Mengantar Dolar ke Tanah Gayo

Gambar

       Jarum jam tangan menunjukkan angka 11.05 WIB. Seorang petugas keamanan dengan sigap membuka portal dan menyapa kami sembari menayakan keperluan. Setelah mengetahui identitas kami, dengan ramah petugas keamanan mempersilahkan kami untuk parkir dan masuk ke gedung yang terbentang luas di jalan raya Takengon – Isaq, Pegasing, Aceh Tengah, itu.

Gedung itu terletak di lahan seluas 20.000 meter. Orang-orang dengan badge berlogo Koperasi Baburrayyan di dadanya tampak lalu lalang dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Belasan orang kulit putih, mata biru dan rambut pirang tampak hilir mudik dan keluar masuk ruangan. Orang-orang asing itu membawa mata uang dolar untuk setiap transaksi kopi Arabica dari Tanah Gayo.

“Mereka adalah personil dari lembaga sertifikasi mutu kopi. Sebagian lagi adalah pelaku bisnis yang mau mengirimkan kopi gayo ke negaranya,” ujar Armiadi, S.Hut, Sekretaris Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayyan kepada Tabangun Aceh yang ditemui di ruang kerjanya, Jumat (16/11/2012).

KBQ Baburrayyan memiliki anggota sebanyak 7.478 Kepala Keluarga (KK). Sementara karyawan tetap yang bekerja di KBQ Baburrayyan sebanyak 441 orang. Ibarat perusahaan besar, jumlah gaji yang dikeluarkan untuk para karyawan mencapai Rp. 3,5 miliar lebih per tahun. Keberadaan koperasi ini tentu sangat signifikan dalam mengurangi pengangguran dan menekan angka kemiskinan di tanah Gayo.

Untuk tahun 2012, Koperesi Baburrayyan menargetkan produksi 4.300.773 ton kopi, yang diproduksi oleh 6.150 orang petani. “Kopi produksi Koperasi Baburrayyan diekspor ke USA, Australia, Canada, Inggris, Singapore, Mexico dan New Zealand,” ujar Armiadi.

Senada dengan Armiadi, Ir Jumhur dari Koperasi Serba Usaha (KSU) Permata Gayo Bener Meriah juga membina petani kopi dan mengirimkan produksi kopi ke mancanegara. “KSU Permata Gayo yang berdiri sejak 2006 memiliki 3.089 KK binaan. Setiap KK memiliki 1 sampai 1,5 hektare kebun kopi. Setiap hektar menghasilkan sekitar 700 kg kopi per musim,” ungkap Jumhur.

“Jika harga kopi stabil, harga beli dari petani mencapai Rp. 50 ribu/kg. Sementara harga ekspor mencapai Rp 60.000/kg untuk kopi kategori green bean Arabica. Ini artinya setiap KK yang memiliki lahan 1 hekate lahan kopi punya penghasilan minimal Rp 35 juta/tahun. Ini belum termasuk usaha sampingan lain seperti kentang, kol atau cabe,” sambung Jumhur yang menjabat sebagai Manager Sertifikasi KSU Permata Gayo.

Dia menambahkan, kopi produksi KSU Permata Gayo telah melewati uji laboratorium dan memenuhi kriteria yang ditetapkan badan sertifikasi kopi. “Kopi bersertifikat harganya lebih tinggi dibanding kopi konvensional hingga 30 cent/kg. Setiap transaksi dengan pihak asing kami memakai mata uang dolar Amerika Serikat,” katanya sembari menjelaskan ada tiga jenis sertifikasi kopi yaitu organic, fair-trade, dan rainforest.

Baik Koperasi Baburrayyan maupun Koperasi Permata Gayo selama ini melakukan ekspor melalui Pelabuhan Belawan Medan. “Di Belawan fasilitasnya lebih lengkap. Seandainya di Krueng Geukueh ada fasilitas lengkap meliputi pergudangan, kapal, crane, cukai dan perbankan tentu kami lebih tertarik melakukan ekspor via Krueng Geukeuh karena bisa menghemat biaya mobilisasi darat,” sambung Jumhur.

Jumhur mengusulkan agar pemerintah dalam pembangunan pelabuhan melibatkan pihak pengusaha. Mereka juga meminta agar pemerintah mendata jumlah pengusaha yang rutin melakukan ekspor barang dari Aceh ke luar negeri. “Dengan adanya data ini kita dapat memetakan kebutuhan ukuran kapal, dan menetapkan jadwal tetap sehingga tidak mengeluh tidak ada barang yang mau diangkut,” kata Jumhur.

Sementara Armiadi memandang kebutuhan yang sangat mendesak saat ini adalah pelabuhan darat atau dry port. Dry port dimaksud adalah adanya fasilitas kepabeanan yang ditempatkan di derah produksi dan barang-barang yang telah diperiksa di dry port itu dapat langsung dikirim ke negara tujuan dengan perusahaan cargo manapun dan tidak butuh pemekriksaan lagi.

Gambar

= = = =

Tanah Gayo identik dengan hasil perkebunan kopi. Hampir seluruh penduduk dataran tinggi Gayo memiliki kebun kopi. Ekonomi tanah Gayo terutama Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah sangat tergantung pada hasil perkebunan kopi. Produksi kopi yang memang digemari hampir separuh penduduk bumi ikut memakmurkan penduduk wilayah tengah Aceh.

Kopi Gayo sudah sejak lama dikenal di luar negeri. Sekitar 4 persen kebutuhan kopi dunia berasal dari tanah Gayo. Tidak diketahui pasti berapa volume ekspor kopi asal Gayo ke luar negeri. Ada pelaku bisnis yang melakukan ekspor kopi secara mandiri ke luar negeri, ada pula yang mengorganisir para petani kopi melalui Koperasi seperti yang dilakukan oleh KSU Permata Gayo, KBQ Baburrayyan dan KSU Gayo Lingge Organic Coffee. Ketiga koperasi ini membina belasan ribu KK petani kopi. Kopi produksi koperasi ini secara rutin dikirim ke luar negeri melalui Pelabuhan Belawan Sumut. [Gambar

 

Iklan