiap bulannya,” ujar Irma yang mengaku hanya menamatkan SMA dan bergaji sekitar Rp 11 juta.

Total gaji sebesar itu berasal dari berbagai sumber, termasuk subsidi khusus dari Sultan Bolkiah sebesar $ 340 per bulan untuk setiap pegawai pemerintah. “Khusus kepada pegawai negara yang sudah bekerja 15 tahun akan mendapatkan tiket haji gratis dari kerajaan,” kata Irma.

Adapun biaya berobat, diberikan pelayanan cuma-cuma. “Untuk biaya berobat kami hanya perlu membayar biaya registrasi sebesar 1 dolar. Selebihnya ditanggung kerajaan dan kami akan mendapatkan semua layanan medis yang memuaskan. Sedangkan untuk biaya pendidikan anak-anak mulai SD sampai SMA cukup membayar 5 dolar per tahun,” sambung Irma yang mengaku sudah memiliki rumah dan mobil dari hasil kerjanya itu.

Pendapatan negara dari migas dan sikap pemimpin yang peduli rakyat membuat penduduk Brunei hidup sejahtera dan tidak muncul gejolak sosial. Jalan-jalan di Brunei dipenuhi mobil mewah, nyaris tidak terlihat sepeda motor dan pejalan kaki, apalagi pengemis dan juru parkir yang “prat-prit” di sana-sini. Jalanannya sangat tertib, tidak pernah terdengar bunyi klakson, dan aksi nekat penerobos lalu lintas.

Warga Brunei juga terbiasa bolak-balik ke Malaysia, Singapura, Jakarta, Inggris, dan Australia. Ini ditandai dengan jadwal penerbangan ke sana yang padat untuk negara mini berpenduduk setara Banda Aceh.

Karena merasa nyaman dan kenyang, warga pun tak pernah mempertanyakan bentuk negaranya yang monarki itu. Mereka enjoy dan tampak patuh pada pemimpin mereka. Duh, kapan ya Aceh yang juga sempat kaya migas dan kabarnya sudah menerapkan self-goverment (otonomi khusus?) bisa makmur seperti Brunei Darussalam dan setiap KK benar-benar mendapatkan santunan bulanan dari penguasa negeri? Wallahu’alam. 

Tulisan ini dimuat di Rubrik Citizen Reporter Harian Serambi Indonesia, edisi 31 Desember 2013.

http://aceh.tribunnews.com/2013/12/31/rp-5-jutakk-di-brunei-darussalam

Gambar

Tips Sukses Menjadi Anggota Legislatif

Gambar

Tips Sukses Menjadi Anggota Legislatif

Banyak orang tidak punya persiapan maju dalam bursa caleg. Habis uang, waktu, pikiran, tapi hasilnya nihil, bahkan dapat berujung masuk RSJ. Untuk mengantisipasi hal itu, ada baiknya dibaca buku ini: PARNAS Vs PARLOK (Pertarungan Partai Poliltik dalam Menguasai Aceh), yang segera terbit pada pertengahan Februari 2014.
Buku terbitan GAMNA Publishing ini dan dipasarkan melalui toko buku Zikra ini, mengulas tuntas fungsi parpol, fungsi politisi di parlemen, serta TIPS sukses menjadi anggota legislatif.

Pengumuman Sayembara Menulis “Harapan Rakyat Aceh pada Parpol”

Galeri

Usai bedah dan peluncuran di Banda Aceh, buku ini direncanakan dibedah di beberapa kampus di kabupaten/kota di Aceh, sehingga gagasan-gagasan dalam buku ini tersosialisasi ke seluruh Aceh. Gema Aneuk Muda Nanggroe Aceh (GAMNA), pada Kamis (19/12/2013), menetapkan 6 tulisan sebagai … Baca lebih lanjut

Pohon Menyerupai Masjid

Gambar

Pohon Menyerupai Masjid

Ada pohon yang daun dan rantingnya tersusun mirip kubah masjid yang terletak di sampingnya. Adakah ini sebagai pertanda seruan dari tumbuhan kepada manusia untuk memakmurkan masjid?
Pohon dalam foto ini terdapat di Desa Raket, Kemukiman Buloh Seuma, Kec. Trumon, Kab. Aceh Selatan, diabadikan Jumat (4/10/2013).
Buloh Seuma adalah daerah paling terisolir di Aceh Selatan. Selama puluhan tahun daerah ini hanya dapat dijangkau oleh boat walau letaknya tak terpisahkan dari Pulau Sumatera.